Naikkan Investment Grade, Karpet Merah Buat Investor

709
Pesona Indonesia
Industri galangan kapal terus menggeliat di Batam. Foto: www.marcopoloshipyard.com
Industri galangan kapal terus menggeliat di Batam. Foto: www.marcopoloshipyard.com

batampos.co.id – Pemerintah tengah menyiapkan jalan lapang sekaligus magnet bagi investor agar berbondong-bondong masuk Indonesia.

Apa itu? Kenaikan peringkat kemudahan berusaha dan rating layak investasi (investment grade). Ditambah dengan potensi repatriasi dana dari program tax amnesty, banjir investasi ke Indonesia sangat mungkin terjadi.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, dalam hal investasi, pemerintah tidak hanya mengejar kenaikan peringkat kemudahan berusaha (ease of doing business/EODB) yang dirilis Bank Dunia.

“Tapi, kita juga harus meraih predikat investment grade,” ujarnya dalam rapat kabinet, Senin (9/5/2016).

Sebagaimana diketahui, dalam EODB 2016, Indonesia hanya ada di peringkat 109 dari 189 negara. Presiden pun sudah menargetkan agar dalam EODB 2017, peringkat Indonesia bisa melejit ke peringkat 40 besar.

Sementara itu, dari tiga rating agency utama dunia, hanya Standard and Poor’s (S&P) yang belum menyematkan predikat investment grade. Adapun dua lainnya (Moody’s dan Fitch Ratings) sudah memberikan status investment grade.

Pemerintah pun terlihat sangat serius menyikapi itu. Bahkan, untuk menyambut tim riset S&P yang akan berkunjung ke Indonesia pertengahan Mei ini, Presiden sampai mengadakan rapat kabinet khusus dengan tema persiapan menyambut tim S&P. Hal semacam ini belum pernah dilakukan sebelumnya, karena biasanya hanya ditangani di level Menko Perekonomian.

Menurut Jokowi, status investment grade sangat penting untuk memperluas akses Indonesia ke pasar keuangan internasional dengan biaya perolehan dana (cost of fund) yang tentu saja lebih rendah. Ini bakal menguntungkan pemerintah maupun korporasi saat menerbitkan obligasi.

“Persepsi positif akan mendorong peningkatan arus investasi masuk ke Indonesia,” katanya.

Karena itu, lanjut Jokowi, pemerintah akan memastikan paket kebijakan ekonomi yang sudah dirilis, khususnya paket ekonomi jilid 12 yang terkait kemudahan perizinan investasi, benar-benar bisa dijalankan.

Menurut dia, dalam penilaian EODB, Bank Dunia memang hanya akan menyurvei Jakarta dan Surabaya, namun bukan berarti pemerintah hanya fokua pada perbaikan izin investasi di dua kota tersebut.

“Karena itu, perbaikan harus dilakukan di semua daerah, saya sudah sanpaikan ke bupati dan walikota soal itu,” jelasnya.

Menko Perekonomian Darmin Nasution menambahkan, target mencapai peringkat 40 besar dalam EODB maupun investment grade dari S&P memang butuh upaya ekstra keras. Namun, dia optimistis itu bisa dicapai.

“Realisasi paket kebijakan terus kita monitor dan sejauh ini cukup baik,” ujarnya.

Sementara itu, aliran modal asing (capital inflow) Rp 35 triliun di pasar modal sepanjang awal tahun ini, dinilai sebagai episode awal dari rangkaian banjir modal ke Indonesia.

Staf Khusus Wakil Presiden bidang Ekonomi dan Keuangan Wijayanto Samirin mengatakan, tren capital inflow ini diproyeksi bakal berlanjut dalam waktu cukup lama.

“Sehingga, jangka menengah dan panjang, rupiah dan saham dalam tren menguat,” katanya.

Wijayanto menyebut, ada banyak faktor yang memicu aliran modal bakal makin deras ke Indonesia. Namun, salah satu faktor yang bakal menjadi momentum penting adalah potensi naiknya status Indonesia menjadi investment grade dari S&P.

”Melihat tren perbaikan ekonomi kita, sangat terbuka kemungkinan S&P memberi status investment grade,” sebutnya.

Mantan wakil rektor Universitas Paramadina yang kama berkarir sebagai investment banker itu menambahkan, pemerintah akan mengarahkan agar aliran modal itu tidak hanya masuk ke pasar uang dan pasar modal karena akan menjadi hot money alias uang panas yang berpotensi ditarik sewaktu-waktu.

”Kami harap modal juga masuk ke sektor riil menjadi investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI),” ucapnya. (owi/jpgrup)

Respon Anda?

komentar