Allahu Akbar..! Sadiq Aman Khan, Politikus Muslim Jadi Wali Kota London

850
Pesona Indonesia
Wali Kota London Terpilih, Sadiq Aman Khan. Foto: AFP
Wali Kota London Terpilih, Sadiq Aman Khan. Foto: AFP

batampos.co.id – Sejarah baru tercipta di negeri Ratu Elizabeth, Inggris. Sabtu 7 Mei 2016, untuk kali pertama, seorang politikus muslim terpilih sebagai wali kota London. Dia adalah Sadiq Aman Khan. Ia sukses mengalahkan kandidat kaya raya, Zac Goldsmith.

Selain merupakan sejarah baru, juga menjadi bukti kalau masyarakat London sangat memahami bahwa Islam sesungguhnya bukan agama yang mengajarkan terorisme. Islam adalah rahmatan lil alamin.

Ya, selama ini dunia barat dan bayak non muslim mengidentikkan Islam pada terorisme. Padahal, Islam adalah agama yang sangat menentang terorisme.

Berbagai aksi terorisme yang dilakukan kelompok tertentu yang mengatasnamakan Islam, menjadikan publik barat memandang negatif setiap yang berbau atau bersimbol Islam.

Tapi umat Islam di berbagai belahan dunia mampu menunjukkan kalau Islam itu menentang terorisme.

Di Inggris contohnya, begitu banyak masyarakatnya yang bergama Islam dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Mereka juga berkontribusi di berbagai bidang.

Politikus Sadiq Khan contohnya, ia seorang politikus muslim yang begitu dikenal baik di Kota London.

Tak heran jika hasil pemungutan suara yang berlangsung Kamis (7/5/2016) memperlihatkan, kandidat dari Partai Buruh itu berhasil meraih 56,8 persen suara.

Itu berarti 1,3 juta orang memberinya mandat sebagai wali kota. Khan mengungguli Zac Goldsmith dari Partai Konservatif yang hanya meraih 43,2 persen.

Hasil itu membuat Khan berhak menerima mandat tertinggi dari masyarakat ibu kota.

Tidak hanya menjadi muslim pertama yang memimpin London, pria 45 tahun tersebut menjadi muslim pertama yang berkuasa atas salah satu ibu kota terpenting di Barat.

Namun, di Eropa, Khan merupakan muslim kedua yang menjadi wali kota. Sebab, sebelumnya ada Ahmed Aboutaleb yang menjadi wali kota Rotterdam, Belanda.

Kemenangan Khan tentu menjadi hadiah bagi Partai Buruh yang belakangan seolah semakin sulit menghimpun dukungan masyarakat.

Persaingan untuk menjadi orang nomor satu di London berlangsung sangat ketat antara Khan dan Goldsmith. Bukan hanya perbedaan partai dan ideologi, dua tokoh itu juga bagaikan bumi dan langit.

Khan yang putra seorang imigran asal Pakistan terbiasa hidup sederhana dan banyak berjuang. Sebaliknya, Goldsmith yang empat tahun lebih muda adalah gambaran politikus mapan yang lahir di tengah keluarga kaya raya.

Selain perbedaan latar belakang, penampilan dan agama, Khan dan Goldsmith dihadapkan pada banyak isu yang membuat mereka berdua semakin terlihat kontras.

Sejak pertama Khan muncul sebagai kandidat wali kota, berita miring bermunculan tentang suami Saadiya Ahmed tersebut. Mulai hubungannya dengan ekstremis hingga paham anti-Semit (anti Yahudi) yang mewarnai partainya.

Khan adalah anak kelima di antara delapan bersaudara. Dia hanyalah anak seorang sopir bus berdarah Pakistan yang menjadi imigran di London. Sejak usia 27 tahun, ayah dua anak itu pernah menjadi kuasa hukum kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia.

Khan pernah memimpin lembaga masyarakat Liberty dan terpilih sebagai anggota parlemen di Tooting pada 2005. Sebelum terpilih menjadi wali kota London, Khan pernah menjabat menteri transportasi pada tahun terakhir pemerintah Perdana Menteri Gordon Brown.

Saat memberikan pidato kemenangan, Sabtu (7/5/2016), Khan berpidato untuk sang ayah.

“Ayah saya pasti akan sangat bangga jika mengetahui bahwa kota yang dengan penuh hormat dia sebut rumah itu kini telah menunjuk salah seorang anaknya menjadi wali kota,” paparnya.

Kemarin syukuran juga digelar di Kota Islamabad, Pakistan, tanah leluhur Khan. Mereka merayakan kemenangan putra Pakistan tersebut di Eropa.

“Pemilihan ini tidak berlangsung tanpa kontroversi. Tapi, saya sangat bangga karena hari ini London telah memilih harapan, bukan ketakutan, dan memilih persatuan di atas banyaknya perbedaan,” ujar Khan dalam pidato singkat kemenangannya.

Kalimat itu langsung disambut sorak-sorai dan tepuk tangan para pendukungnya. Dia berharap, pada masa mendatang, London tidak lagi dihadapkan pada pilihan-pilihan ekstrem semacam itu.

“Rasa takut tidak akan membuat kita lebih aman. Sebaliknya, rasa takut hanya akan membuat kita menjadi lebih lemah. Dan, politik ketakutan jelas tidak akan pernah bisa bertahan di kota kita ini,” lanjutnya.

Selama 16 tahun terakhir, kabarnya, tidak pernah ada kompetisi wali kota yang seketat Khan dan Goldsmith. Namun, selisih perolehan dukungan mereka juga yang paling besar selama dua windu terakhir.

Khan segera mengambil alih komando London dari tangan Boris Johnson. Politikus Partai Konservatif itu sudah dua periode berturut-turut memimpin kota berpenduduk sekitar 8,6 juta jiwa tersebut.

Karena itu, Johnson yang pernah bersepeda di car free day Jakarta itu tidak punya kesempatan untuk mencalonkan diri lagi dalam pemilu kali ini.(AFP/Reuters/hep/bil/c10/kim/jawapos.com/nur)  

Respon Anda?

komentar