Mau Minta Maaf? Pelajari Dulu Seninya

656
Pesona Indonesia

014535_316163_Kuku___Care2

batampos.co.id – Setiap manusia pasti tidak luput dari kesalahan, baik sengaja maupun tidak disengaja. Normalnya, setiap orang pasti akan menyesali kesalahannya dan meminta maaf, kecuali bagi orang yang cacat mental.

Meminta maaf dan mengakui kesalahan bukanlah perkara yang mudah. Sulit tapi bisa kita lakukan dan harus dilakukan. Meminta maaf itu ada seninya dan caranya. Kalau sekadar ucapan pemanis bibir tanpa ada niat sungguh-sungguh mengatakannya, percuma saja. Maaf itu akan kehilangan maknanya.

Para peneliti dari The Ohio State University dan Eastern Kentucky University telah menemukan bahwa permintaan maaf yang efektif memiliki enam elemen:

1. Ekspresi penyesalan.

2. Penjelasan dari apa yang salah.

3. Pengakuan tanggung jawab.

4. Deklarasi pertobatan.

5. Penawaran perbaikan.

5. Permintaan maaf.

Jadi, katakanlah misalnya Anda makan kue seseorang dan mereka marah pada Anda. Ini adalah trick permintaan maaf yang harus Anda lakukan: Saya sangat menyesal saya makan kue Anda (1), saya pikir itu karena saya punya yang serupa (2); Ini benar-benar kesalahan saya (3); dan saya menyesal melakukannya (4); Saya akan segera membeli Anda kue lain (5); Saya harap Anda bisa memaafkan saya (6).

Para peneliti melakukan dua percobaan terpisah yang melibatkan 755 orang, untuk menguji reaksi mereka terhadap elemen-elemen ini.

Apa yang mereka temukan adalah bahwa permintaan maaf yang ideal harus berisi semua enam elemen ini, namun ada dua hal utama yang harus Anda lakukan, mengakui tanggung jawab (3) dan menawarkan untuk memperbaiki situasi (5).

“Temuan kami menunjukkan bahwa komponen yang paling penting adalah pengakuan dari tanggung jawab. Katakanlah itu adalah kesalahan Anda, bahwa Anda membuat kesalahan,” kata pemimpin peneliti, Roy Lewicki, seperti dilansir laman News.Osu.Edu, Senin (9/5).

Ekspresi penyesalan (1), penjelasan tentang apa yang salah (2); dan deklarasi pertobatan (4), berada ditempat kedua.

Penelitian ini diterbitkan dalam the Journal Negotiation and Conflict Management Research.(fny/jpnn)

Respon Anda?

komentar