Polair Polda Kepri Tangkap Kapal Ikan Malaysia

966
Pesona Indonesia
Polair Polda Kepri menangkap kapal ikan berbendera Malaysia bersama kapten kapalnya atas nama Muhammad Suriya dan ABK, Senin (9/5). F Dalil Harahap/Batam Pos
Polair Polda Kepri menangkap kapal ikan berbendera Malaysia bersama kapten kapalnya atas nama Muhammad Suriya dan ABK, Senin (9/5). F Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Polisi Perairan Polda Kepulauan Riau berhasil mengamankan satu kapal ikan asal Malaysia, Kamis (4/5) pukul 21.15 WIB di perbatasan antara perairan Karimun dengan perairan Rangsang, Provinsi Kepulauan Riau yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Kapal yang dinahkodai oleh MS, 24, dan empat anak buah kapal, yakni NR, MM, AN, SR tanpa dilengkapi oleh dokumen yang lengkap dan surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI). “Saat kami datang mereka baru menyebar jaring trawl ikan,” kata Kepala Satuan (Kasat) Patroli Daerah Polair Kepri, AKBP Danu Waspodo di Dermaga Polisi Air Kepri, Sekupang, Senin (9/5).

Dari penangkapan tersebut polisi mengamankan satu unit kapal ikan asing JHF 7195 B, satu set alat tangkap berupa jaring, lima lembar kartu identitas Malaysia dan satu unit GPS/ Fish Finder. Saat dilakukan penangkapan tidak ada perlawanan dari awak kapal.

“Mereka langsung angkat tangan ketika kami datang,” ujarnya.

Kapal terbukti telah melanggar dan melakukan ilegal fishing di perairan Indonesia. Saat ini kapal sudah diserahkan ke PSDKP di Jembatan dua Barelang untuk proses penyidikan.

Nahkoda kapal terbukti melanggar pasal 26 ayat 1 Jo Pasal 92 Undang-Undang Republik Indonesia nomor 31 tahun 2004 tentang perikanan dengan ancaman hukuman lima tahun penjara.

Sementara itu, Pengawas Perikanan dari Direktorat Jendral (Ditjen) Pengawasan Sumber Daya Kelauatan dan Perikanan, Seivo Grevo mengatakan pihaknya akan melakukan koordinasi dengan pihak Kejaksaan dan pihak Malaysia terhadap nasib lima warga negara Malaysia ini. Kemungkinan empat awak kapal akan dipulangkan ke negara asalnya (deportasi). Sedangkan tersangka MS yang bertugas sebagai nahkoda kapal akan menjalani hukuman.

“Sementara kami inapkan di rumah singgah dulu sebelum dideportasi,” kata dia.(cr17/bpos)

Respon Anda?

komentar