Koko Kaya Garap 58 ABG, Kasus Dipetieskan Aparat, Kini Dibongkar Aktivis Anak

1112
Pesona Indonesia
Ilustrasi. Foto: Pixabay
Ilustrasi. Foto: Pixabay

batampos.co.id – Kasus pembunuhan yang diawali pelecehan siswi SMP di Lampung oleh 14 remaja, kasus pembunuhan si cantik Eno yang alat vitalnya ditusuk gagang cangkul hingga tewas, hanya dua dari sekian banyak kasus perkosaan yang diakhiri pembunuhan di berbagai wilayah di Indonesia.

Namun pelan tapi pasti, kasus-kasus lama yang sempat dipetieskan oleh aparat karena melibatkan orang-orang hebat dan berduit, akhirnya terbongkar kembali.

Salah satunya kasus dugaan pemerkosaan yang diduga dilakukan Sony Sandra alias Koko, mencuat kembali. Tidak tanggung-tanggung, Koko dituduh memperkosa 58 anak baru gede (ABG).

Dari pengakuan beberapa korban, mereka digauli Koko beberapa.

Kasus dugaan pemerkosaan Koko terungkap ke publik secara luas setelah Lembaga Perlindungan Anak dan Perempuan “Brantas” melaporkan kejadian ini ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Senin (16/4/2016).

Ceritanya, tim investigasi “Brantas” melakukan wawancara terhadap salah seorang korban berinisial AK yang kini telah menginjak kelas II SMP. Pada saat menjadi korban kebiadaban Koko, AK masih duduk di kelas VI SDN Jagalan, Kediri.

Dari wawancara dengan AK, selanjutnya tim investigasi melakukan wawancara terhadap korban-korban lainnya dan orang tua korban atas tindakan perkosaan yang dilakukan oleh Koko.

Tim investigasi Brantas mengidentifikasi sebanyak 17 korban pemerkosaan oleh Sony Sandra yang telah mengaku “dikerjai” oleh pelaku. Diduga, ada 58 anak yang menjadi kebiadaban Koko.

Dari cerita korban AK, tim investigasi memperoleh kronologis, bahwa awal mula perkenalan AK dengan pelaku, korban dikenalkan oleh “mami”. Mami yang dimaksud adalah korban Koko lainnya, yang sudah dicabuli untuk dipesankan oleh Koko agar mengajak teman-temannya yang lain yang masih perawan.

Sehingga dari sekian banyak korban pencabulan sistem perkenalan seperti multy level marketing (MLM). Pelaku mencabuli para korban sendirian atau sekaligus bertiga dengan korban-korban yang lain.

Para korban dijemput di tempat kos atau di rumah temannya oleh pelaku dengan menggunakan mobil yang berbeda. Korban AK mengaku diberi pil warna putih, kemudian digiring ke hotel lalu kemudian diperkosa oleh Koko.

Korban AK mengaku setelah menenggak pil pemberian pelaku, mengalami pusing, mau muntah, badan lemas, wajah merah, tangan dan kaki kram. Pencabulan terhadap korban AK dan teman-temannya dilakukan secara bergilir oleh pelaku. Korban AK kemudian dipulangkan oleh pelaku ke rumah temannya yang lain, lalu dibayar Rp 400 ribu.

AK mengaku, ia dan teman-temannya dicabuli beberapa kali di hari yang berbeda. Pengakuan salah seorang korban lainnya berinisial CAL, dia dicabuli 2 kali dan pernah pingsan akibat efek pil yang dia minum karena dipaksa oleh pelaku. Pengakuan korban berinisial A dicabuli 4 kali, lalu diberi uang Rp 700 ribu oleh Koko.

Pembina Yayasan Kekuatan Cinta, Betania Eden atau kerap disapa Ibet yang melakukan pendampingan kepada korban AK membeberkan, pelaku bahkan kerap mengajak para anak yang menjadi korbannya untuk menonton film esek-esek di kamar hotel.

Kasus ini kemudian terungkap setelah korban AK hilang selama 5 hari, saat jelang Tryout UN SD pada Maret 2015. Ibu AK, bernama Sri Supakarti yang panik lalu melaporkan kehilangan AK ke Babinkamtibmas Kelurahan Jagalan Kediri.

Hingga akhirnya, AK ditemukan di Simpang Lima Gumul, dengan keadaan linglung seperti hilang ingatan. AK lalu mengaku dirinya disetubuhi oleh Koko.

AK mengaku bahwa ia dijual oleh temannya bernama IG yang juga merupakan korban kebejatan Koko. Ditemukan juga korban lain bernama FD yang mengenalkan IG kepada Koko. Jadilah model korban Koko seperti modus MLM.

Kasus ini sendiri kemudian berkembang, dan pelaku Koko sempat ditangkap oleh polisi namun kemudian pelaku memberikan uang damai sebesar Rp 20 juta dan meminta maaf kepada orang tua korban IG.

Sementara orang tua AK diberi Rp60 juta. Mengingat pelaku merupakan bos besar dan tokoh yang berpengaruh di Kediri dan Jawa Timur, ada tekanan dari penyidik Polresta meminta para pelapor untuk mencabut laporannya.

Padahal, Koko sangat biadab dalam melakukan aksinya, dimana setiap korban yang dicabuli diberi obat yang memiliki efek pusing, lemas, mual, gemetar dan bahkan korban yang pingsan dan pelaku juga minum obat tersebut.

Sementara orang tua AK diberi Rp60 juta. Mengingat pelaku merupakan bos besar dan tokoh yang berpengaruh di Kediri dan Jawa Timur, ada tekanan dari penyidik Polresta meminta para pelapor untuk mencabut laporannya.

Padahal, Koko sangat biadab dalam melakukan aksinya, dimana setiap korban yang dicabuli diberi obat yang memiliki efek pusing, lemas, mual, gemetar dan bahkan korban yang pingsan dan pelaku juga minum obat tersebut.

Koko juga selalu mengauli dua atau tiga anak dibawah umur dalam satu kamar secara bergantian, dan dilakukan dua tahap dengan diselingi menontont film tak sopan.

Pelaku Koko juga berusaha menghilangkan jejak, alat bukti dan menakut-nakuti para korban dan orang tua korban untuk tidak berbicara dengan wartawan atau pihak-pihak lain.

Pelaku Koko menguasai para korbannya termasuk keluarga korban dan memberikan uang kompensasi agar mau berdamai mengingat status sosial para korban Koko yang miskin dan dibawah intimidasi dirinya. (zul/rmol/one/pojoksatu)

Respon Anda?

komentar