Reuni Alumni SMA 1 Tanjungpinang, Rayakan Ultah 60 Tahun Sekolah Mereka

3898
Pesona Indonesia
SMAN 1 Tanjungpinang tempo dulu. dok. Pribadi Aswandi Syahri
SMAN 1 Tanjungpinang tempo dulu. dok. Pribadi Aswandi Syahri

batampos.co.id – Ape ‘nak jadi, ketika ribuan lulusan SMA Negeri 1 Tanjungpinang dari tahun 1955-2015 berkumpul untuk merayakan 60 tahun hari jadi sekolah mereka?

Amartina (53) menyeret dua karung besar ke dalam ruang tamu. Kata ibu dua anak ini, isinya 150 kaus kerah berwarna kuning cerah. Tidak. Perempuan bernama lengkap Amartina Wahyuningdiah ini sedang tidak berjualan baju. “Ini kaus buat reuni,” terangnya.

Selama akhir pekan panjang ini memang sedang ada gawai besar. Tajuknya Reuni Akbar 60 Tahun Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Tanjungpinang. Amartina sendiri merupakan lulusan tahun 1982. Ia masuk dalam bagian susunan panitia seangkatannya yang kedapatan tugas mengurus kaus yang akan digunakan teman-temannya semasa putih abu-abu.

Tangan Amartina cekatan mencatat ukuran kaus sesuai dengan tubuh teman-temannya. Sesekali, ditingkahi tawa lepas. Ingatannya coba meraba kondisi fisik teman-temannya yang puluhan tahun sudah tidak berjumpa. “Dulu dia itu kurus, tapi tak tahu lagi sekarang,” gumamnya lalu tertawa.

Gawai di meja juga tidak berhenti berbunyi. Notifikasi silih berganti dari grup teman-teman seangkatan. Amartina menanyai temannya yang dari tadi sedang diingat-ingat. “Oalah. Sekarang pakai XL ya. Kalau M sudah tidak muat lagi,” tulis Amartina dalam kolom percakapan.

Kepada Batam Pos, Amartina menuturkan, Angkatan 82 sudah tidak sabar menanti hari perjumpaan dengan teman-teman. Ada kangen yang sukar diurai kata-kata. Ada cerita-cerita yang berdesakan dalam kepala. Semuanya itu menumpuk dan akan tumpah-ruah pada reuni yang dibuka Jumat (6/5) pagi ini di halaman SMA Negeri 1 Tanjungpinang di Jalan Kampung Baru.

“Bahkan ada teman yang jauh dari Kalimantan sampai menyempatkan diri datang. Belum lagi dari luar kota yang lain,” ungkap Amartina.

Keriuhan Kota Tanjungpinang sempena Reuni Akbar 60 Tahun Smansa ini sejatinya sudah terasa sejak Rabu (4/5) petang lalu. Pelabuhan, kedai kopi, hingga pujasera sudah dipadati wajah-wajah yang lama tidak terlihat. Utamanya tempat-tempat yang pernah jadi favoit untuk kongko-kongko. Mereka adalah orang-orang yang kadung melangut percakapan tentang memori kejayaan di masa muda. Tawanya terdengar mengikik penuh derai. Kisah tak putus-putus. Setiap orang berebut panggung untuk mengais-ngais kenangan suka dan duka selama duduk di bangku sekolah.

Jumlah peserta reuni akbar yang sudah menyatakan diri untuk hadir juga tidak sedikit. Ketua Panitia Pelaksana, Profesor Syafsir Akhlus menyebutkan, laporan terakhir yang sampai padanya telah tiba 3.000 lulusan SMA Negeri 1 Tanjungpinang dari pelbagai tahun angkatan. “Tapi, saya yakin jumlah itu lebih,” ungkap lulusan tahun 1979 ini.

