Untuk 10 Sandera Abu Sayyaf Minta Tebusan Rp 15 Miliar, untuk 4 Sandera pun Sama

1153
Pesona Indonesia
Salah satu wisatawan yang diculik Militan Abu Sayyaf. Foto: istimewa
Salah satu wisatawan yang diculik Militan Abu Sayyaf. Foto: istimewa

batampos.co.id – Krisis penyanderaan empat WNI oleh kelompok Abu Sayyaf menemui titik terang. Kemarin, kelompok mana yang melakukan penyanderaan sudah teridentifikasi. Kabarnya, para penyandera ini minta jumlah yang sama terhadap sepuluh ABK yang dibebaskan terlebih dulu, yakni PHP 50 juta (sekitar Rp 15 miliar).

Menurut seorang yang dekat dengan kelompok jihad, penyandera empat WNI tersebut masih berada di Sulu.

‘’Sandi pimpinannya bernama Rambo. Nama aslinya belum tahu. Tapi, di sini nama bisa sangat banyak,’’ kata pria yang sebut saja Jaffar tersebut.

Nama di kalangan ikhwan jihadi memang selalu berganti. Jarang sekali yang diketahui menggunakan nama asli. Seperti Umar Patek. Di Filipina Selatan, khususnya di kelompok Abu Sayyaf, pria yang kini menghuni Lapas Porong itu dikenal dengan nama panggilan Mike. Juga sejumlah ikhwan jihadi lainnya. Jarang ada tahu yang nama dan identitas asli, meskipun di kalangan mereka sendiri

Selain untuk kenyamanan psikologis, penggantian ini memang untuk alasan keamanan. Karena bergerak dalam sel-sel kecil, maka jika ada salah satu yang tertangkap, maka akan sulit terurai sel yang lain. Karena yang diketahui yang tertangkap itu hanyalah nama alias. Tapi tidak identitas pribadinya.

Selain itu, sumber tersebut menuturkan bahwa kelompok pimpinan Rambo ini juga meminta uang tebusan Php 50 juta. Jumlah ini sama persis dengan permintaan yang diajukan untuk pembebasan sepuluh WNI yang sempat jadi sandera dan telah dibebaskan tersebut.

”Saya kira, jumlah sebesar itu memang terinspirasi dari penyanderaan sebelumnya,’’ paparnya. Sebab, memang berapa besar uang tebusan tidak ada parameternya. ”Yang penting sudah lebih dari biaya operasi penculikan tersebut,” tambahnya.

Di bagian lain, Mayjen (Purn) Kivlan Zein masih berada di Filipina Selatan. Ketika dikonfirmasi kemarin, dia mengaku masih berada di Kepulauan Sulu.

‘’Masih bernegosiasi dengan penyandera,’’ katanya.

Kivlan juga membenarkan ketika ditanya apakah pemimpin kelompok yang menyandera tersebut bernama Rambo.

”Anda tahu dari mana? Ya, sandi pimpinannya seperti itu. Tapi, maaf saya tak bisa menyebut detail,’’ katanya.

Kivlan juga menyatakan bahwa keempat WNI yang jadi sandera tersebut masih berada di Kepulauan Sulu.

Terkait soal tebusan, Kivlan tak membantah ketika ditanya apakah permintaannya sebesar Php 50 juta.

‘’Saya tak ingin membahas detail. Nanti malah bocor dan menggagalkan upaya negosiasi,’’ papar Kivlan.

Hanya, dia mengaku memang ada permintaan tebusan. ‘’Pasti ada permintaan tebusan, karena tak mungkin menculik lalu diam saja,’’ tambahnya.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos (Grup Batam Pos) menyebutkan bahwa negosiasi tersebut menggunakan jasa orang-orang Moro Nation Liberation Front (MNLF). Kivlan dikenal dekat dengan Nur Misuari, sesepuh MNLF. Kivlan memang terlibat dalam upaya yang mendamaikan antara MNLF dengan pemerintah Filipina lebih dari satu dekade lalu.

Selain itu, faksi MNLF lebih bisa diterima oleh Abu Sayyaf. Mengingat, kelompok terbesar di Mindanao, MILF, kini terlibat perang dingin dengan kelompok teroris yang berarti “Tuan Pembawa Pedang” tersebut.

Kivlan sendiri mengakui hal tersebut. ‘’Saya memang dekat dengan kelompok MNLF,’’ paparnya.

Di bagian lain, Abu Sayyaf tampaknya mulai tertekan dengan perang yang dilancarkan oleh militer Filipina. Buktinya, kemarin mereka melepas satu sandera yang diculik selama dua tahun. Sandera perempuan tersebut adalah seorang perempuan Tiongkok bernama Yahong Tan Lim.

‘’Dia dibebaskan kemarin (Kamis, 5/5) pukul 13.00 di kawasan Barangay Danag, Patikul, Sulu,’’ kata juru Wesmincom (West Mindanao Command) Mayor Philemon Tan. Philemon menyebutkan bahwa Yahong Tan Lim diculik pada 22 Mei 2014 lalu bersama ibunya, Dina Tan Iraham.

Namun, ibunya dibebaskan terlebih dahulu beberapa bulan lalu, dan Abu Sayyaf ketika itu meminta tebusan Php 30 juta untuk pembebasan ibu dan anak tersebut. Hanya, ketika ditanya soal tebusan, Philemon mengaku tidak tahu. ‘’Secara militer, kami mempunyai garis kebijakan no ransom. Jadi, bagaimana dan seperti apa negosiasi pembebasannya, kami tidak terlibat,’’ terangnya. Dia menyebutkan bisa jadi Abu Sayyaf ketakutan dan mulai melepas satu per satu sandera yang kini masih ditahannya.

Selain itu, Philemon mengatakan bahwa orang asing sebaiknya jangan pergi ke Sulu sendirian. Menurutnya, orang asing langsung gampang dan cepat diketahui keberadaannya di Sulu. Jadi, demi keamanan, sebaiknya tidak datang ke Sulu. ‘’Berbahaya. Selain karena kini sedang jadi daerah operasi militer, juga bisa kena culik,’’ tambahnya.

Hal ini dibenarkan oleh Koordinator Fungsi Politik KBRI Manila Edy Mulya. Dia mengatakan bahwa Militer Filipina memang memberlakukan semacam travel warning yang tak resmi. ‘’Jika datang ke Sulu sendirian dan melapor, biasanya otoritas setempat langsung akan memulangkannya,’’ tambahnya. (JPG)

Respon Anda?

komentar