Bangsa Suara atau Bangsa Juara?

856
Pesona Indonesia

banner-temberangTERKEKEH-KEKEH saya mendengar kawan saya itu bicara. Pasalnya, dia bukan sedang bicara di tempat sembarangan, tapi di tempat yang sangat serius, di tempat orang sedang berkumpul beramai-ramai, menyambut datangnya pemimpin baru. Ya, benar, kemarin ada pelantikan kepala daerah paling akhir di negeri ini dari hasil Pilkada serentak itu. Memang kadang bangsa ini aneh dan pelik, Pilkadanya serentak tapi pelantikannya berbeda-beda. Terus nanti ketemu serentaknya dimana?

Tuh, nun jauh disana,  yang dilantik itu pemimpin Kabupaten Natuna. Kata kawan saya Mahmud, Natuna itu hebat, potensinya banyak, lautnya, alamnya, hasil kandungan buminya melimpah ruah, tinggal kita mau atau tidak menggarapnya.

“Buat saja yang terbaik, kerjakan saja untuk masyarakat, kalau kebaikan yang kita buat tapi masih ada juga yang menghalang-halanginya, lepuk saja!”.

Itulah yang membuat saya tertawa, yang lain pun ikut tertawa juga, mendengar kata “lepuk”, sudah lama tak dengar kosa kata itu, arti lepuk itu lebih kurang “tumbuk”, jadi ucapan Mahmud itu boleh diganti “kalau ada yang menghalang-halanginya tumbuk saja!”.

Ha ha ha…, itu pastilah hanya istilah kawan saya Mahmud, mana mungkin ada pemimpin yang sudah dipercaya rakyat, menang dipilih oleh rakyat terus sekarang hendak melepuk rakyatnya. “Kalau macam-macam, jika perlu tembak saja!”, tambah Mahmud berseloroh lagi, “Apa yang nak ditembak, senapan angin saja yang ada”, dalam hati saya bergumam. Melihat Mahmud bercakap dengan songkok miringnya.

Hari itu memang kawan saya tu berpakaian Melayu, berbaju kurung dan berkampuh, baju kebanggaannya tanda merayakan dan kegembiraan.
Rindu juga sudah beberapa minggu ini saya tak berjumpa Mahmud itu, saya yakin ketika saya tak ada kemarin, kawan saya tu pastilah banyak menggunjing saya atau paling tidak dia merasa kehilangan kemanakah gerangan saya berada menghilangkan diri ini.

Menjadi timses untuk mempersiapkan wakil gubernur yang hiruk pikuk itu? Oh, tidak, itu bukan kerja saya, itu kerja orang  politik yang tahu aturan poliitik dan seni memainkan irama politik, bukan sekedar buat spanduk dukung-mendukung atau dengan beratus-ratus status di media sosial dan memaksakan kehendak dengan pikiran yang dangkal.

Saya juga bukan sedang ke Lingga melihat hamparan sawah membentang, menghijau tumbuh dengan subur, seperti cerita dongeng saja atau belum terjaga dari mimpi, kenapa di Lingga ada sawah sekarang, selama ini hanya kita tahu yang ada sagu dan nipah. Apakah ini pengulangan sejarah bahwa negeri itu dulu memang menjadi titik temu dan pusat pemerintah?

“Ini yang betul Tok”, ucap Mahmud. “Kita dalam membuat kerja jangan ikut-ikutan, kita harus “menjual” yang berbeda, jangan orang jual cendol, kita di sebelah jual cendol juga, orang jual kue tepung gomak, kita ikut menjual kue tepung gomak juga, mungkin kalau orang sebelah menjual cendol kita menjual nuklir, misalnya”, tutur Mahmud teratur. Ha???

Saya terkesiap, takkanlah menjual nuklir pula, jauh betul,  mungkin kalau orang menjual cendol di sebelah, kita jualah roti, siapa tahu dia mau minum cendol sambil makan roti dan itu di Lingga, menjadi sesuatu yang berbeda, ketika kita bicara kekuatan maritim mereka mencoba di bidang agraris dan ternyata bisa. “Kita ini bangsa juara!” pekik Mahmud. “Ya, juara!” balas saya. Bayangan saya diam-diam cepat ke film Ada Apa Dengan Cinta 2. Sudah nonton? “Kalian juara!”. Ha ha ha, saya tertawa geli sendiri. Sok masih merasa muda, sedangkan 14 tahun yang lalu saja kita pun sudah tak muda tapi cinta memang tak mengenal tua atau muda.

“Cerita film, awak dah nonton film Captain America – Civil War Tok?” tanya Mahmud kepada saya tiba-tiba. Saya menggelengkan kepala,  manalah ada bioskop di kampung kami ini, cerita soal nonton film AADC 2 itupun tak sengaja kebetulan sedang berada di Batam kemarin, sejak menghilang dari Mahmud tulah.

