Jejak Toleransi Antarumat Beragama di Tanjungpinang

1755
Pesona Indonesia
Vihara Bahtra Sasana di Jalan Merdeka, Tanjungpinang. foto:yusnadi/batampos
Vihara Bahtra Sasana di Jalan Merdeka, Tanjungpinang. foto:yusnadi/batampos

batampos.co.id – Kerukunan antarumat beragama di Tanjungpinang sudah berlangsung sejak dahulu. Dulu sekali, lebih dari seabad lalu. Sebuah warisan nilai kebersamaan yang mesti lestari hingga hari ini. Mari menapaktilasi.

Seputaran Jalan Merdeka adalah jantung kota. Kehidupan Tanjungpinang berdenyut di sini. Perdagangan sudah pasti. Pertukaran informasi barang tentu iya. Kedai kopi di sini berbaris-baris. Namun, tiada arti segala aktivitas tersebut tanpa diiringin dengan peribadatan. Dan di titik pusat jantung kota pun berdiri tempat peribadatan macam-macam agama. Menariknya, tiga rumah ibadat di sini jaraknya hanya sepelemparan batu.

Pertama dan yang paling terlihat dari Jalan Merdeka adalah Bahtra Sasana. “Desain bangunannya klasik,” ujar Artika Fatmawati, remaja muda yang ditemui tengah berfoto berlatarbelakangkan vihara di Jalan Merdeka itu, kemarin.

Nuansa klasik merupakan nilai lebih dari vihara yang sudah dijadikan tempat sembahyang sejak tahun 1857 itu. Pintunya saja setebal sepuluh sentimeter, dilengkapi slot pasak kayu khas tempo dulu. Sementara ketika menengadahkan kepala, tampak jejalin kayu-kayu berukir naga yang kehitaman.

Jani, relawan vihara yang dijumpai, menerangkan kayu ini belum pernah diganti sejak pertama berdiri. ”Juga tidak pernah diubah catnya,” katanya sambil mengelus permukaan kayu yang dimaksudnya. ”Masih asli haa,” tambahnya dengan dialeknya yang kental.

Dengan senang hati, kakek 57 tahun itu mengajak Batam Pos berkeliling ke seluruh ruangan di dalam Vihara. Jani seketika berhenti di hadapan salah sebuah altar bertuliskan Lau Chou di hadapannya. Ada kisah menarik yang Jani bagikan pagi kemarin. Menurutnya, Lau Chou ini yang menjadi dasar penentuan lokasi didirikannya Vihara Bahtra Sasana di Jalan Merdeka.

Saat itu, kata dia, rombongan etnis Tionghoa yang datang dari Cina datang ke Tanjungpinang dengan memanggul Lau Chou. Bentuk Lau Chuo menyerupai singgasana panggul seorang raja. Hanya saja berbentuk lebih mini. Mereka merapat di Tanjungpinang malam hari. Akibat lelah mengarungi perjalanan panjang, rombongan dari Cina pun itu beristirahat di lokasi yang sekarang dijadikan Vihara.

”Mereka orang bangun pagi, tapi sudah tak bisa angkat itu Lau Chuo,” tutur Jani. Sehingga, rombongan dari Cina itu pun memutuskan untuk mendirikan Vihara di sini, tempat Lau Chuo yang tiba-tiba tak bisa diangkat itu. ”Jadilah Vihara ini di Jalan Merdeka,” lanjutnya.

Vihara Bahtra Sasana paling riuh dikunjungi kala perayaan tahun baru imlek. Jani menuturkan, tidak hanya warga Tanjungpinang dan Bintan saja yang berdatangan. “Orang Singapura juga banyak haa,” katanya.

Bergeser sekitar tiga ratus meter dari Vihara Bahtra Sasana melewati jalan Teuku Umar, ada sebuah gereja. Tempat ibadah bagi umat nasrani ini punya narasi istemewa. Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Bethel atau, yang oleh masyarakat Tanjungpinang acap disebut gereja ayam.

Disebut demikian karena ada bentuk ayam yang terbuat dari besi penunjuk arah angin yang terletak di puncak menara. Patung ayam ini dapat bergerak 180 derajat sesuai dengan arah angin.

Bangunan gereja yang berlokasi di JL. Gereja no 1 Tanjungpinang ini pertama kali dibangun sekitar tanggal 14 Februari 1835, dan selesai sekitar setahun kemudian. Hal ini merujuk dari catatan Pendeta Eberhardt Herman Rottger asal Jerman yang bertugas sebagai misionaris di Riouw (Tanjungpinang dari tahun 1833-1842).

Gereja pertama yang dibangun di Tanjungpinang ini, saat diresmikan, disebut De Nederlandse Hervormde Kerk te Tandjoengpinang (Gereja Protestan Belanda di Tanjungpinang). Kala itu, jemaatnya didominasi orang-orang Belanda dan tentara Belanda yang berdarah Indonesia.

Catatan tersebut, diterbitkan dengan judul Berichten omtrent Indie, gedurende een tienjarig verblijf aldaar (Laporan tentang Hindia, selama sepuluh tahun tinggal di sana). Tulisan tersebut diterbitkan oleh penerbit Ballot di Kota Deventer tahun 1846. E.H. Rottger, adalah tokoh penting yang terlibat dalam Pembangunan gereja ini.

Aswandi Syahri, sejarawan Kepri, pernah menjelaskan, Yang Dipertuan Muda (YDM) Riau VII, Raja Abdurrahman, turut membantu pembangunan tempat ibadah umat kristiani ini, dengan menyumbangkan bahan-bahan material. Bantuan serupa juga disalurkan oleh Kapitan Cina. “Ini sekaligus bukti bahwa masyarakat Tanjungpinang punya sikap toleransi antarumat beragama yang tinggi,” ujar Aswandi.

Hingga pada akhirnya, Pemerintah Kota Tanjungpinang menetapkan bangunan GPIB atau gereja ayam sebagai Benda Cagar Budaya (BCB), berdasarkan Undang-undang RI Nomor 5 tahun 1992. Karena lokasinya yang strategis dan berdekatan dengan pusat kota, tak heran bila hingga hari ini, masih banyak wisatawan yang mengunjungi gereja tua ini. Kendati hanya sekadar berfoto.

Sepelemparan batu dari Gereja Ayam, ada Masjid Al-Hikmah. “Adalah orang Keling dari Coromandel, India, yang beragama Islam yang membangunnya,” terang Aswandi.

Orang Keling, kata Aswandi, adalah imigran asal India yang singgah di Tanjungpinang di abad 19. Kedatangan mereka bukan untuk menetap. “Tapi hanya berdagang kain, roti, rempah-rempah, dan obat-obatan,” lanjut Aswandi. Setelah beberapa waktu menetap di Tanjungpinang, sekumpulan orang Keling ini pun bersepakat membangun satu rumah ibadah.

Namun, dalam ada fakta terselubung yang Aswandi ketahui. Katanya, orang-orang Keling saat itu, ketika beribadah masih menggunakan ritual-ritual islam ala India. “Karena ketika renovasi penggalian pondasi, aku menemukan pecahan tembikar dari dalam tanah,” tuturnya. Sehingga, sejarawan berkacamata ini berasumsi, tembikar itu adalah semacam tempat meletakkan stanggi (dupa).

Ketika ditanya mengenai tarikh pasti pembangunan masjid yang kini mampu menampung 3000-4000 jamaah itu, Aswandi tak mengetahui secara pasti. “Yang jelas setelah vihara dan lebih dulu dari Gereja Ayam,” taksir Aswandi. Taksiran Aswandi ini merujuk pada arsip laporan pembangunan Gereja Ayam, yang menyebutkan, pendeta mengeluhkan ketiadaan gereja di Tanjungpinang. “Padahal sudah ada vihara dan masjid,” ucap Aswandi merujuk laporan tersebut.

Bila benar sedemikian itu, masjid yang terletak di jantung kota ini diperkirakan sudah berusia lebih dari satu abad. Namun, tak satu pun dari bangunan yang bisa dijumpai hari ini adalah bangunan asli. “Karena sudah banyak mengalami renovasi,” kata Aswandi. Ihwal bentuk asli masjid yang juga disebut Masjid Kuala Sungai itu, Aswandi menyebutkan, tak ada satu pun foto dokumentasinya. Namun, diperkirakan, bangunan asli Masjid Keling ini berbentuk panggung.

Perkiraan Aswandi ini berpulang pada ingatannya mengunjungi sebuah pameran sejarah ketika perayaan ulang tahun Kota Tanjungpinang 6 Januari 1987 silam, di Gedung Olahraga Kacapuri. “Di situ, ada orang yang memamerkan lukisan sketsa Masjid Keling yang masih berbentuk rumah panggung,” ungkap Aswandi. Hal ini, kata dia, sebuah kemungkinan yang lazim. Pasalnya, di abad 19 silam, arsitektur khas bangunan di Tanjungpinang adalah berbentuk panggung. “Meski bangunan itu jauh dari laut,” tegasnya.

Lalu, di manakah kini keberadaan orang-orang Keling itu? Aswandi mengatakan, rombongan kecil para pedagang itu meninggalkan Tanjungpinang di pertengahan dekade 1950-an. “Kebanyakan mereka memilih pergi ke Singapura atau pun Medan, sebagai basis besar orang Keling terdekat dari Tanjungpinang,” terang Aswandi. Namun, ada pula sebagian kecil orang Keling memilih menetap di Tanjungpinang dengan mempersunting orang tempatan. (muf/bpos)

Respon Anda?

komentar