Gelapkan Uang Rp 1,95 Miliar, Hanya Dihukum Penjara 1,5 Tahun

903
Pesona Indonesia
Ilustrasi
Ilustrasi

batampos.co.id – Roedianto Tri Noegroho, terdakwa kasus penipuan dan penggelapan senilai Rp 1,95 miliar yang dilakukan pada tahun 2013 divonis satu tahun dan enam bulan penjara oleh majelis hakim, dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang, Senin (16/5).

Dalam putusannya Ketua Majelis Hakim Guntur menyatakan terdakwa terbukti melakukan serangkaian perbuatan dengan maksud hendak menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hak. Baik dengan memakai nama palsu atau keadaan palsu, baik dengan akal dan tipu muslihat, maupun karangan dengan perkataan-perkataan bohong, membujuk orang supaya memberikan sesuatu barang, membuat hutang atau menghapuskan piutang. Dimana perbuatan terdakwa itu diatur dan diancam pidana dalam pasal 372 KUH. Pidana.

”Atas perbuatan terdakwa yang telah terbukti dipersidangan kami Majelis Hakim menghukum terdakwa dengan hukuman 1 tahun dan 6 bulan penjara dipotong masa tahanan dengan perintah tetap di tahan,” ujar Guntur.

Atas putusan ini terdakwa Roedianto yang tidak didampingi oleh penasehat hukum menyatakan pikir-pikir selama satu minggu sejak putusan ini di bacakan. Begitu juga dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Zaldi Akri.

Putusan yang dijatuhkan Majelis Hakmi ini lebih ringan 6 bulan dari tuntutan JPU yang sebelum menuntut terdakwa dengan hukuman 2 tahun penjara.

Dalam, dakwaannya, JPU menguraikan adapun kejadian ini bermula saat korban Yak Bun alias Abun akan mengikuti pelelangan pengadaan barang dan jasa di Pemkab Bintan Propinsi Kepulauan Riau tentang pengadaan mobil.

Untuk mengikuti pelelangan pengadaan barang dan jasa tersebut korban memerlukan surat dukungan, kemudian korban mengajukan surat dukungan kepada PT Duta Cermerlang Motor melalui terdakwa. Dengan memakai perusahaan yang bernama CV Bintana Buana Alam dan CV Bintan Terang.

Setelah itu, Duta Cemerlang Motor Jakarta pun kemudian mengeluarkan surat dukungannya melalui terdakwa. Kemudian terdakwa mengirimkan surat dukungan tersebut kepada korban, hingga korban memasukan penawaran dengan menggunakan Perusahaan CV Bintana Buana Alam untuk pengadaan Bus dan CV Bintan Terang untuk pengadaan truk tangga berjalan.

Saat itu, korban dan terdakwa sepakat atas permintaan Chasis Mobil merk HINO sebanyak sembilan unit Chasis menjadi bus yang terdiri dari 2 bus pakai AC dan 7 bus non AC serta 1 unit truk untuk tangga berjalan. Lalu terdakwa meminta harga karoseri tersebut, untuk bus AC per unitnya adalah sebesar Rp 254 juta, dan bus non AC per unitnya harganya adalah sebesar Rp 175 juta. Serta untuk truk tangga berjalan dengan harga sebesar Rp 217 juta.

Dengan kesepakatan harga itu, pada bulan Maret 2013 terdakwa telah meminta uang pembelian chasis mobil kepada korban sebesar lebih kurang Rp 4.335.000.000. Namun, faktur dan NIK mobil tersebut oleh terdakwa belum dapat menyerahkannya kepada korban saat itu. Saat itu terdakwa mengatakan bahwa faktur dan NIK mobil tersebut sedang dilakukan pengurusannya dan akan dikirimkan dikemudian hari.

Akibatnya, perbuatan terdakwa pun merugikan korban dimana korban hingga saat ini belum dapat untuk mengurus surat-surat kendaraan berupa STNK dan BPKBnya.(ias/bpos)

Respon Anda?

komentar