Satpolair Karimun Tangkap Kapal Penyelundup Minyak Tanah

897
Pesona Indonesia
Belasan jerigen minyak tanah yang diamankan Sat  Polair saat akan dibawa ke Guntung. foto:sandi/batampos
Belasan jerigen minyak tanah yang diamankan Sat Polair saat akan dibawa ke Guntung. foto:sandi/batampos

batampos.co.id – Satuan Polisi perairan (Sat Polair) Polres Karimun mengamankan kapal kayu KM Karya Mandiri pada saat sedang melakukan patroli di Perairan Lubuk, Tanjungbatu, Kabupaten Karimun, Kamis (12/5) dini hari pukul 03.30 WIB. Polisi menangkapnya karena membawa muatan minyak tanah yang diduga akan diselundupkan keluar wilayah Kabupaten Karimun.

”Pada saat kita melaksanakan patroli, menemukan kapal yang sarat dengan muatan. Kemudian, kapal patroli kita melakukan pengejaran. Pada saat itu di dalam ada tiga orang, yakni Um, Pr dan Jp. Dari keterangan ketiganya bahwa kapal hanya mengangkut muatan air mineral dalam kemasan gelas dan galon serta batako yang berasal dari Sawang, Kundur barat,” ujar Kasat Polair Polres Karimun, Iptu Fahmi Fiandra, Selasa (17/5).

Namun, katanya, anggota Sat Polair tidak begitu saja percaya. Sehingga pada saat dibongkar di dalam palka ternyata di tengah-tengah tumpukan batako dan air mineral tadi terdapat 15 jerigen minyak tanah untuk dijual ke Pulau Guntung. Dengan temuan ini, kru kapal tidak bisa mengelak dan mengaku salah. Sebab, minyak tanah yang dibawa merupakan minyak tanah bersubsidi yang hanya diperuntukkan bagi daerah yang sudah mendapatkan alokasi.

”Kru kapal sempat berbohong, karena muatannya hanya batako dan air mineral saja. Tapi, setelah ketahuan ada minyak tanah bersubsidi yang berasal dari Sawang dengan tujuan akan dibawa keluar wilayah daerah yang mendapatkan alokasi, hal ini tidak diperbolehkan. Karena, peruntukkannya sudah jelas untuk daerah yang mendapatkan alokasi. Untuk itu, dalam kasus ini kita telah menetapkan dua orang tersangka, yakni Um dan Pr. Sedangkan, satu orang lagi rekannya berinisial Jp sebagai saksi,” papar Fahmi.

Pasal yang dikenakan terhadap kedua tersangka, lanjut Fahmi, adalah pasal 55 Undang-Undang Nomor 22 tahun 2001 tentang Migas jo pasal 55 dan 56 KUH-Pidana dengan ancaman pidana penjara 5 tahun. Selain itu, sarana pengangkut berupa kapal dan muatan lainnya dijadikan barang bukti. Karena, batako dan air mineral digunakan untuk menutup 15 jerigen yang berisi minyak tanah.

Asal minyak tanah, Fahmi menyebutkan, dari seseorang berinisial Cd di Sawang. Tetapi memang minyak tanah tersebut diambil dari agen resmi, hanya saja peruntukkannya tidak resmi atau untuk orang di luar wilayah yang mendapatkan alokasi. ”Saat ini, Cd sudah melarikan diri dan kita masukkan ke dalam daftar pencarian orang (DPO). Dan, kegiatan seperti ini sudah dilakukan beberapa kali,” ungkapnya.

Tersangka Pr secara terpisah mengaku bahwa dengan membawa minyak tanah untuk tujuan ke Guntung dia mendapatkan upah Rp 100 ribu. ”Sudah tiga kali saya membawa muatan minyak. Upahnya dibagi berdua,” jelasnya. (san/bpos)

Respon Anda?

komentar