Penyair Lawen Muchtar Wafat

792
Junewal Muchtar yang akrab disapa Lawen saat membaca puisinya di Tepi Laut Tanjungpinang, beberapa waktu lalu. Foto:Yusnadi/Batam Pos
Junewal Muchtar yang akrab disapa Lawen saat membaca puisinya di Tepi Laut Tanjungpinang, beberapa waktu lalu. Foto:Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Penyair kenamaan Kepri, Junewal ‘Lawen’ Muchtar, telah berpulang, Selasa (10/5) petang. Penyair berujuluk Si Batu Api itu meninggal setelah berbulan-bulan melawan penyakit komplikasi yang dideritanya.

Di kalangan sastrawan dan pecinta puisi, Lawen dikenal sebagai penyair yang berani dan selalu tampil menderapkan spontanitas, kecepatan berpikir, dan improvisasi, sebagaimana yang menjadi semangat dasar berpantun, dan mabuk ekspresif sebagai representasi segala rasa dalam memandang situasi sosial di sekitarnya.

“Mungkin ia bermaksud memberontak, mencemooh, menyampaikan kritik sosial, mencoba memberi penyadaran atau mengungkap kecintaan,” tulis kritikus sastra, Maman S. Mahayana dalam pengantar buku puisi Topeng Makyong karya Lawen.

Puisi Lawen bukanlah suara lirih mengenai pengalaman dan masalah pribadinya yang sangat personal, melainkan suara pedih kenyataan-kenyataan negerinya yang menyedihkan. Masalah yang diangkat lebih banyak kepada masalah-masalah lokal seperti sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Puisi-puisinya selalu bernada menggugah, getir, iba, sendu, dan haru yang mengandung keprihatinan terhadap masalah-masalah tersebut.

Kini, usia Lawen tidak pernah genap 60 tahun. Karena Lawen sudah menemukan panggungnya sendiri di hadapan Tuhan. Membacakan puisi-puisi kehidupannya yang tidak pernah lekang oleh zaman. Yang jadi warisan bagi penyair generasi muda sekarang. Yang pergi hanya jasad Lawen, tidak dengan semangat dan perlawanan-perlawanan dalam puisinya. Yang tidak ada hanya suara suara tawa Lawen, tidak dengan kelakar-kelakar dalam pilihan-pilihan kata dalam puisinya. Puisi Lawen tetap abadi dalam ingatan dan hati.

Seperti kata Lawen dalam puisinya bertajuk Untuk Anakku.

Kita lahir telanjang…
kematian hanya sebutan
dengan jasad yang membusuk
lalu dimakan cacing cacing tanah
hingga tinggal belulang
tapi nama dan kebajikan
akan terus menembus berkurun waktu. (muf/bpos)

Respon Anda?

komentar