Pengusaha Kaya yang Garap 58 ABG Sesumbar Bisa Bayar Polisi, Jaksa, Hakim, hingga Presiden

1723
Pesona Indonesia
Ilustrasi
Ilustrasi

batampos.co.id – Uang memang kerap “dipertuhankan” oleh orang-orang tertentu, sehingga sesukanya berbuat karena merasa bisa menyogok korbannya, polisi, jaksa, hakim, hingga pejabat yang lebih tinggi.

Bisa jadi hal ini juga yang membuat Sony Sandra alias Koko yang diduga merudapaksa 58 AGB di Kediri. Pasalnya, kasus pengusaha sukses ini sempat dipetieskan aparat hingga tak ada satupun kasusnya sampai ke meja hijau karena uangnya yang lebih berkuasa.

Baca Juga:
> Koko Kaya Garap 58 ABG, Kasus Dipetieskan Aparat, Kini Dibongkar Aktivis Anak
> Koko yang Garap 58 ABG Selalu Cekoki Obat Korbannya Agar Tak Hamil

Kasus dugaan pemerkosaan Koko terungkap ke publik secara luas setelah Lembaga Perlindungan Anak dan Perempuan (Brantas) melaporkan ulah Koko ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Senin (16/4/2016).

Salah pendamping korban, Ferdian membenarkan kalau Koko adalah seorang pengusaha kaya raya.

“Kami juga mendapat cerita bahwa Koko pernah sesumbar bahwa dirinya bisa membeli semuanya. Termasuk Hakim, jaksa, polisi hingga Presiden Jokowi,” kata Ferdian.

Nah, karena itulah, Brantras pun ke Jakarta dan berniat menyampaikan itu semua ke Presiden Jokowi.

Ceritanya, tim investigasi Brantas melakukan wawancara terhadap salah seorang korban berinisial AK yang kini telah menginjak kelas II SMP.

Pada saat menjadi korban kebiadaban Koko, AK masih duduk di kelas VI SDN Jagalan, Kediri.

Dari wawancara dengan AK, selanjutnya tim investigasi melakukan wawancara terhadap korban-korban lainnya dan orang tua korban Koko lainnya.

Tim investigasi Brantas mengidentifikasi sebanyak 17 korban oleh Koko yang telah mengaku “dikerjai” oleh pelaku. Diduga, ada 58 anak yang menjadi kebiadaban Koko.

Dari cerita korban AK, tim investigasi memperoleh cerita kronologis, bahwa awal mula perkenalan AK dengan pelaku, korban dikenalkan oleh “mami”.

Mami yang dimaksud adalah korban Koko lainnya, yang sudah dicabuli untuk dipesankan oleh Koko agar mengajak teman-temannya yang lain yang masih perawan.

Sehingga korban lainnya mencarikan calon korban lain. Pelaku mencabuli para korban sendirian atau sekaligus bertiga dengan korban-korban yang lain dalam satu kamar hotel.

Para korban dijemput di tempat kos atau di rumah temannya oleh pelaku dengan menggunakan mobil yang berbeda. Korban AK mengaku diberi pil warna putih, kemudian digiring ke hotel lalu kemudian dirudapaksa oleh Koko.

Korban AK mengaku setelah menenggak pil pemberian pelaku, mengalami pusing, mau muntah, badan lemas, wajah merah, tangan dan kaki kram.

Korban AK dan teman-temannya digarap bergilir oleh pelaku. Korban AK kemudian dipulangkan oleh pelaku ke rumah temannya yang lain, lalu dibayar Rp 400 ribu.

AK mengaku, ia dan teman-temannya digituin beberapa kali di hari yang berbeda.

Pengakuan salah seorang korban lainnya berinisial CAL, dia digituin 2 kali dan pernah pingsan akibat efek pil yang dia minum karena dipaksa oleh pelaku.

Pengakuan korban berinisial A digarap 4 kali, lalu diberi uang Rp 700 ribu oleh Koko.

“Saya juga pernah ditawari sebuah sepeda motor dan uang Rp 50 juta untuk keluarga,” kata AK. (sta/pojoksatu)

Respon Anda?

komentar