Dua Tahun Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah Menutup Diri

872
Pesona Indonesia
Kondisi terakhir Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah Tanjungpinang. foto:fatih/batampos
Kondisi terakhir Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah Tanjungpinang. foto:fatih/batampos

batampos.co.id – Akhir tahun 2013 adalah mimpi buruk. Atap Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah ambruk. Koleksi diungsikan. Dengan berat hati, museum ditutup. Hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Dulunya museum ini adalah bangunan sekolah. Tak ayal punya lokasi strategis. Berada di pojok simpang empat jalan penghubung ke pasar Jalan Merdeka. Sekaligus berdekatan dengan Masjid Raya, Gereja Ayam, dan Vihara Bahtra Sasana, yang usia ketiganya terpaut sedikit lebih tua.

Bangunan museum ini dibangun Kolonial Belanda pada tahun 1918. Pada mulanya, dijadikan sebagai sekolah berbahasa Melayu bernama Holland Irlandsch School (HIS). Ketika beralih tangan ke penjajahan Jepang, berganti nama menjadi Futsuko Gakko 1. Setelah kemerdekaan jadi milik Indonesia, bangunan itu digunakan sebagai Sekolah Rakyat (SR) hingga berganti menjadi SDN 01 Tanjungpinang pada tahun 2004. Sementara pada 2009, oleh Suryatati A. Manan, Wali Kota Tanjungpinang saat itu, diresmikan sebagai Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah.

Inilah satu-satunya museum di ibu kota Kepri. Keberadaannnya dinilai bermanfaat, guna menambah wawasan masyarakat. Sejak kali pertama diresmikan, entah berapa ribu wisatawan lokal maupun mancanegara yang menjadikannya tujuan. Di dalamnya, ada lima ruangan dengan klasifikasi tersendiri. Di ruangan keramik, terpajang jenis-jenis barang pecah belah seperti porselen dari dinasti Ching, atau peralatan makan bangsa Eropa dari abad 19.

Bergeser ke ruangan sebelah. Ada ruangan bertajuk keragaman budaya. Di sana, bisa dilihat pelbagai jenis peranti tradisional mencari ikan. Seperti, bubu, sondong, rawai, bento, jala, jaring apung, bahkan sampan dan ciaunya. Selain itu, ada bermacam alat-alat permainan rakyat tradisional. Semisal, ketapel, congkak, gasing, tok lele, letup-letup, dan layang-layang tradisional. Adapun ruang di selatannya adalah ruangan Alam Perkawinan, yang menyimpan aksesori perkawinan tradisional masyarakat Melayu. Lengkap dengan berpasang-pasangan manekin, yang didandani serupa pengantin.Ketiga ruangan itu berletak sederetan yang dihubungkan dengan pintu tembusan.

Naik beberapa undakan, masih ada dua ruangan. Yakni, ruangan khazanah arsip foto dan sejarah dan ruangan Tanjungpinang kota bermula. Dari koleksi yang dipajang di dua ruangan ini, pengunjung bisa mengetahui hal-hal berkenaan tempo dulu yang pernah ada di Tanjungpinang. Foto-foto dan arsip-arsip yang sebagian besar milik sejarawan Aswandi Syahri ini menjadi seutas benang membentang yang memulangkan kenangan-kenangan jalanan lama Tanjungpinang.

Tapi, percayalah, senarai deskripsi di atas itu bisa ditulis, dilihat, diamati, jikalau mendatangi museum lebih dari dua tahun lampau. Seolah menyebati dengan fungsi museum yang berkelindan dengan ihwal kesejarahan, Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah nyaris menjadi sejarah. Tak percaya? Datanglah!

Ketika Batam Pos berkesempatan mengunjungi museum, tidak ada aktivitas apapun di sana. Di pelataran museum yang berhambur gugur daun pohon ketapang, suasana begitu lengang. Jangankan pengunjung, saujana hanya bersitumbuk dengan dinding-dinding yang diselingkup lumut. Menjulur hijau. Cat putih mengelupas. Jendela-jendela kayu besar dibiarkan tertutup seolah berkata kami malu, pergilah….!

Dari pelataran menuju ruang khazanah arsip foto dan sejarah dan ruangan Tanjungpinang kota bermula. Dari sinilah penutupan museum justru bermula. Lantaran akhir tahun 2013 silam, setelah hujan lebat melanda Kota Tanjungpinang sehari-semalam, atapnya ambruk. Rangka-rangka kayu, satu demi satu berjatuhan. Kerusakan di dua ruangan ini boleh dikatakan mencapai 90 persen – sekadar untuk tidak menyebutnya sebagai kerusakan sempurna.

