Tiga Napi Batam Dieksekusi, Mary Jane Ditunda Lagi

933
Pesona Indonesia
ilustrasi
ilustrasi

batampos.co.id – Berbagai pihak mulai main tebak-tebakan, soal siapa terpidana mati yang harus dieksekusi. Kemarin (13/5) beredar 16 nama terpidana yang masuk daftar eksekusi mati jilid tiga. Tiga di antaranya merupakan narapidana (napi) dari Lapas Barelang, Batam.

Tiga terpidana mati tersebut masing-masing Suryanto, Agus Hadi, Pujo Lestari. Mereka sudah dipindahkan dari Lapas Barelang ke Lapas Nusakambangan, Minggu (8/5) lalu.

Jaksa Agung Muda Pidana Umum (Jampidum) Noor Rachmad memberikan sinyal soal kebenaran nama yang beredar tersebut.
Selain ketiga terpidana mati dari Batam itu, ada tiga WNI lainnya, yakni Freddy Budiman, Zulfikar Ali, da A Yam.

Kemudian ada empat warga Cina yang masuk daftar mati, diantaranya Zhu Xu Xiong, Cheng Hong Xin, Gang Chung Yi dan Jian Yu Xin. Lalu, ada juga dua warga Zimbabwe, yaitu Ozias Sibanda dan Fredderick Luttar.
Dua nama terpidana asal Nigeria juga masuk, yakni Obina Nwajagu dan Humprey Ejike. Menyusul juga seorang warga asal Afrika Selatan, Seck Osmane.

”Karena itu, nama-nama yang beredar hari ini itu belum benar,” tegasnya.
Namun, saat ditanya apakah 16 nama tersebut yang benar-benar dieksekusi? Noor tidak menjawabnya dengan jelas, dia hanya tersenyum. Lalu, dia menyebut, ”Ya, belum benar. Itu saja yang bisa saya katakan,” tutur mantan Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun) tersebut.
Saat ini Kejagung masih dalam proses menentukan siapa terpidana mati yang masuk daftar eksekusi tahap III. Ada sejumlah hal yang dipertimbangkan, seperti aspek yuridis dan teknis. ”Kita masih pikir-pikir,” tuturnya.
Menurutnya, satu per satu terpidana mati itu akan dilihat, apakah sudah selesai masalah hukumnya atau belum. Lalu, apakah masih ada ganjalan lain. ”Kami harus melihat semua dulu. Eksekusi mati ini tidak bisa hukumannya dibatalkan. Ini soal nyawa, kami harus berhati-hati,” tuturnya.
Kejagung memastikan bahwa pemindahan terpidana mati ke Nusakambangan masih berlangsung. Kalau ingin mengetahui siapa saja yang masuk daftar eksekusi, maka silahkan semuanya mengecek. ”Cek dulu kebenarannya. Saya belum tau ada yang dipindah,” jelasnya.
Apa pertimbangan dalam memilih waktu untuk eksekusi mati? Dia menuturkan, ada berbagai aspek yang dibahas, kemanusiaan, kepastian hukum dan sebagainya. ”Semua itu sudah disebut Jaska Agung kan,” tanyanya.
Yang pasti, hingga saat ini semua pihak diminta bersabar , karena bila semua sudah jelas, tentu akan segera diumumkan. ”Tunggu saja tanggal mainnya,” jelas mantan Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sumatera Utara (Sumut) tersebut.
Pengamat Luar Negeri Teuku Rezasyah mengaku, eksekusi mati gelombang ketiga ini akan lebih mudah dibanding dua langkah sebelumnya. Hal tersebut dikarenakan ketiga negara yang terlibat sebenarnya masih memberlakukan praktik hukuman mati. Apalagi, Cina juga memungkinkan hukuman mati bagi jaringan pengedar narkoba.
’’Bukan berarti Indonesia bisa seenaknya. Negara yang terlibat punya posisi signifikan dalam diplomasi Indonesia. Terutama, Cina yang mempunyai hubungan perdagangan dan investasi besar. Pemerintah Indonesia tetap harus berhati-hati dalam berkomunikasi dengan negara-negara yang warganya bakal dieksekusi,’’ terangnya.
Dalam hal ini, pemerintah Indonesia harus menjamin bahwa semua jalur hukum untuk pembelaan terpidana sudah dilalui. Dengan begitu, mereka yakin bahwa hak-hak hukum warga mereka benar-benar terpenuhi. Pemerintah Indonesia pun harus segera mengirimkan notifikasi jauh sebelum eksekusi dilakukan.
Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengaku belum mendapatkan informasi mengenai rencana eksekusi mati. Menurutnya, kewenangan penentuan tanggal ekskusi merupakan hak dari Kejagung. Pihaknya pun mengaku bakal memberitahukan jika sudah mendapatkan surat keputusan dari lembaga tersebut.
’’Yang jelas, ini adalah bagian dari praktik hukum di Indonesia. Kami berharap semua negara bisa menghormati hal ini sebagai salah satu aspek kedautalan hukum Indonesia,’’ ungkapnya.

Sementara terpidana mati kasus narkotik, Mary Jane Fiesta Veloso, dipastikan tidak masuk ke daftar yang akan dieksekusi pada tahap ketiga. Kejaksaan Agung masih menunggu proses hukum yang masih berjalan.

“Hampir pasti bahwa dia (Mary Jane) tidak masuk ke daftar pelaksanaan eksekusi gelombang ketiga,” kata Kepala Kejaksaan Tinggi Daerah Istimewa Yogyakarta, Tony Tribagus Spontana, seusai peresmian rehabilitasi Masjid Al Mizan, Jumat (13/5).

Pelaksanaan eksekusi mati para terpidana gelombang ketiga ini juga belum diketahui secara pasti. Rencananya, eksekusi para terpidana mati akan dilaksanakan di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, seperti pada gelombang pertama dan kedua.

Mary Jane masih dibutuhkan keterangannya untuk proses hukum perekrutnya di Filipina, yaitu Maria Christina Sergio. Namun, sampai saat ini, ibu dua anak itu belum dimintai keterangan oleh penyidik dari Filipina. (idr/jpgrup)

Respon Anda?

komentar