Gajah Mina Terancam Punah, Tulang Belulang Sering Ditemukan di Pantai

1746
Pesona Indonesia
Masyarakat menemukan bangkai gajah mina di perairan Pulau Subi, Natuna. foto:antarakepri
Masyarakat menemukan bangkai gajah mina di perairan Pulau Subi, Natuna. foto:antarakepri

batampos.co.id – Gajah mina yang masuk dalam katagori hewan purba, sering ditemukan mati terdampar di pantai Natuna. Belum diketahui penyebab hewan laut langka ini setiap tahun semakin sering ditemukan mati terdampar.

Ketua LSM Lembaga Kajian Sejarah (Lekas) yang juga Ketua Museum Sri Serindit Natuna Zaharudin menyatakan, gajah mina atau gajah laut merupakan hewan purba, panjangnya bisa mencapai 20 meter.

Sebutan gajah mina, kata Zaharudin, karena memiliki gading. Sehingga dugaan hewan langka bisa menjadi buruan, karena memiliki nilai ekonomis oleh kalangan tertentu. Sangat berbeda, jika dibilang ikan paus.

“Gajah mina, adalah hewan yang punya gading, kulitnya tidak seperti ikan. Tapi juga dipenuhi bulu-bulu halus. Gajah mina beda dengan (ikan) paus,” kata Zaharudin, Jumat (6/5).

Diakuinya, beberapa penemuan menurutnya kerap menarik perhatian di beberapa pulau yang ada di Natuna, kendati itu sudah menjadi tulang belulang.

“Nelayan paling takut jika jumpa Gajah Mina ini dilaut. Banyak yang mengaitkan mitos dengan kesialan, mengingat hewan ini sangat langka,” ungkap Zaharudin.

Seperti yang ditemukan warga Kecamatan Serasan baru-baru ini. Bangkai gajah laut ditemukan terseret arus ke pantai, menjadi perhatian.

Kapolsek Serasan, AKP Benhur Gultom mengatakan hal ini benar-benar menarik hati. Ternyata laut Serasan menyimpan binatang sangat langka di dunia. Tulang belulang yang dirangkai bisa sepanjang 20 meter itu cukup menarik untuk diteliti.

“Sepertinya perlu diteliti oleh para mahasiswa, memang sepertinya sangat langka. Siapa tahu bisa jadi ikon Natuna. Dari info masyarakat masih ada yang sering muncul di Serasan,” kata Gultom.

Sebelumnya, gajah mina atau gajah laut juga ditemukan membusuk disekitar Pantai Sengiap Desa Pengadah, dan paling sering ditemukan warga di pesisir Pantai Kelarik. Diduga kuat, hewan langka ini mati karena kondisi alam dan terkena jeratan jaring nelayan. Hewan ini sering muncul di permukaan pada waktu tertentu.

Namun pada umumnya hidup di perairan dalam. Beberapa peneliti sebelumnya pernah mengkaji keberadaan gajah laut ini di Natuna, dan usianya mencapai ratusan tahun.(arn/bpos)

Respon Anda?

komentar