Tak Ada Biaya, Helen Jarang Makan dan Putus Sekolah

696
Pesona Indonesia
Aliza, Helen dan Kurnia saat duduk di rumah menerima kunjungan wartawan, Jumat (6/5) pagi.
Aliza, Helen dan Kurnia saat duduk di rumah menerima kunjungan wartawan, Jumat (6/5) pagi.

batampos.co.id – Di tengah gencarnya gerakan dan sosialisasi peduli pendidikan yang dicanangkan Pemkab Lingga pada setiap 1 Mei, masih ada Helen, 16, putus sekolah karena tidak mampu.

Gadis belia bertubuh kurus, berdiri di depan pintu rumahnya yang menganga, di RT 01, RW 07 Dusun Tiga Kebun Nyiur Desa Batu Derdaun, Kecamatan Singkep. Rambutnya diikat menjadi satu menjulur sebahu terjuntai lurus kebelakang. Dia berdiri di pintu karena ayah dan ibunya tidak di rumah. Rumah tanpa plester itu baru dibangun tahun 2013 lalu setelah mendapat bantuan rehabilitasi rumah dari pemerintah.

Mengetahui Helen kedatangan sejumlah tamu, seorang wanita tua yang juga tinggal di sebelah rumah datang mendampingi Helen. Kurnia, wanita itu menegaskan, Alfian, ayah Helen tidak ada di rumah. Meski demikian, Kurnia, nenek kandung Helen mempersilahkan masuk ke rumah kepada wartawan koran ini.

Di ruang tamu, hanya terpajang televisi 14 inci terletak dia atas rak lusuh nan pendek. Kipas angin dan tape tua juga terpajang dalam ruang tersebut. Bagian atas ruangan itu tidak ditutup plafon sehingga terlihat jelas atap penutup rumah yang telah menghitam. Sedangkan lantainya hanya beralaskan karpet plastik yang telah robek. Tanpa sofa dan meja.

Di rumah itu hanya terlihat tiga orang anak. Selain Helen, ada dua adiknya Alfandi dan Aliza. Helen sebagai anak paling tua dari pasangan suami istri Alfian dan Susilawati, diketahui putus sekolah dari petugas BPS saat melakukan sensus ekonomi.

Helen terpaksa tidak meneruskan sekolah saat dia duduk di bangku kelas 7 SMP 1 Dabo Singkep. Alfian tidak dapat memenuhi kebutuhan buku, seragam dan keperluan sekolah lain untuk anak sulungnya itu karena dia hanya buruh kasar dan kerja serabutan. Terkadang kerja namun sering menganggur.

Sewaktu masih sekolah, Helen sering mengaku sakit perut di sekolah karena tidak ada makan dan uang jajan untuk mengisi perutnya yang kosong. Kondisi seperti itu telah lama dialami keluarga Alfian, sehingga Helen berhenti sekolah sejak satu tahun yang lalu.

Kurnia sebagai nenek dari tiga orang cucu itu, sering mendapati periuk dan tempat nasi di rumah tersebut dalam keadaan kosong, hanya berisi air saja. Walau Kurnia juga tergolong susah, dia tidak tahan melihat ketiga cucunya kelaparan sehingga sering memberikan mereka makan.

“Hidup kami juga susah. Suami saya, atok mereka, hanya bekerja sebagai pengumpul batu di Pantai Batu Berdaun,” kata Kurnia sambil tertunduk.

Alfian sebagai pekerja serabutan, terkadang pulang tanpa membawa sepeser uang. Begitu juga dengan Susilawati yang bekerja sebagai pencabut bulu burung dari sangkar walet di salah satu toko di Dabo Singkep, sering tidak bekerja karena stok kerjaannya habis.

Pernah Kurnia mendengarkan Susilawati membohongi anak-anaknya untuk menahan lapar. Susilawati membujuk ketiga anaknya untuk menunggu ayah mereka yang sedang bekerja dan pulang akan membawa nasi untuk mereka makan bersama. Padahal ayah mereka belum mendapat kerja.

Kurnia juga menghawatirkan cucunya Alfandi yang saat ini telah duduk di bangu kelas 6 Sekolah Dasar, tidak dapat menyambung sekolah lagi ke tingkat SMP. Sebab kondisi keluarga mereka yang sangat susah. Terlebih segala peratan sekolah, seperti buku dan sebagainya saat ini sangat mahal.

Walau kondisi seperti itu, Helen mengaku sangat ingin bersekolah kembali. Tekadnya untuk menuntut ilmu sangat kuat. Namun hal itu tidak dapat terwujud mengingat kondisi ekonomi keluarga itu yang sangat terpuruk.

“Saya sangat ingin bersekolah lagi,” ujar Helen lirih saat menjawab pertanyaan wartawan.

Banyak pertanyaan yang dilontarkan wartawan, Helen hanya diam seolah menyerahkan jawaban tersebut kepada nenek Kurnia yang duduk disebelahnya. Kurnia juga menyarankan kepada Helen untuk memikirkan lagi tentang kelanjutan sekolahnya.

Namun Helen juga menyadari kalau ucapan neneknya hanya sebagai penghibur belaka. Bagai pepatah pungguk merindukan bulan, hingga saat ini Helen masih berdiam di rumah tanpa bisa berbuat apa-apa untuk menggapai cita-citanya dengan belajar di sekolah bersama teman-teman seusianya.(wsa/bpos)

Respon Anda?

komentar