Memakmurkan Masjid

724
Pesona Indonesia

Dalam perspektif Islam masjid adalah tempat suci bagi kaum muslimin untuk beribadah kepada Allah SWT. Ditinjau dari segi etimologi, masjid berasal dari bahasa Arab, yaitu isim makan (kata benda yang menunjukkan tempat) dari kata sajada-yasjudu-sajidun wa masjadun. Sujud mengandung arti taat, patuh, dan tunduk dengan hormat. Makna-makna ini diekspresikan secara lahiriahnya dalam bentuk meletakkan dahi, kedua tangan, lutut, dan kaki ke bumi. Tempat yang dibangun khusus untuk melakukan sujud seperti ini secara rutinitas disebut dengan masjid.

Kedudukan masjid bagian yang tak terpisahkan dari manifestasi keimanan seorang hamba kepada Allah SWT. Sebab tidak dikatakan keimanan yang sempurna tanpa ada amal ibadah, sedangkan salah satu amal ibadah yang pokok (ibadah mahdoh) adalah mendirikan salat di masjid. Eksistensi masjid juga bukan hanya sebatas tempat ibadah salat fardhu berjama’ah tetapi dapat difungsikan lebih luas sebagai basis syiar dakwah Islam, proses belajar mengajar ilmu tsaqofah Islam, majelis zikir, tempat bermusyawarah, menumbuhkan perekonomian umat dan sarana mempererat ukhwah Islam.

Menilik sejarah perjuangan dakwah Rasulullah SAW setelah berhijrah dari Mekkah ke Madinah adalah membangun masjid. Pembangunan masjid yang pertama kali didirikan oleh Rasulullah SAW adalah masjid Quba dan masjid Nabawi di Madinah pada tahun pertama Hijriyah. Bermula dari Masjid Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum muslimin dari kalangan muhajirin dan anshar serta dijadikan tonggak awal untuk membangun peradaban Islam.

Makna Memakmurkan Masjid
Kecintaan orang-orang beriman kepada Allah SWT tidak terlepas dengan kecintaan dan kerinduan mereka terhadap rumah Allah SWT yaitu masjid. Mencintai masjid dikenal didalam Al-quran dengan sebutan memakmurkan masjid. Makna memakmurkan masjid adalah menetapinya untuk melaksanakan ibadah di dalamnya dalam rangka mencari keridhaan-Nya, misalnya salat, berdzikir kepada Allah SWT dan mempelajari ilmu agama. Juga termasuk maknanya adalah membangun masjid, menjaga dan memeliharanya.( Kitab Aisarut tafasir juz 2 hal 66). Maka hakikat memakmurkan masjid adalah mencakup semua amal ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT yang diperintahkan atau dianjurkan dalam Islam untuk dilaksanakan di masjid.

Allah SWT berfirman, Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS.At-Taubah: 18).
Al-imam Ibnu Katsir rahimahullahu menafsirkan ayat diatas, Untuk itu Allah berfirman: inna maa ya’muru masaajidallaaHi man aamana billaaHi wal yaumil aakhiri (yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir).

Allah menyatakan, bahwa orang-orang yang memakmurkan masjid adalah orang-orang yang beriman, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ahmad, dari Abu Sa’id al-Khudri, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Jika kamu melihat seseorang terbiasa pergi ke masjid, maka saksikanlah bahwa dia beriman. Allah berfirman: yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Ibnu Mardawaih al-Hakim dalam Mustadraknya. Dan firman-Nya: wa aqaamash shalaata (Dan mendirikan salat.) Yakni yang merupakan ibadah badaniyah yang paling agung; wa aataz zakaata (Dan mengeluarkan zakat.) Yakni, yang merupakan amal perbuatan yang paling utama di antara amal perbuatan yang bermanfaat bagi makhluk lain.

Dan firman-Nya: wa lam yakhsya illallaaHa (Dan tidak takut selain kepada Allah) Yakni, tidak merasa takut kecuali kepada Allah saja, dan tidak ada sesuatu yang lain yang ia takuti. Fa ‘asaa ulaa-ika ay yakuunuu minal muHtadiin (Maka merekalah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat pentunjuk. Allah berfirman, bahwa merekalah orang-orang yang beruntung, seperti firman-Nya kepada Nabi-Nya, yang artinya: Mudah-mudahan Rabbmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.(QS. Al-Isra’: 79). Yaitu syafa’at. Setiap kata ‘asaa di dalam al-Qur’an yang bermakna harapan adalah bermaksud kewajiban (keharusan).(Tafsir Ibnu Katsir Juz 10 hal 160 – 161).

Upaya Memakmurkan Masjid
Kecintaan terhadap masjid sebagai rumah Allah SWT wajib dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Diantara upaya yang dapat dilakukan untuk memakmurkan masjid adalah : 1. Meluruskan niat ikhlas semata-mata mengharapkan ridho Allah SWT dalam membangun masjid disetiap lingkungan kaum muslimin. 2. Mendirikan salat fardhu berjama’ah dengan menyerukan kepada setiap anggota keluarga kaum muslimin baik orang tua maupun anak-anak yang berdomisili disekitar masjid. 3. Memilih pengurus masjid yang amanah dan profesional sehingga mampu mengelola masjid dengan baik. 4. Memilih dan mengangkat imam masjid yang memenuhi syarat-syarat menjadi imam. 5. Membuat program kajian majelis ilmu yang terencana sehingga mampu membekali diri para jama’ah masjid dengan dasar-dasar ilmu agama yang cukup baik dalam perkara aqidah Islam, ibadah, akhlaq, muamalah hingga siyasah.

6. Menyelenggarakan lembaga pendidikan bagi anak-anak (TPA). 7. Membangun komunikasi yang efektif antara pengurus masjid bersama jama’ah masjid sehingga terjalin ukhwah Islam yang harmonis. 8. Mengelola uang zakat, infaq, sedekah dan wakaf secara amanah dan transparan. 9. Bekerja sama dan berkoordinasi dengan pengurus masjid yang terdapat disekitarnya untuk memakmurkan masjid secara bersama-sama melalui agenda dakwah amar makruf dan nahyi mungkar. 10. Bermusyawarah untuk meningkatkan kemakmuran masjid baik dari aspek sarana, prasarana dan peningkatan kualitas dan kuantitas jama’ah masjid.

Penutup
Masjid merupakan tempat yang mulia dan suci sehingga siapa saja diantara orang-orang beriman yang memakmurkannya maka ia akan mendapatkan balasan yang mulia disisi Allah SWT. Upaya untuk memakmurkan masjid jauh lebih sulit dari pada membangun fisik masjid. Memakmurkan masjid dibutuhkan keikhlasan, kesabaran dan keistiqomahan baik oleh pengurus masjid maupun jama’ah masjid.

Sebagai motivasi bagi kita bersama untuk senantiasa mencintai dan memakmurkan masjid terdapat sebuah hadist shahih Rasulullah SAW bersabda, “Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari kiamat yang tiada naungan kecuali naungan-Nya yaitu: Pemimpin yang adil, remaja yang senantiasa beribadah kepada Allah ta’alaa, seseorang yang senantiasa hatinya dipertautkan dengan masjid, dua orang yang saling cinta mencintai karena Allah dimana keduanya berkumpul dan berpisah karena-Nya, seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh wanita bangsawan lagi rupawan, lalu menjawab: sesungguhnya saya takut kepada Allah, seseorang yang mengeluarkan shadakah kemudian ia merahasiakannya sampai-sampai tangan kiri tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang berdzikir kepada Allah di tempat yang sunyi kemudian kedua matanya meneteskan air mata”. (HR.Bukhari dan Muslim). Wallahu a’lam. ***

Tommy-Abdillah

Respon Anda?

komentar