Terguncang di Udara, Penumpang Hongkong Airlines Banyak Keseleo

842
Pesona Indonesia
Pesawat Hongkong  Airlines. Foto: istimewa
Pesawat Hongkong Airlines. Foto: istimewa

batampos.co.id – Cuaca buruk berakibat pesawat terguncang. Ini yang dialami pesawat Hongkong Airlines, yang membuatnya mendarat darurat di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali Sabtu (7/5/2016).

Pesawat dari Denpasar dengan tujuan Hongkong, itu terpaksa balik ke Bandara Ngurah Rai, Tuban, Badung. Ini lantaran mengalami turbulensi di atas langit Pulau Kalimantan yang sedang dilintasinya.

Berdasarkan  keterangan yang dihimpun koran ini menyebutkan bahwa pesawat airbus bernomor penerbangan HX-6704 tersebut take off  (lepas landas) dari Bandara Ngurah  Rai. Mereka berangkat sekitar pukul 01.49, dini hari.

Nah, sekitar 1 jam setelah take off, pesawat dengan pilot Tinios Peter dan co Pilot Redza Khomeini Bin Abdullah, itu mengalami turbulensi. Sehingga diputuskan mendarat darurat di Bandara Ngurah Rai lagi.

Saat dikonfirmasi, General Manager PT Angkasa Pura I Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Trikora Harjo, dalam keterangannya  mengakui kejadian tersebut. Dia mengatakan bahwa pesawat yang mengangkut 204 orang penumpang bersama 12 orang crew pesawat, itu mendarat darurat sekitar pukul 04.29 dini hari, dan parkir di areal Apron B-19. “Penumpang cedera langsung dievakuasi,” tandasnya.

Cuma, dalam keterangannya  tak dirinci berapa jumlah penumpang atau crew pesawat yang jadi korban pesawat turbulensi itu. Pihaknya sebatas memastikan bahwa belasan di antaranya dilarikan ke Rumah Sakit BIMC.

Sebanyak lima orang ditangani poliklinik di Bandara Ngurah Rai. “Yang ditangani di poliklinik tidak lama, langsung dipulangkan,” paparnya terkait kondisi penumpang.

Dikonfirmasi terpisah, Sherly selaku Humas PT Angkasa Pura I Bandara Ngurah Rai Bali menyatakan, beberapa saat setelah mendarat darurat, sebanyak 95 penumpang Hongkong Airlines kembali diterbangkan ke Hongkong. Tapi, mereka pindah pesawat.

Mereka diangkut dengan menggunakan pesawat Garuda Airlines GA-856 tujuan Denpasar – Hongkong.

“Informasi yang saya dapatkan, sebanyak 95 orang diterbangkan menggunakan pesawat Garuda. Sisanya, diinapkan di hotel,” tandas Sherly.

Berdasarkan data yang dihimpun koran ini, total 17 orang penumpang yang luka. Tapi, 3 di antaranya hanya luka ringan saja.

Perkembangan lebih lanjut dari para penumpang itu kemarin  menunjukkan bahwa 14 orang korban mengalami cedera dari guncangan yang dialami pesawat Hongkong Airlines Airbus A3332-200 tersebut. Mereka lantas dilarikan ke rumah sakit BIMC, di kawasan Jalan Bypass Ngurah Rai, Nomor 100X, Kuta.

Kepada Jawa Pos Radar Bali, Putu Hema, selaku Operasional Manager RS BIMC mengatakan ke-14 pasien tersebut rata-rata berusia 20 hingga 70 tahun. Mereka berkewarganegaraan Taiwan, Tiongkok, dan Hongkong. Namun, satu dari ke-14 pasien tersebut terpaksa dirujuk ke RS Siloam lantaran perlu mendapatkan tindakan lanjutan.

“Jadi, yang dirawat di sini (BIMC)  itu sebenarnya ada 14. Namun, 1 pasien harus dirujuk ke RS Siloam karena perlu mendapatkan tindakan lanjut yang tidak bisa dilakukan di BIMC,” ucapnya.