Akhlus menjelaskan, reuni akbar sekolahnya ini digelar tiap satu dasawarsa. Bila di tahun 2006 silam, kata dia, tidak semua lulusan diundang. Tapi, khusus di tahun 2016 ini, dari angkatan 1955 hingga 2015 mendapatkan undangan untuk berpartisipasi. Dengan jumlah kunjungan dari luar daerah mencapai ribuan, tak heran pula hotel-hotel di Tanjungpinang padat terisi. “Ini yang membuat reuni akbar tahun ini begitu dinanti banyak orang,” katanya antusias.

Dengan catatan jumlah peserta yang hadir melampaui target yang dicanangkan, terbersit dalam benak Akhlus bahwasanya kegiatan semacam ini sebenarnya bisa dilirik sebagai peluang dalam kerja-kerja pemerintahan. “Kok bisa? Ya iya dong. Kalau ada 3.000 peserta reuni yang datang ke Tanjungpinang, coba dihitung berapa satu orang menghabiskan uangnya selama tiga hari di sini?” kata Rektor UMRAH Tanjungpinang ini.

Selama dua hari terakhir, hotel-hotel penuh. Restoran dan rumah makan disesaki pelanggan. Pasar dan kios oleh-oleh diserbu banyak orang. Dalam taksiran Akhlus, perputaran uang bisa ratusan juta dan bahkan lebih. “Setiap menginap di hotel ada pajaknya. Ini masuk kas daerah. Reuni yang semula silaturahmi ini rupanya juga memberi dampak ekonomi,” ujarnya.

Mudahnya bicara, reuni ini membawa berkah. Selain para peserta dapat melepas rindu yang kadung membuncah untuk berbagi cerita selama teman seangkatan, kas daerah pun terisi. Sudah semestinya dalam waktu-waktu ke depan ada pembicaraan lanjutan mengenai peluang menjadikan gawai reuni akbar semacam ini disinergikan dengan kegiatan-kegiatan pariwisata. “Semuanya kan jadi serba untung,” kata Akhlus.

Mengapa hari jadi sebuah sekolah perlu dirayakan sedemikian meriah? Sejarawan Aswandi Syahri punya jawabannya. Pada sebuah pagi di bulan Agustus tahun 1956, kata Aswandi, masyarakat Tanjungpinang begitu bungah. Khususnya di kalangan remaja yang hendak melanjutkan pendidikan ke jenjang menengah.

“Pagi itu adalah hari pertama mereka melangkah ke jenjang pendidikan yan lebih tinggi setelah menamatkan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan akan segera beralih menjadi anak SMA pertama di Tanjungpinang, sebuah kota Ibukota Kresidenan Riau dalam Provinsi Sumatera Tengah dan sekitar setahun kemudian dipilih menjadi Ibu Kota Provinsi Riau pada 9 Agustus 1957,” terang Aswandi.

Kegembiraan pemuda dan pemudi Tanjungpinang itu bukan tanpa alasan. Aswandi yang juga merupakan alumni angkatan 1989 menjelaskan, itulah untuk pertama kalinya anak-anak Tanjungpinang tak perlu lagi bersusah payah meninggalkan kampung halaman, meninggalkan orang tua dan saudara, lalu mengarungi lautan menuju Sumatra dan Pulau Jawa hanya untuk melanjutkan pendidikan setingkat SMA. “Saat itu Dewan Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Riau memberinya nama SMA Negeri Tanjungpinang, dan kini terkenal sebagai SMA Negeri 1 Tanjungpinang,” jelasnya.

Karena bermula dari sebuah kebahagiaan, sudah semestinya tiap hari jadi dirayakan dengan kebahagiaan. Itulah cara ribuan lulusan Smansa Tanjungpinang menerima kasih atas segala kenangan, tawa, air mata, yang pernah terjadi selama berseragam putih abu-abu. Karena sebaik-baiknya kenangan adalah yang ada untuk dirayakan.(muf/bpos)

Respon Anda?

komentar