1.046 Siswa Kepri Lulus SNMPTN

2358
Pesona Indonesia
Siswa melakukan aksi coret baju dan selfie saat pengumuman kelulusan di SMKN 1 Tanjungpinang, tahun lalu. F.Yusnadi/Batam Pos
Siswi SMKN 1 Tanjungpinang merayakan kelulusan. Tahun ini ada 1.046 lulusan SMA sederajat di Kepri yang lolos SNMPTN . F.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Panitia Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) resmi mengumumkan hasil kelulusan peserta tahun 2016, Senin (9/5/2016). Dari 115.178 pelamar yang dinyatakan lulus, terdapat 1.046 pelajar asal Kepri.

Di antara 1.046 pelajar Kepri yang lulus SNM PTN tahun ini terdapat beberapa nama peraih 10 besar nilai Ujian Nasional (UN) se-Kepri tahun 2016. Misalnya Rahmi Adelina, peraih nilai UN tertinggi se-Kepri untuk tingkat SMA/MA.

Rahmi diterima di jurusan Kedokteran Gigi di Universitas Gadjahmada (UGM). Dalam daftar pengumuman kemarin, nama Rahmi berada di nomor 489.

Dari pengumuman yang dimuat di laman panitia SNM PTN 2016, Jawa Timur menjadi provinsi terbanyak penyumbang angka kelulusan dengan 18.132 pelamar. Kemudian disusul Jawa Barat (12.310 pelamar) dan Jawa Tengah (9.510 pelamar). Untuk Indonesia wilayah timur, Sulawesi Selatan menjadi yang tertinggi dengan raihan kelulusan 4.866 pelamar. Disusul Sulawesi Tenggara sebanyak 3.817 pelamar.

Ketua Umum Panitia SNM PTN Rochmat Wahab mengatakan, Jawa Timur (Jatim) menjadi yang tertinggi karena jumlah PTN-nya sangat banyak.

’’Sehingga jumlah kapasitas daya tampung mahasiswa baru juga banyak,’’ jelasnya, Senin (9/5/2016).

Begitupula dengan Jawa Barat dan Jawa Tengah yang memiliki banyak kampus negeri. Menurut Rochmat, total jumlah pelamar yang diterima sebanyak 115.178 orang itu dibawah prediksi panitia. Sejak awal Rochmat mengatakan panitia memperkirakan jumlah pelamar yang diterima mencapai 123.051 orang.

Namun rektor UNY itu menganggap capaian ini menunjukkan panitia konsisten dengan mutu lulusan SNMPTN. Dia tidak ingin panitia SNMPTN memaksakan memenuhi target mengisi jumlah peserta lolos sesuai dengan target.

Data menarik lain yang dirangkum panitia SNMPTN adalah jumlah penerima beasiswa pendidikan mahasiswa miskin (bidik misi). Dari total jumlah pelamar SNM PTN yang diterima, ada 24.506 orang mengajukan bidik misi. Sayangnya distribusi penerima bidik misi itu tidak terlihat di kampus-kampus papan atas Indonesia.

Di daftar 10 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dengan jumlah pelamar bidik misi yang lulus SNMPTN, tidak ada nama-nama kampus beken seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebaliknya deretan 10 besar ini diisi oleh Universitas Haluoleo dengan 1.714 pelamar bidik misi, Universitas Negeri Padang (1.192), Universitas Syiah Kuala (853), IPB (728), dan Universitas Palangkaraya (708).

Menurut Rochmat, pelamar bidik misi sekarang sudah berpikiran realistis. Mereka tidak ingin bertaruh kuliah di kampus top dengan hanya berbekal uang negara.

’’Bagi mereka uang negara melalui bidik misi tidak cukup,’’ jelasnya. Sehingga akhirnya dipilihlah kampus-kampus kelas menengah ke bawah untuk melamar SNMPTN kelompok penerima bidik misi.

Rochmat mengingatkan, status kelulusan SNM PTN ini bukan berarti sudah diterima kuliah di kampus. Sebab masih ada satu tahap lagi yang harus dilalui pelamar. Yakni verifikasi berkas-berkas. Jika ditemukan ada kecurangan atau ketidakcocokan data saat verifikasi, peserta yang lulus SNM PTN bisa digugurkan. Proses verifikasi dilaksanakan 31 Mei nanti.

Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemenristekdikti Intan Ahmad mengatakan, tahun ini kuota bidik misi masih dipatok 60 ribu. Dia mengatakan pemerintah berencana menambah kuota bidik misi menjadi 75 ribu untuk tahun depan. ’’Doakan, semoga disetujui DPR,’’ tandasnya.

Sementara itu, nilai ujian nasional (UN) belum dijadikan sebagai acuan utama dalam penentuan lulus tidaknya siswa yang mendaftar SNMPTN. Termasuk indeks integritas ujian nasional (IIUN) yang dimiliki sekolah maupun siswa.

Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) Prof Herry Suhardiyanto menuturkan bahwa nilai UN itu baru diterima panitia pada 28 April lalu. Padahal, seleksi itu sudah dimulai sejak Maret lalu.

”Data (nilai UN, red) itupun belum sepenuhnya lengkap,” kata Rektor Institut Pertanian Bogor itu.

Herry menuturkan, setiap kampus punya kebijakan masing-masing dalam memandang nilai UN sebagai bahan pertimbangan. Khusus di IPB, lanjut dia, nilai UN tetap menjadi salah satu acuan dalam penilaian. Tapi, bukan masuk dalam hal yang utama. ”Tetap dipertimbangkan,” tambah dia. (wan/jun/agm/jpgrup)

Respon Anda?

komentar