Hingga pada akhirnya, terlihat pekerja museum sedang rehat siang. “Museum sedang ditutup, Pak,” katanya, “Tahun ini setelah renovasi baru dibuka lagi.”

Tahun ini? Informasi ini lumayan menghenyakkan. Betapa butuh waktu lebih dari dua tahun untuk mempersolek museum yang berada tepat di jantung ibu kota Provinsi Kepri ini. Selama lebih dari 24 bulan pula, museum ini dibiarkan – semacam bait puisi Chairil – menunda kekalahan demi kekalahan, kerusakan demi kerusakan.

Sepotong informasi yang diberikan itu seperti secawan air di padang pasir. Kepala Bidang Permuseuman, Meitya Yulianty membenarkan informasi tersebut. Bila tidak ada halangan, renovasi segera dilakukan di pertengahan Mei mendatang. “Pemerintah pusat sudah menyatakan bakal membantu Rp 1,5 miliar untuk revitalisasi museum,” terang Meitya.

Sebenarnya, tutur Meitya, bukan berarti Pemerintah Kota Tanjungpinang tidak punya perhatian sama sekali sejak dua tahun silam. Kali pertama plafon museum ambruk, sudah diusulkan kegiatan revitalisasi. Namun menyusutnya anggaran pemerintah membuat usulan ini ditolak mentah-mentah. Barangkali sedang ada keperluan yang lebih mendesak dan jadi prioritas pemerintah.

Tidak menyerah, di tahun 2014, usulan kembali diajukan. Menyadari kecilnya anggaran pemerintah daerah, kini usulan itu dilayangkan ke Pemerintah Provinsi Kepri.

“Saat itu mereka sudah bilang iya, mau merenovasi museum. Tapi di pertengahan tahun, pemprov juga dihantam defisit. Mau tidak mau, usulan kami kembali tertolak,” tutur Meitya.

Seperti saga yang tak berkesudahan, terpental di anggaran tingkat kota dan provinsi, satu-satunya jalan adalah menjolok dana di pemerintah pusat. Tahun 2015 kemarin, agenda ini menjadi skala prioritas awak kerja museum. Dari layar ke layar presentasi, usaha ini membuahkan hasil. Pemerintah pusat pada akhirnya mengucurkan anggaran Rp 1,5 miliar untuk merevitalisasi Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah. “Rencananya bulan Mei ini. Lebih cepat tentu lebih bagus. Tapi hingga hari ini, DPA (daftar pelaksanaan anggaran) belum turun dari pemerintah pusat,” ungkap Meitya.

Namun setidaknya kepastian ini membuat kerja-kerja selama ini tidak sia-sia. Karena di tahun 2015 kemarin, pihak museum sudah menggandeng Balai Pelestarian Cagar Budaya Batusangkar untuk mengkaji pola-pola merevitalisasi bangunan sarat sejarah. Hasil kajian ini yang kemudian bakal menjadi pijakan dasar pelaksanaan anggaran Rp 1,5 miliar tersebut. Karena Meitya menyadari, renovasi museum tentu sangat berbeda dengan merenovasi perkantoran pada umumnya. “Harus pakai kajian dulu biar tidak salah kaprah renovasinya,” ujarnya.

Lalu, seperhitungan Meitya, dana sebesar itu hanya cukup untuk merenovasi atap dan dinding museum secara menyeluruh. Menyangkut penambahan koleksi hingga sarana prasarana lain akan kembali dicarikan dananya. “Mau itu di Pemko, Pemprov atau APBN, pasti kami kejar,” tegasnya.

Kondisi mutakhir Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah ini juga menarik perhatian Dinas Kebudayaan Provinsi Kepri. Ada dana sebesar Rp 700 juta yang telah dianggarkan guna perbaikan sejumlah fasilitas umum museum. “Dana itu sudah ada. Rencananya untuk pembenahan pagar museum,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Kepri, Arifin Nasir.

Kepada Batam Pos, Arifin juga mengonfirmasi perihal bantuan pusat senilai Rp 1,5 miliar tersebut. Menurutnya, itu memang satu-satunya jalan keluar di tengah defisit anggaran yang mendera Pemko Tanjungpinang dan Pemprov Kepri. “Kalau anggaran sudah kembali pulih, tentu ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk membenahi seluruh museum di Kepri,” kata mantan Kepala Dinas Pendidikan ini.(muf/bpos)

Respon Anda?

komentar