Saatnya Mengubah Indonesia dari Sumatera

425
Pesona Indonesia
Chairman Riau Pos Grup Rida K Liamsi foto bareng dengan peserta Forum Pemred RPG III di Padang, Sumbar, Jumat (13/5/2016). Foto: RPG
Chairman Riau Pos Grup Rida K Liamsi foto bareng dengan peserta Forum Pemred RPG III di Padang, Sumbar, Jumat (13/5/2016). Foto: RPG

batampos.co.id – Sumatera dengan segala potensi ekonomi yang dimilikinya, harus menjadi kekuatan untuk mengubah Indonesia menjadi jauh lebih baik. Media massa, sebagai salah satu pilar demokrasi, harus mengambil peran dominan di dalamnya.

Hal ini disampaikan Chairman Riau Pos Group (RPG), Rida K Liamsi, saat menjadi pembicara pada Forum Pemimpin Redaksi (Pemred) RPG III di Hotel Grand Inna Muara Padang, Jumat (13/5/2016) siang.

Menurut Rida, Sumatera memiliki segalanya. Selain minyak dan batubara, Sumatera juga memiliki potensi ekonomi yang besar di bidang maritim. Sumatera punya Selat Malaka, Laut Cina Selatan, dan Samudera Hindia.

“Laut di Sumatera juga memiliki potensi besar untuk pariwisata,” kata Rida.

Adanya niat pemerintah yang saat ini ingin menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia, hal itu mesti didukung bersama. Sebab Rida yakin, dengan potensi kemaritiman yang besar, di mana dua per tiga wilayah Indonesia adalah laut, akan bisa membuat negara ini menjadi sangat maju dan kuat.

Jadi, sambung Rida, peran penting yang dapat dimainkan oleh pers dalam era ekonomi maritim ini, salah satunya adalah mendorong terjadinya perubahan paradigma berpikir bangsa ini. Yakni dari negeri agraris yang sejak awal kemerdekaan menjadi doktrin dan landasan pembangunan nasional, menjadi negeri berbasis maritim yang melihat laut dan semua mata rantai hubungannya sebagai kekuatan modal penting dan bukan lagi sebagai beban dan kendala.

”Mengubah paradigma atau pola pikir itu tidak lah muda. Butuh waktu. Sebab itu, pers harus selalu mengabarkan berita-berita kemaritiman ini tiap hari,” tuturnya.

Pada kesempatan itu, Rida mengingatkan fungsi pers saat ini sudah sangat jauh berubah. Bukan lagi hanya sebagai pemberi informasi, pendidik, penghibur, dan pelaku sosialkontrol. Tetapi, juga sebagai pendeteksi awal (early warning) ancaman terhadap bangsanya serta sebagai perancang dan penata masa depan.

Perubahan ini terjadi, karena perkembangan teknologi informasi yang menyebabkan terjadinya konvergensi media, dan perubahan perilaku bisnis dengan munculnya konglomerasi binis media.Selain itu, terang Rida, prinsip-prinsip dasar jurnalistik kini juga berubah.

Dari adagium berita adalah peluru, menjadi berita adalah komuditas. Kini jurnalisme watch dog sudah ditinggalkan dan bergeser pada jurnalisme akomoditif.Pers kini bukan lagi musuh, tapi sudah jadi mitra. Tumbuh bersama dalam kebersamaan.

”Dalam hal ini pers saat ini harus bersahabat, tanpa kehilangan daya kritis dan idependensinya,” ucapnya.

Lebih jauh dia memaparkan, bisnis media massa, khususnya media cetak, saat ini tidak harus bersandar pada penjualan koran dan iklan. Tapi juga bisa merembet pada event organizer, sebagaimana yang terjadi di Singapura saat ini.

Sebab itulah, pada kesempatan tersebut, dia mendorong pers, membuat sejumlah iven yang bisa mendatangkan profit.

Khusus di Sumatera, Rida berharap, dari Forum Pemred RPG ini muncul sinergitas pers untuk membuat iven-iven yang tidak hanya sekadar mendatangkan pendapatan pada perusahaan pers yang bersangkutan. Tapi kegiatan itu juga membuat pers berperan dalam membangun Sumatera untuk mengubah Indonesia.

”Misalnya dengan menggelar iven balap sepeda, Tour de Sumatera. Saya pikir itu bisa dilakukan, bila ada sinergi perusahaan pers. Tidak hanya perusahaan media di Riau Pos Grup saja tapi juga bersinergi dengan perusahaan media massa di Jawa Pos Group regional Sumatera lainnya. Intinya saya berharap forum ini bisa melahirkan satu kerja yang fokus untuk membangun Sumatera dan mengubah Indonesia,” terangnya.

Selain Rida K Liamsi, kegiatan Forum Pemimpin Redaksi Riau Pos Group
kemarin, juga diisi (CEO) Riau Pos Group, Makmur Kasim, pada sesi paginya. Dalam kesempatan itu, dia menyampaikan, jaringan media massa tidak ikut sibuk menenggelamkan diri dalam media, yang saat ini menjadi pembicaraan hangat menyusul adanya anggapan media massa cetak berada dalam senja kalanya. Untuk tetap hidup dan terus tumbuh, membangun pembaca muda dengan membuat rubrik khusus dan unik untuk anak muda.

”Pembaca muda itu memang harus dibangun. Kalau tidak itu yang dilakukan, maka lambat laun perusahaan pers cetak akan jadi mati,” tuturnya. (cip/jpgrup)

Respon Anda?

komentar