Imbuh dia, ke-13 pasien yang dirawat di RS BIMC itu rata-rata hanya mengalami kondisi keseleo. “Nah, dari ke-13 pasien itu, 12 orang sudah pulang, sedangkan satu orang masih dirawat di sini karena masih menunggu hasil x-ray,” terangnya, sembari menjelaskan bahwa RS BIMC tidak bisa memberikan data ke-13 pasien yang dirawat. Alasannya, ini sudah menjadi peraturan standar RS BIMC untuk tidak memublikasikan data pasien yang ada.

Saat disinggung mengenai pembiayaan pengobatan dan perawatan, Hema mengaku belum mendapatkan koordinasi dari pihak penerbangan Hongkong Airline.

“Biasanya sih pihak airline yang memberikan tanggungan. Tapi, sekarang belum ada koordinasi,” pungkasnya.

Sementara itu, dari keterangan yang dihimpun koran ini menyebutkan bahwa guncangan atau turbulensi itu terjadi lantaran pesawat memasuki ruang udara yang memiliki tekanan yang berbeda-beda. Karena tekanan yang berbeda ini yang membuat guncangan muncul.

Selain karena suhu dan tekanan yang berbeda-beda, turbulensi bisa juga disebabkan oleh pola arus angin. Yakni, haluan arus angin yang berubah-ubah.

Kondisi cuaca yang tidak stabil biasanya membuat angin pada arus horizontal yang dilewati pesawat bisa menjadi kacau. Ini muncul biasanya karena kondisi permukaan daratan yang tidak rata. Seperti bukit, gunung, gedung-gedung, dan sebagainya.

Umumnya intensitas turbulensi ada empat kategori. Yakni, level 1 yang ringan, level 2 moderat, level 3 parah, dan level 4 yang ekstrem, yang bisa berakibat fatal bagi penerbangan.

Dalam turbulensi level 1, hanya terasa guncangan-guncangan kecil saja. Penumpang yang memakai sabuk pengaman mungkin merasakan tarikan kecil di pinggang. Objek di dalam pesawat yang ditaruh tanpa pengamanan juga akan bergoyang atau bergeser sedikit.

Di level 2 atau level moderat biasanya intensitasnya lebih tinggi lagi. Sementara, di sisi penumpang, tarikan sabuk pengaman akan sangat terasa. Benda yang ditaruh tanpa pengaman pun bisa terguncang dan berpindah tempat.

Dalam turbulensi intensitas di level 3 atau yang termasuk dalam kategori parah, perubahan pusat gravitasi di pesawat lebih dahsyat lagi. Penumpang bisa sampai terlempar dari kursi pesawat jika tidak menggunakan sabuk pengaman atau risiko buruk lain.

Di kokpit, bisa jadi ada perubahan pembacaan di indikator kecepatan udara. Sikap dan ketinggian pesawat juga akan banyak berubah-ubah dan pesawat tidak terkontrol dalam beberapa waktu.

Di level 4, atau yang termasuk dalam kategori ekstrem, turbulensi bisa menyebabkan pilot kehilangan kontrol, dan sulit untuk recovery.

Dari pihak Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah 3 Denpasar,  mengatakan bahwa cuaca di wilayah Bali saat ini sebetulnya tidak dalam kondisi   membahayakan penerbangan. “Sekarang kondisi angin datang dari arah barat daya menuju barat laut,” ungkap Topan, dari pihak BMKG Denpasar, kemarin.

Apa dampak dari perubahan angin tersebut? “Dengan kondisi seperti ini, membuat daerah di selatan Jawa Timur dan Bali mengalami tekanan yang rendah,” jawabnya. Kondisi ini kemungkinan membawa dampak pada wilayah lain. Seperti di Kalimantan. “Tapi, sebetulnya tidak signifikan,” imbuhnya kemarin. (wan/des/ara/pit/jpg)

Respon Anda?

komentar