Belum Berstatus BLUD Penuh, RSUD Dabo Mengaku Kewalahan

674
Pesona Indonesia
Dr Raymon (kiri) bersama staf khusus Pemkab Lingga saat meninjau RSUD Dabo. foto:wijaya satria/batampos
Dr Raymon (kiri) bersama staf khusus Pemkab Lingga saat meninjau RSUD Dabo. foto:wijaya satria/batampos

batampos.co.id – Menanggapi keluhan masyarakat terkait pelayanan dan fasilitas RSUD, Direktur RSUD Dabo Singkep dr Raymond Pratama mengatakan hal itu terjadi akibat belum berjalannya sistem Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Hingga saat ini 75 BLUD berjalan dan hanya menunggu nota dinas dari Bupati.

“Untuk kekurangan tenaga perawat kami telah berkoordinasi dengan staf khusus untuk menginventaris tenaga kesehatan yang ada di Lingga,” ujar Raymond ketika ditemui di RSUD, Rabu (11/5) siang.

Menginventarisir tenaga medis ini, dimaksudkan jika ditemukan di salah satu puskesmas atau rumah sakit lapangan yang ada di Kabupaten Lingga memiliki banyak tenaga medis akan disalurkan ke tempat yang masih kekurangan seperti RSUD.

Sedangkan untuk ketersedian obat, Raymon menyatakan stoknya masih ada namun sejumlah jenis obat saja yang kosong. Sedangkan untuk pasien yang menggunakan kartu JKLT dan BPJS serta membeli obat di luar, akan diganti dengan membawa struk pembelian sekaligus resep dokter yang dikeluarkan.

“Tenggat waktu mengusur administrasi penggantian biaya belanja obat kami beri hingga 3 kali 24 jam,” kata Raymond.

Walau demikian, masih kata Raymond, setiap pasien yang datang dalam kondisi emergensi tetap akan dilaukan penanganan. Berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan terkait obat yang dibutuhkan, sembari menunggu proses sistem BLUD berjalan.

Ditempat yang sama, Kepala Bidang Pelayanan Medis RSUD dr Asri mengatakan, pasien yang datang untuk meminta kamar kelas satu bukan tidak dilayani dengan baik. Namun kondisi yang tidak memungkinkan karena ruangan masih penuh.

“Kami juga harus mensterilkan ruangan bekas pasien lain terlebih dahulu. Waktu steril tiga hari karena kami juga tidak memiliki alat penetralisir, kondisi keuangan saat ini gimana lagi,” ujar Asri.

Menurut Asri, RUSD juga masih tergolong kekurangan ruangan kelas satu. Dia berharap nantinya akan diadakan ruangan VIP agar dapat menampung pasien lebih baik lagi.

Terkait layanan, Asri memastikan pemberlakuan semua pasien sama. Namun terkadang banyak masyarakat yang belum mengerti tentang kategori pasien yang harus ditangani lebih dulu dan kategori pasien yang dapat menunggu.

Menurut Asri, pasien dengan label merah yakni pasien emergensi, harus ditangani lebih dulu dari pada pasien yang berlabel hijau atau kuning yang tergolong menderita penyakit lebih ringan atau dapat menunggu. Walau demikian semua label pasien pastinya akan mendapat penanganan awal lebih dulu.

Namun Asri juga mengeluhkan terkait kurangnya tenaga perawat yang ada di RSUD. Menurutnya sesuai dengan kalsifikasi RSUD saat ini, semestinya setiap dua pasien harus ditangani oleh tiga perawat hal ini juga sesuai dengan ketentuan setandar yang dikeluarkan Permenkes No 56 tahun 2015.

Sebelumnya, seorang warga, Zainal Abidin mengaku kecewa setelah mendapatkan perlakuan kurang profesional dari petugas RSUD melayani orangtuanya yang sakit di RSUD. (wsa/bpos)

Respon Anda?

komentar