Nilai Ujian Nasional Turun, Menteri Anies: Itu Karena Siswa Jujur

917
Pesona Indonesia
Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Foto: istimewa
Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Foto: istimewa

batampos.co.id – Penurunan nilai rerata Ujian Nasional (Unas) 2016 jenjang SMA sederajat tidak disambut kekecewaan. Sebaliknya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Anies Baswedan menyambutnya dengan rasa penuh percaya diri.

Saat pemaparan hasil unas di kantornya, Senin (9/5/2016), Anies tampil komplit. Kompak mengenakan rompi biru dongker, dia didampingi Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Nizam, Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang), dan Direktur Pembinaan SMA Purwadi Sutanto.

Nilai rerata Unas 2016 untuk kelompok SMA negeri dan swasta tercatat 54,78 poin. Sementara tahun lalu untuk kelompok yang sama nilai reratanya 61,29 poin atau mengalami penurunan 6,51 poin.

Sedangkan kelompok SMK juga mengalami penurunan. Tahun ini nilai rerata pendidikan vokasi itu mencapai 57,66 poin. Sementara pada periode Unas 2015 nilai rerata anak-anak tercatat 62,11 poin, atau mengalami penurunan 4,45 poin.

Ada beberapa poin yang membuat Anies tetap merasa pede dengan capaian ’’merah’’ itu. Diantaranya adalah penurunan itu dikarenakan tingkat kejujuran siswa yang meningkat.

’’Semakin jujur dalam mengerjakan unas, maka nilai yang muncul itu semakin mendekati kemampuan sesungguhnya. Bukan berarti jujur otomatis dapat jelek,’’ urai dia.

Mantan rektor Universitas Paramadina itu lantas menjelaskan penurunan nilai unas juga dipicu semakin banyaknya sekolah yang menggelar ujian nasional berbasis komputer (UNBK). Baginya pelaksanaan UNBK menutup potensi siswa berbuat curang.

Alasan lainnya adalah mulai tahun ini Kemendikbud memodifikasi kisi-kisi ujian. Tahun ini kisi-kisi tidak dibuat mendetail, sehingga bisa diotak-atik menjadi latihan soal menyerupan soal ujian. Tahun ini Kemendikbud membuat kisi-kisi yang bersifat lebih umum.

’’Penyebab penurunan berikutnya adalah ada kemungkinan tingkat keseriusan menurun,’’ paparnya. Kemungkinan ini dikaitkan dengan status nilai unas yang tidak lagi menjadi penentu kelulusan.

Kepala Puspendik Kemendikbud Nizam mengatakan hasil analisis Unas 2016 jenjang SMA menunjukkan, semakin banyak sekolah yang mendapatkan status indeks integritas ujian nasional (IIUN) tinggi. Yakni kelompok sekolah dengan IIUN dan angka unas tinggi serta sekolah dengan IIUN tinggi tetapi angka unas rendah.

’’Artinya penanaman kejujuran dalam mengerjakan unas mulai meningkat,’’ katanya.

IIUN ditentukan berdasarkan pada penelitian pola jawaban siswa yang mengerjakan soal unas. Pola yang hampir sama antarsiswa itu menjadi salah satu indikasi bentuk kecurangan. Semakin kecil pola yang sama maka dianggap punya integritas atau kejujuran.

Pengamat evaluasi pendidikan Elin Driana menuturkan bahwa penentuan IIUN itu harus dilakukan lebih cermat lagi. Tidak hanya dengan menilai dengan dasar jawaban soal unas saja misalnya. Perlu membuat penilaian lebih menyeluruh terhadap seluruh proses dalam unas.

”Jangan sampai nanti ada yang kebetulan jawaban sama. Tapi dituduh menyontek. Itu berbahaya bagi nasib siswa dan sekolah itu,” kata dosen di Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof. Dr Hamka Jakarta itu.

Doktor alumnus Educational Research and Evaluation Ohio University, Amerika Serikat itu menuturkan kemendikbud juga harus fokus pada tujuan utama dari penyelenggaraan unas. selama ini, unas dijadikan sebagai patokan untuk pemetaan pendidikan di Indonesia. Tapi, tindak lanjut dari hasil unas itu belum terlihat.

”Peningkatan pendidikan itu yang lebih penting lagi sekarang ini,” Ujar Elin. (wan/jun/jpgrup)

Respon Anda?

komentar