Ya, dua minggu kemarin itu sebenarnya saya di Batam, diajak mengukur tanah disana, katanya kalau tak diukur nanti mau dirampas lagi tanah kita disana, tanah datuk nenek kita, tapi kita disuruh pula bayar uang wajibnya UWTO atau apalah hantu belau namanya, alasannya Kawasan Ekonomi Khusus konon, kalau mau khusus jangan Batam saja, se-Kepulauan Riau lah, jadikan Provinsi Khusus Ekonomi Khusus, bangun ekonomi kami semua. Ingat itu pesan almarhum Ayah Sani, “Terserah kalian mau buat Batam seperti apa, hanya ingat! jangan sengsarakan rakyat”.  Nanti kalian kualat.

Balik ke film, hebat betul kawan saya tu, dia sudah nonton Film Barat, Captain America lagi. “Tok, tahu tak film itu inspirasinya darimana? Kata isteri saya, itu inspirasinya dari film Hang Tuah dan Hang Jebat, yang satu bela pemerintah yang satu bela kebenaran, Iron Man bela pemerintah, Captain America bela kebenaran, setelah itu mereka berkelahi berdua, “Rupanya tak di barat tak di kampong kita sama saja, tak orang biasa atau orang super, begitu juga selalu ada yang bela pemerintah tak tahu benar atau salah dan yang satu lagi membela kebenaran, tapi kerap dipersalahkan.” Kawan saya Mahmud serius mengucapkannya.

Ya, ya, ya.. Kita selalu ingin menjadi juara, tapi bukan begitu mental bangsa yang juara, kita sekarang hanya bisa menjadi bangsa suara yang hanya pandai berjualan saja, bangsa yang sibuk menjual, termasuk menjual Batam, menjual kebaharian, menjual budaya, menjual hutan dan eksotisme karunia Tuhan ini, kita ingin menjual semua yang kita punya, padahal yang terpenting itu bukanlah kemampuan kita menjual, tapi bagaimana orang memang ingin datang membeli. Budaya itu bukan untuk dijual, budaya itu harus ada, kalau pun orang datang karena mereka ingin melihatnya, artinya mereka memang datang ingin “membeli”, mereka tertarik ingin tahu.

Batam itu bukan untuk dijual, tapi mereka datang karena kita mampu mengemasnya dengan baik dengan cara yang baik, dan masyarakatnya tidak terusik.

“Ya tok, tak menyerah walaupun berulang kali kalah itu juga mental bangsa yang juara,” tegas Mahmud kepada saya. Saya merenung lama dengan ucapan Mahmud kawan saya itu, saya dengar suara kawan itu sedikit parau, serak, itu bukanlah suara yang lelah kalah, tahulah banyak orang, siapalah kami ini, apa yang kami lakukan tetap bertahan dan yakin ada satu kemenangan karena itu, mungkin Mahmud terus bersuara untuk kiranya kelak ia menjadi juara.
“Kita pernah menjadi juara Tok, dari negeri ini kebaharian itu ada, kalau tak begitu tak mungkin Raja Haji Fisabilillah itu diakui sebagai Pahlawan Nasional Bahari, kalau tak salah saya hanya beberapa orang saja Pahlawan Bahari bangsa ini, dan yang lain mereka berperang di hutan, sebelum orang bilang poros maritim, Selat Malaka adalah tempat lalu lintas paling terpadat di dunia, dan sudah menjadi mainan Raja Haji dengan Bulang Lingginya, perahu penjajah perang yang tangguh,” kisah Mahmud kepada saya.

“Ya, Mud, dari negeri kita juga Kitab Pengetahuan Bahasa itu disusun oleh Raja Ali Haji dengan tekun dan menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar perdagangan sepanjang pesisir nusantara dan sekarang menjadi Bahasa Indonesia,” balas saya. “Itukan juara namanya”.

“Artinya kita tak boleh menyerah dan pasrah, kita harus terus berusaha dan berkarya, berbuat kebaikan untuk negeri dan masyarakat, kalau ada yang menghalang-halangi, kita letup saja, betul tak Tok, kata-kata saya?” pertanyaan Mahmud ini membuat saya ternganga.
Saya pikir Mahmud bergurau, dia ingin mengatakan bahwa  begitulah kerja keras harus ditekuni, semangat kita tak boleh berhenti hanya karena apa yang kita inginkan tak diterima oleh orang lain, kita merasa kalah dan untuk menebus kekalahan itu bukan aturan main yang kita kedepankan, tapi amarah yang kita kobarkan.

Ada banyak jalan untuk mencapai tujuan, ada banyak halangan untuk perjuangan sampai kita pada kematangan dan kedewasaan, dan kita sadar bahwa kita sedang berada di rumah besar bernama Melayu yang kita takkan bisa lari dan harus “Meninggikan seranting, mengedepankan selangkah, melebihkan sekuku”, pada mereka sang Juara itu. ***

Respon Anda?

komentar