Qiwi Lestarikan Kesenian Melayu Lewat Lagu Ciptaannya

648
Pesona Indonesia
 Fitria Dewi alias Qiwi. foto: tri haryono/batampos
Fitria Dewi alias Qiwi. foto: tri haryono/batampos

batampos.co.id – Cukup banyak upaya yang bisa dilakukan untuk ikut melestarikan kesenian Melayu. Salah satunya seperti yang dilakukan Fitria Dewi atau yang biasa dipanggil Qiwi lewat musik.

Musisi dan pencipta lagu asal Bukit Siamban, Kelurahan Gading Sari, Kecamatan Kundur ini, berhasil meroketkan namanya di blantika musik di Bumi Berazam lewat lagu “Dare Telajak”. Lagu bergenre Melayu, kini menjadi lagu favorit saat dirinya manggung. Baik diacara resmi maupun hajatan.

Dengan aransemen campuran pop dan dangdut, lagu Dare Telajak mampu memikat pendengar lagu-lagu Melayu di Kabupaten Karimun. Tak heran kini banyak yang merequest lagu tersebut.

Qiwi yang ditemui di Tanjungbalai Karimun mengaku, aransemen lagu Dare Telajak hanya menggunakan alat keyboard. Lagu tersebut terinsiprasi tatkala dirinya usai manggung sekitar tahun 2014 silam. Saat itu ia punya keinginan ikut melestarikan budaya Melayu lewat musik.

”Saya ingin melestarikan lagu-lagu Melayu lah Bang. Kan dapat didaur ulang, selain menciptakan lagu baru. Seperti Gundah bergenre rock, lagu Sehelai Baju berirama dangdut, dan lagu berjudul Jangan Ukur Cintaku bercorak alternatif. Selain itu, ada beberapa lagu yang masih dalam bentuk aransemen musik,” ungkap Qiwi, Jumat (6/5).

Ia pun mengisahkan, karya seni yang diciptakan secara otodidak. Namun, hobi dan keinginan begitu besar untuk ikut melestarikan lagu Melayu. Dengan alat-alat musik yang terbatas, akhirnya terciptalah lagu-lagu yang bernuansa Melayu. Dan sering dinyanyikan di beberapa pentas musik seperti, pesta pernikahan, sunatan, maupun di tingkat Kabupaten Karimun.

”Karena hobilah. Maklum, sayakan tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah musik. Mudah-mudahan, melalui media massa ini karya-karya saya dapat dilirik dan masuk dapur rekaman,” harapnya.

Terakhir ia berpesan kepada anak-anak muda Karimun, agar bisa berkarya dibidang apa saja. Jangan menjadi penonton di kampung halaman. Sebab, zaman sekarang semua serba mudah tinggal bagaimana memanfaatkan peralatan tersebut agar dapat menghasilkan karya seni yang berharga dan bermanfaat bagi masyarakat.

”Saya juga berharap agar Pemda Karimun, berilah porsi yang sedikit kepada para seniman Karimun. Artinya, diadakan even-even di tingkat Kabupaten untuk memberikan kesempatan hasil kreativitas anak muda di Karimun,” kata Qiwi lagi. (tri/bpos)

Respon Anda?

komentar