Berantas Buta Huruf Suku Laut, Bangunan Pos Diubah Jadi Ruang Belajar

930
Pesona Indonesia
Anak-anak Suku Laut Selat Kongky yang ingin belajar, dengan Densy Diaz. foto: hasbi /batampos
Anak-anak Suku Laut Selat Kongky yang ingin belajar, dengan Densy Diaz. foto: hasbi /batampos

batampos.co.id – “Bunda, kami ingin belajar. Ajari kami,” rengek bocah Suku Laut kepada Desy Diaz yang akrab disapa Bunda oleh warga pemukiman Selat Kongky, Desa Pena’ah, yang membuat airmatanya selalu berlinang.

Haru dan iba dirasakan Diaz. Batinnya bergejolak. Melegak. Namun wajah-wajah polos pulahan anak suku laut yang menatapnya haru penuh harap. Diaz seakan tak bisa mengelak untuk pergi begitu saja meninggalkan anak-anak Suku Laut yang sudah ia anggap seperti anak kandungnya sendiri. “Mereka minta diajari. Mereka ingin belajar membaca dan menulis,” cerita Diaz dibalik kisahnya memulai kegiatan memberantas buta aksara di kelompok Suku Laut selat Kongky, warga suku asli pesisir Lingga.

Sejak setahun lebih hidup di pulau terpencil yang minim akses, telekomunikasi, rasa tanggung jawablah yang membuat Diaz bertahan. Pengalamannya menjadi guru PAUD di Melukap, ia bawa ke lingkungan baru. Memberikan pengalaman. Kini cita-citanya, anak-anak Suku Laut bisa membaca dan menulis. Mendapat hak setara. Dapat bersekolah dan mengejar cita-cita.

“Saya banyak belajar dari mereka (Suku Laut). Rasa bersyukur. Kadang kita selalu lupa dan mengeluh. Padahal hidup, tinggal dan tidur ditempat yang empuk. Tapi mereka, tidak memiliki tempat tinggal yang layak. Atap-atap rumah bocor. Harus berbagi tempat di ruang yang sempit. Tidur beralas papan dan tanpa selimut. Tapi mereka tetap tegar. Kadang harus menahan lapar, menunggu suami pulang melaut, yang entah ada atau tidak ada hasil. Mengalas perut dengan sagu,” tutur Diaz.

Pemahaman akan hal ini jugalah yang Diaz sampaikan kepada anak dan suaminya yang tinggal di Daik. Terpaksa ia tinggalkan, melaksanakan tugas dan panggilan jiwa. “Anak saya juga masih kecil. Masih 5 tahun. Tapi saya selalu pulang setiap bulan. Dia selalu saya beri pengertian, saya ceritakan semuanya agar dia bisa paham. Begitu juga suami dan keluarga saya. Mereka mendukung apa yang saya kerjakan,” kata Diaz, wanita 40 Tahun yang tetap bersemangat memberikan waktu dan tenaganya memberantas buta aksara warga Suku Laut.

Minim fasilitas dan sarana, Diaz tak putus akal. Beruntung, Kepala Desa Pena’ah, Abang Marwan mensuport apa yang dikerjakan Diaz. Abang Marwan dan istrinya siap membantu, menyediakan transportasi membayar minyak solar menggerakkan mesin pompong memudahkan Diaz menyebrang laut menuju Selat Kongky, Mensemut, Pongok, Kojong dan Pulau Buluh. Tempat puluhan warga tinggal di rumah-rumah pelantar yang tersusun rapi di tepian bakaw. Bagi anak-anak suku laut yang ikut belajar di PAUD Doa Ibu, istri Kades juga menyediakan makanan anak-anak.

Bangunan pos yang berada di tengah-tengah pemukiman warga Selat Kongky, digunakan Diaz menjadi ruang belajar. Hanya berdinding separoh papan yang mulai rapuh. Tiang-tiang pelantar lusuh. Lebarnya hanya 6×6 meter, menjadi tempat warga tua muda, laki-laki dan perempuan duduk bersila mengikuti arahan Diaz belajar menulis dan membaca.

“Warga tua muda, laki perempuan ikut belajar. Anak-anak kadang kasi kegiatan melukis, berkreasi. Ikut dalam kegiatan sanggar. Pengenalan lingkungan, alam. Belajar langsung dari alam. Kita bersihkan lingkungan, menumbuhkan kesadaran anak-anak. Sekarang, Alhamdulillah, lingkungan mereka sekarang bersih. Anak-anak sudah mulai bisa menulis,” tambahnya.

Diaz miliki cita-cita ingin bangun Sekolah Alam dan Taman Bacaan bagi anak suku laut. Setiap aktifitasnya, selalu ia bagi di akun Facebooknya berharap ada kerjasama dari semua pihak yang ingin membantu.

“Selalu memang saya bagi. Ingin berbagi dan berharap ada kawan-kawan yang satu visi untuk berbagi. Alhamdulillah, banyak dukungan, ada yang membantu buku bacaan, alat tulis. Kemarin kita juga dapat dukungan pemerintah. Pak Awe (Alias Wello) Bupati Lingga, mendukung gerakan berantas buta akasara ini dan membantu pompong untuk mobilitas kita,” jelasnya.

Diaz juga merasa terbantu dengan kawan-kawan aktifisnya yang setia berbagi waktu. Mulai dari guru, tenaga medis, bidan yang juga ikut andil dalam memberikan perhatian bersama non pemerintah melayani orang Suku Laut. “Kita berharap sekolah alam dan taman bacaan kedepan jadi. Ruang gerak kita lebih luas tidak hanya di Pena’ah. Tapi seluruh orang suku laut dapat ikut dalam gerakan ini. Mau belajar,” tutup Diaz. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar