TNI AL Siaga di Laut Cina Selatan

2583
Pesona Indonesia
KRI Slamet Riyadi 352 berangkat dari Palbauhan Mahkobar, Batuampar menuju laut China Selatan, Ranai, Natuna, Kepri di laut China Selatan, Senin (16/5/2016). Foto: Dalil Harahap/Batam Pos
KRI Slamet Riyadi 352 berangkat dari Palbauhan Mahkobar, Batuampar menuju laut China Selatan, Ranai, Natuna, Kepri di laut China Selatan, Senin (16/5/2016). Foto: Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Ketegangan di Laut Cina Selatan membuat TNI AL ikut waspada. Bahkan jajaran Armada Kawasan Barat (Armabar) menggelar rapat komando di tengah laut yang kaya minyak dan gas bumi itu mulai Senin (16/5/2016).

Panglima Komando Armabar, Laksamana Muda TNI Achmad Taufiqoerrochman, mengatakan sejauh ini memang sudah ada pembicaraan secara diplomatik antara RI dengan pemerintah Cina. Kata Taufiq, Cina tidak lagi mengklaim sebagian laut Natuna merupakan bagian dari wilayah mereka.

“Namun begitu, bukan berarti Indonesia lengah. Perkembangan terkini tetap kami amati. Termasuk juga apa yang dilakukan angkatan laut (Cina) di sekitaran Laut Cina Selatan,” kata Taufiq saat jumpa pers di Batam sebelum berlayar ke Laut Cina Selatan, kemarin.

Taufiq menjelaskan, rapat komando Armabar tersebut digelar di atas kapal perang (KRI) Slamet Riyadi-352.

“Ini kegiatan rutin kita untuk melaksanakan rapat komando. Biasanya kita laksanakan di Markas Komando sekarang di Laut Cina Selatan,” ujarnya.

Pihaknya sengaja memilih lokasi Laut Cina Selatan agar para anggota Armabar bisa melihat langsung situasi sesungguhnya di kawasan sengketa itu.

Selain rapat, jajaran personel Armabar juga menggelar latihan uji kesiapan armada dan persiapan personel mulai dari Dankolak hingga Satlak.

“Apa yang menjadi kekurangan, kita perbaiki dan evaluasi dalam rapat komando ini,” lanjut Laksamana Muda yang pernah memimpin Operasi Satgas Merah Putih dalam Operasi pembebasan sandera kapal MV Sinar Kudus ini.

Menurut Taufiq, saat ini Armabar memiliki tiga macam komando. Pertama komando pelaksana operasi, komando pelaksanaan dukungan, serta komando pelaksanaan pembinaan.

“Ada tiga wilayah yang jadi tanggungjawab saya, yakni Samudra Hindia, Selat Malaka dan Laut Cina Selatan,” jelasnya.

Dia menjelaskan, KRI Slamet Riyadi 352 merupakan kapal kedua dari kapal perang Perusak Kawal Berpeluru Kendali kelas Ahmad Yani milik TNI AL. Kapal ini termasuk Fregat kelas Leander dengan sedikit modifikasi dari desain RN Leander asli.

KRI Slamet Riyadi dipersenjatai dengan berbagai jenis persenjataan modern untuk mengawal wilayah kedaulatan Indonesia. Termasuk di antaranya delapan peluru kendali, empat peluru kendali peluncur Simbad laras ganda sebagai pertahanan anti serangan udara dan satu Meriam OTO-Melara 76/62 compact

“SelainĀ  itu kapal ini dilengkapi dua Senapan mesin 12,7 mm, 12 Torpedo Honeywell Mk. 46, dengan jangkauan 11 km kecepatan 40 knot dan hulu ledak 44 kilogram. Berkemampuan anti kapal selam dan kapal permukaan,” jelas Taufiq disela-sela pengenalan KRI Slamet Riyadi 352.

Terkait Selat Malaka, Taufiq mengklaim terjadi penurunan kasus perompakan. Dari 175 kasus sejak tahun 2015, setelah ditangani, terhitung pada November 2015 menjadi 0 kasus.

“Sekarang tidak ada lagi kasus, dan ini menjadi apresiasi luar biasa bagi pengguna Selat Malaka. Maka itu kita fokuskan ke Laut Cina Selatan,” ucapnya. (rng/bp)

Respon Anda?

komentar