Mobil Dinas Pemerintah di Lingga Masih Pakai BBM Subsidi

1136
Pesona Indonesia
Mobil plat merah bernomor polisi BP 9 L mengisi mobil dengan bensin subsidi di salah satu kios eceran di Daik, Selasa (175) sore. foto:hasbi/batampos
Mobil plat merah bernomor polisi BP 9 L mengisi mobil dengan bensin subsidi di salah satu kios eceran di Daik, Selasa (175) sore. foto:hasbi/batampos

batampos.co.id – Penertiban mobil plat merah alias mobil dinas di Daik, ibukota Kabupaten Lingga untuk tidak menggunakan bahan bakar minyak (BBM) bensin subsidi tak membuahkan hasil. Sejumlah mobil dinas mengakalinya dengan menggunakan jasa pedagang eceran yang menjual BBM subsidi jatah masyarakat untuk digunakan sebagai bahan bakar mobilitas abdi pemerintah.

Pantauan dilapangan, sejumlah lokasi kios menjadi langganan mobil plat merah. Tanpa rasa bersalah, sejumlah oknum berpakaian dinas, merampas jatah masyarakat. Padahal, sesuai aturan mobil plat merah wajib menggunakan bensin non subsidi jenis pertamax.

Pertamax sudah tersedia di Lingga sejak 2014 akhir lalu. Pengadaanya lewat pertamini hasil kerja sama Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dengan Pemkab Lingga. Pertamini ini khusus memenuhi kebutuhan mobilitas mobil pemerintah tersebut.

“Kita juga heran, sudah ada pertamini khusus mobil pemerintah, tapi mereka (pemerintah) malah mengambil jatah masyarakat,” ungkap seorang warga, Zul, kemarin.

Katanya, hampir setiap hari mobil plat merah ngetem dan mengisi bensin di sejumlah lokasi kios eceran. “Itukan jatah masyarakat. Kalau pemerintahnya saja tak ikut aturan, kenapa kita juga harus tertib,” katanya.

Hal ini menurutnya tidak bolah dibiarkann berlarut-larut. Pemerintah tidak boleh semena-mena menggunakan jatah bensin subsidi masyarakat yang memang telah diatur pemerintah pusat.
Sementara itu, di Pertamini milik BUMD di Kampung Tanda Hulu Daik Lingga, sepi pembeli.

“Kita sekarang sudah tidak jual pertamax lagi. Rugi. Sebab, mobil dinas juga tidak pernah ambil di sini. Mereka lebih senang beli di kios eceran,” ungkap seorang petugas yang enggan namanya disebutkan.
Karena rugi, perusahan tersebut untuk sementara menyetop pasokan pertamax. Beberapa bulan berjalan, pihak BUMD mengaku rugi menyediakan BBM untuk mobil plat merah. Padahal, antara BUMD dan Sekda Lingga beberapa waktu lalu telah melayangkan surat imbauan baik kendaraan roda empat maupun roda dua berplat merah wajib menggunakan pertamax. “Pertamax terakhir per liternya kita jual Rp 13 ribu,” tambah petugas tadi.

Sementara harga bensin eceran, jauh lebih murah. Di Daik, harga eceran per liter bisa Rp 7 hingga Rp 8 ribu. Sementara dinas pemerintah daerah, setiap tahunnya jelas menganggarkan bensin non subsidi yang harganya lebih tinggi namun di lapangan malah tetap melakukan tindakan tidak terpuji menggunakan jatah BBM subsidi masyarakat. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar