Pulau Mensanak 90 Persen sudah Terjual untuk Tambang

1204
Pesona Indonesia
Pantai Pulau Mensanak yang indah. foto:hasbi/batampos
Pantai Pulau Mensanak yang indah. foto:hasbi/batampos

batampos.co.id – Gembar-gembor pertambangan bauksit tahun 2009 lalu di Kabupaten Lingga, membuat warga Pulau Mensanak, Kecamatan Senayang, tergiur menjual lahan. Apatah lagi iming-iming harga tanah dan uang ratusan juta rupiah membuat warga tanpa pikir panjang menjual hampir 90 persen lahan Pulau Mensanak.

Hal tersebut, membuat hak masyarakat hilang. Warga kini tidak lagi punya lahan-lahan yang dulunya dijadikan sebagai kebun dengan tanaman masyarakat. Baik karet, kelapa, cengkeh dan cempedak. Sementara lahan, sudah habis terjual kepada salah seorang pengusaha. Sedang rencana tambang bauksit yang dijanjikan, juga kini tidak digarap dan menjadi lahan tidur akibat terkendala izin saat ini.

“Lahan sudah 90 persenlah yang dijual sama pengusaha. Hanya pemukiman masyarakat yang tidak, sisanya adalah lagi 10 persen,” ungkap Zam, salah seorang warga, Kamis (5/5).

Dikatakannya saat penjualan lahan terjadi, ada sejumlah broker dari orang-orang di desa yang menjadi penyambung lidah kepada masyarakat. Satu meter tanah di hargai Rp 1.600 dengan sistem sewa pakai yang membuat warga setuju. Namun dikemudian hari, setelah semua pembayaran yang dilakukan bertahap selesai, sistem sewa pakai yang ingin diperjelas warga malah dikatakan tidak berlaku lagi. Pengusaha berkesimpulan telah membeli secara utuh lahan masyarakat.

“Ya warga sudah terima uangnya. Pernah kita tanya, tapi dijawab kalau tanah sudah dibeli habis. Awalnya dijual Rp 1.600 karena sistemnya sewa pakai. Kalau beli habis, permeternya dijanjikan Rp 5000. Karena warga sudah terima uangnya, menandatangani surat jual beli, mau jawab apalagi. Lahan sudah milik pengusaha,” tambahnya.

Sementara itu, ada juga warga lainnya yang memilih untuk tidak menjual lahan. Karena tahu apa yang akan terjadi jika gegabah dan bekerjasama dengan pengusaha tambang. Terlebih lagi, Mensanak adalah desa dengan semua warganya bekerja sebagai nelayan.

“Tambang hanya akan merusak lingkungan, sumber air, hutan penyangga, resapan dan juga bisa lebih parah mengancam nasib kami nelayan akibat pencemaran laut,” sambung warga lainnya yang tidak mau namanya dikorankan.

Walaupun begitu, desa yang baru dimekarkan 10 tahun terakhir ini, menurut salah seorang warga diawal bulan April, melalui pemerintah desanya juga kembali menawarkan kepada masyarakat yang ingin menjual lahan. “Padahal pulau ini punya potensi peternakan dan perkebunan. Kalau besok ditambang, pemukiman warga yang tanahnya juga dijual tentu digusur. Pasti akan terjadi gejolak di sini,” tambahnya.

Padahal, di lain kesempatan beberapa waktu lalu Bupati Lingga, Alias Wello, yang baru dua bulan menjabat gencar mengingatkan warga maupun desa agar tidak menjual lahan. Lahan-lahan yang ada, kata Awe- panggilan akrabnya- lebih menguntungkan jika dikelola dengan pertanian dan peternakan. Namun, persoalan 2009 di Mensanak, yang terjadi bukan dijaman pemerintahannya ini telah mengambil hak-hak masyarakat.

“Masyarakat dan kepala desa jangan berani-berani menjual lahan,” wanti-wanti Awe agar warga kabupaten Lingga tidak terjebak dengan persoalan lahan beberapa waktu lalu. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar