Keluarga Yuyun Ketakutan, Minta Perlindungan LPSK

3905
Pesona Indonesia
Rekonstruksi kasus pemerkosaan Yuyun. Foto: dok/JPG
Rekonstruksi kasus pemerkosaan Yuyun. Foto: dok/JPG

batampos.co.id -Kasus pemerkosaan Yuyun terusik dengan maraknya pemberitaan tentang kasus yang menimpa Yuyun. Mereka pun meminta perlindungan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

”Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, kami akan terjunkan tim untuk melakukan pedampingan,” kata Ketua LPSK Abdul Haris Semendawai, pada Jawa Pos (grup batampos.co.id), Sabtu (7/5/2016).

Menurut dia, tim tersebut akan melakukan pendampingan dan perlindungan sesuai UU. LPSK juga akan memfasilitasi kompensasi yang harusnya didapat keluarga korban sesuai UU No. 31 / 2014.

”Sesuai UU kompensasi kan tidak harus menunggu putusan berkekuatan hukum tetap” katanya.

Kasus kematian tragis Yuyun akibat pemerkosaan memang menjadi pelajaran bagi banyak pihak. Tidak hanya bagi pemerintah, namun juga lembaga swadaya masyarakat (LSM) terutama yang bergerak memberikan bantuan dan pendampingan hukum.

Koordinator Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Julius Ibrani mengatakan kasus semacam Yuyun sebenarnya banyak terjadi di Sumatera. Hanya saja seringkali terlewat dari perhatian media. Untuk kasus Yuyun, YLBHI sendiri kesulitan mengawal dan melakukan pendampingan hukum karena mereka tidak punya cabang di sana.

”Kami tak punya cabang di sana. Selain itu letak geografisnya juga sanat jauh ke dalam,” ujarnya.

Sebenarnya sudah lama YLBHI berupaya membangun jaringan di Bengkulu namun hal itu sulit dilakukan. Hal ini pula yang membuat mereka tak bisa mengawal kasus praperadilan penyidik KPK, Novel Baswedan.

Terpisah, proses perburuan dua tersangka pembunuh dan pemerkosa Yuyun terus dilakukan pihak berwajib. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Pol Agus Rianto menegaskan, hal itu kini terus jadi prioritas kepolisian.

”Kami menduga dua orang ini berada di luar (Bengkulu). Pengejaran terus dilakukan,” ungkapnya ditemui dalam salah satu diskusi di Jakarta, Sabtu (7/5/2016).

Di sisi lain, Agus juga mendesak pemerintah daerah (pemda) untuk segera menerbitkan aturan pembatasan peredaran minuman beralkohol. Sebab, menurutnya, minuman memabukkan ini dipastikan jadi salah satu pemicu utama kebiadaban mereka.

”Jadi ada tumbuhan sejenis tuak. Lalu difermentasi dengan kadar alkohol tinggi. Minuman beralkohol ini sudah memicu tindak pidana luar biasa,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait meminta pemerintah serius menangani masalah kekerasan seksual anak. Dia ingin hal itu bisa dibuktikan lewat adanya komisi khusus setingkat KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) untuk membrangus para predator seksual ini.

”Lihat kasus korupsi yang ditangani KPK, narkoba oleh BNN (Badan Narkotika Nasional). Kejahatan seksual ini juga perlu komisi serupa,” ujarnya.

Seperti diketahui, kasus pemerkosan yang disertai pembunuhan terhadap Yuyun, siswi SMP 5 Satu Atap Kecamatan Padang Ulak Tanding (PUT), Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu sudah terbongkar oleh aparat kepolisian.

Sebanyak 12 dari 14 pelaku telah diringkus dan dinyatakan sebagai tersangka. Dua lainnya masih menjadi buronan. Sedangkan 12 pelaku yang telah ditangkap dan telah menjalani persidangan.

Dari hasil pemeriksaan aparat Polres Rejang Lebong dan Polsek PUT, pelaku menodai korban hingga menghabisi nyawanya sangat begitu sadis dan tidak manusiawi.

Dilansir dari Bengkulu Ekspres (batampos.co.id Group), Kapolres Rejang Lebong, AKBP Dirmanto menerangkan, pembunuhan itu diawali dari para pelaku yang meminum minuman keras (miras) jenis tuak. Hingga ke-14 pelaku itu mabuk.

Mereka menenggak miras itu di rumah salah seorang pelaku yang berinisial De (19).

“Sebelum kejadian para tersangka ini mengkonsumsi tuak yang mereka beli di Desa Belumai II, yang kemudian mereka konsumsi bersama-sama,” terang Kapolres.

Usai pesta tuak tersebut, kemudian ke-14 tersangka pergi ke tempat kejadian perkara, yakni di Sawangan antara Dusun 4 dengan Dusun 5 Desa Kasie Kasubun.

Saat itu para tersangka itu tengah nongkrong dengan pengaruh minuman keras jenis tuak. Kebetulan waktu itu korban yang baru pulang sekolah melintas di tempat para tersangka itu nongkrong.

Ketika itulah mulai muncul niat keji dari para pelaku. Korban diseret para tersangka kedalam semak-semak kebun karet, yang tak jauh dari tempat korban ditemukan.

“Sebelum diperkosa dan dibunuh, korban diikat terlebih dahulu oleh para tersangka,” jelas Kapolres.

Usai diikat kemudian korban diperkosa secara bergiliran oleh para tersangka, dimana tersangka pertama yang melakukan pemerkosaan adalah De.

Berdasarkan pengakuan para tersangka pemerkosaan yang dilakukan para tersangka bukan hanya sekali namun satu tersangka bisa dua atau tiga kali.

Ketika itu tersangka De sempat mencekik leher korban.

Para tersangka pun memperkosa korban pun dengan tidak dengan cara manusiawi. Bukan hanya melalui alat kelamin korban, melainkan juga dari anus dan mulut korban. Diduga akibat perbuatan para tersangka tersebut korban langsung meninggal dunia.

Saking kejinya perbuatan para pelaku, saat dilakukan visum atas mayat korban, bagian dalam kelamin dan anus korban sudah menyatu.

Tidak sampai di sana kebiadapan tindakan para pelaku, korban dibuang ke dalam semak yang tak jauh dari kebun karet tempat mereka melakukan perbuatan kejinya itu.

“Dari 12 tersangka yang berhasil diamankan itu, yang pertama diamankan adalah De, To, dan Da,” AKBP Dirmanto.

Ketiganya diamankan pada Jumat (8/4) lalu, di kediaman masing-masing.

Dari tiga tersangka itu polisi mendapatkan petunjuk lain dan melakukan pengembangan hingga 9 tersangka lainnya dapat amankan pada Sabtu (9/4/2016).

Lagi-lagi para pelaku dibekuk di kediaman masing-masing dalam waktu yang berbeda. (gun/mia/jpgrup)

Respon Anda?

komentar