Penyair Tak Pernah Mati

oleh: Husnizar hood

642
Pesona Indonesia

Walau penyair besar
Takkan sampai sebatas Allah

Dulu pernah kuminta Tuhan
Dalam diri
Sekarang tak

Kalau mati
Mungkin matiku bagai batu
tamat bagai pasir tamat
Jiwa membumbung dalam baris sajak

Tujuh puncak membilang-bilang
Nyeri hari mengucap ucap
Di butir pasir kutulis rindu rindu

Walau huruf  habislah sudah
Alifbataku belum sebatas Allah

“WALAU” – Sutardji Calzoum Bachri

“Siapa tak gerun membaca puisi Tardji itu Tok, dulu selalu kami baca berdua, baik membaca di dalam hati ataupun membaca-baca ketika waktu senggang. Dengan gaya tangan kidalnya. Tertawanya yang khas dalam mentertawakan hidup ini. “Menyamping nanti!”, pekiknya sambil tangannya seperti menyuap nasi tapi suapannya ke kiri pipinya tak sampai ke mulutnya. “Siapa?”, tanya saya. Mahmud tak menjawab. Matahari sudah condong berat di belakang Pulau Penyengat. Mahmud mengajak saya ke ujung pelabuhan internasional di Tanjungpinang. “Bom” panjang itu lengang.

Selalu dia bertandang ke rumah saya Tok, kami bertukar cerita walaupun tak seselalu awak…”, kawan saya Mahmud membuka suaranya lagi dengan nada datar dan penuh gusar. “Pernah juga saya membacakannya di panggung dan dia tersenyum lebar seperti puas dan batinnya mungkin ingin mengatakan, inilah kita dan seperti itulah kelak kita, pasti.. ya pasti…”, saya mendengarkan dengan seksama kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut kawan saya itu.

“Newal sudah pergi”, jawab Mahmud ketika saya tak bertanya lagi. Darah saya menderas, mata saya nelangsa, Mahmud menunjuk sebuah bot kecil melaju dengan pantas di laut yang tenang. Langit mendung. “Tapi penyair tak pernah mati Tok,” suara Mahmud samar-samar saya dengar ketika dengan degub jantung yang laju saya tengah melafazkan Al Fatihah.

Saya mengenalnya dengan panggilan Lawen, umurnya di atas saya, ketika SMA dulu saya sudah mengenalnya walaupun dia mungkin tak mengenal saya, kemudian waktu begitu cepat berjalan seperti tak mau menunggu sekejap pun dengan apa yang kita buat. Lawen atau nama lengkapnya Junewal Muchtar muncul sebagai penyair, ia bersahabat dengan Mahmud dan memunculkan buku yang saya yakin akan terus dikenang berjudul “Batu Api”.  Itu mungkin yang ingin dikatakan Mahmud bahwa penyair tak akan pernah mati.

Langkah kami terasa semakin cepat ketika boat kecil itu semakin dekat merapat. Saya membayangkan bukan Lawen yang sedang ditangisi terbaring kaku di sana, tapi ia bagai sedang bersandar dengan gayanya yang santai menikmati laut dengan sajak-sajaknya. Selalu di tengah laut ia berteriak-teriak dengan sajak-sajak spontannya. “Aku keturunan lanun”, selalu ia mengaku begitu karena itu laut bukanlah apa-apa baginya. Laut adalah sahabat tempat ia bercengkrama.

Suara sirene mobil jenazah dan suara orang mengaji menyatu di langit ketika kendaraan terakhir yang membawanya bergerak menuju rumahnya. Magrib hampir tiba dan membawa gundah hati kami. Mahmud memandang jauh dengan tangganya di belakang tak terasa disandarinya. “Ia sudah berjuang dengan segala kekuatan yang ia punya Tok, dengan segala kemampuannya dan ia tahu bawa perjuangan itu pasti akan ada batasnya,” suara Mahmud seperti tercekat di tenggorokannya.

Ruang rumah sederhananya itu seperti menjadi bingkai ketika saya dan Mahmud melihatnya, ia terbujur dan tak ada yang bisa menahan genangan air mata itu tumpah ketika “Puizi Akbar”, anaknya yang bungsu mengelus keningnya sembari berbisik, “Kita sudah pulang Pa, kita sudah di rumah dan Akbar besok sekolah, papa istirahat aja tak usah antar Akbar karena Akbar sudah besar”.

Akbar memang puisi besarnya. Puisi yang selalu ia titipkan dengan kami dan puisi yang harus kami baca agar ia menjadi orang yang berguna. Saya dan Mahmud pun tak sanggup menahan sebak di dada itu dan kemudian kami pamit untuk bertemu besok di rumah duka itu.

“Kematian itu nasehat yang bisu kita harus mengambil iktibarnya Tok.” Saya tersenyum mendengar Mahmud mengatakan itu. Ia bagai seorang penceramah saja. “Ya, nasehat yang lain dalam hidup ini adalah nasehat para penceramah itu Tok, nasehat para ulama dan kyai itu selain nasehat yang paling besar yang harus menjadi panduan hidup kita, Al Quran dan Hadist,” ucap Mahmud pasti. “Maka sia-sialah jika kita tak dapat mengambil iktibar atas sebuah peritiwa kematian itu,” masih Mahmud mengatakannya.

Saya renung lama wajah kawan saya itu. Kenapa ia jadi berucap sesrius itu. Saya lihat ia duduk tak tenang sesekali ia berdiri tanpa tujuan sambil melihat tulisan-tulisan di handphone-nya kemudian ia duduk lagi. Para kerabat yang bertakziah semakin memadat, sejak tadi malam  kami memang sudah berjanji akan mengantarkan Lawen ke peristirahatannya terakhir, pustaka dunia ini di waktu yang agak lebih pagi.

Ketika keranda itu mulai diusung saya sudah mecoba mengalihkan pandangan, tapi ketika suara Mahmud yang menyeruak mewakili keluarga, saya tak kuasa untuk tidak menyaksikannya.

Terbang

Tak seorangpun mampu
Melarung kehidupan
Yang hitam
Seliar camar
Biarkan aku terbang
Menjaring awan
Hingga patah sayap
Dan bulu-bulu berterbangan
Bersama angin
Jiwa liar
Bagai srigala lapar
Nerkam hidup
Nerkam malam
Menggeliat sayap kupu-kupu
Apakah ini sebuah pencairan
Yang rahasia?
Terbang
Melayang
Sampai tak sampai
Pada lorong
Pada mautku

Itu mungkin puisi Lawen yang dibacakan Mahmud dalam melepaskan kepergiannya, saya tak pernah membacanya dan entah dimana kawan saya itu menemukannya. Lawen menuliskannya dengan keberanian yang perkasa. Itu yang mungkin membuat Mahmud kawan saya itu berbeda ceritanya kepada saya. Itu karya yang saya pikir mendekati apa yang dituliskan Sutardji.

Lawen sudah pergi tapi puisi-puisinya tetap diam dalam diri dan tak ada yang bisa mengusirnya sekeras apapun yang dihadapi. Seperti hidup yang pernah Lawen jalani. (Selamat jalan Lawen di pustaka itu puisi-puisimu berdiri)

Respon Anda?

komentar