Dinkes Bintan Sweeping Warga untuk Pastikan Sudah Konsumsi Obat Filariasis

940
Pesona Indonesia
Obat filariasis untuk orang dewasa (kiri),  dan obat untuk anak-anak (kanan). foto:net
Obat filariasis untuk orang dewasa (kiri), dan obat untuk anak-anak (kanan). foto:net

batampos.co.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bintan telah mendistribusikan sebanyak 313.839 butir obat pencegah penyakit filariasis atau kaki gajah ke 15 puskesmas yang berada di 10 kecamatan Bintan. Obat yang didistribusikan itu terbagi dalam dua jenis yaitu Diethylcarbamazine (DEC) sebanyak 206.545 butir dan Albendazol Sebanyak 107.294 butir.

“Untuk jenis DEC itu diberikan menyesuaikan dengan usia. Sedangkan Albendazol untuk umum. Memang obat ini untuk mencegah agar masyarakat tidak terinveksi filariasis, namun kita tidak sembarang memberikannya,” ujar Kasi Penanggulangan Penyakit, Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Bintan, Subyanto di Kantornya, Kamis (19/5).

Kegiatan yang dilakukan Dinkes Bintan merupakan tahun ke-4 dengan sasaran sebanyak 129.561 jiwa penduduk. Namun ditargetkannya, 65 persen dari jumlah penduduk Bintan mengkonsumsi obat yang dibagikan secara gratis tersebut.

Obat yang sudah didistribusikan ini wajib disalurkan oleh setiap puskesmas keseluruh warga yang berdomisili di sekitarnya. Karena dengan mengkonsumsi obat ini bisa mencegah penularan penyakit dari gigitan nyamuk yang terinfeksi cacing filaria. Namun sebelum diberikan, petugas kesehatan harus mengecek kesehatan warga untuk memastikan tubuhnya aman untuk mengkonsumsi obat itu.

“Tahun lalu sudah 60 persen warga Bintan konsumsi dua jenis obat filariasis itu. Di tahun ini kita targetkan bisa capai 65 persen,” katanya.

Untuk mencapai target itu, lanjutnya, seluruh petugas dari Dinkes Bintan maupun puskesmas se Bintan akan melakukan sweeping ke rumah warga dengan sistem dari pintu ke pintu (door to door). Sweeping ini dilakukan hanya untuk memastikan warga sudah mengkonsumsi obat filariasis tersebut. Pasalnya sering terjadi kalau obat yang dibagikan tidak dikonsumsi warga, melainkan hanya disimpan begitu saja.

Berdasarkan catatannya dilapangan, warga yang tidak mau mengkonsumsi obat itu dikarenakan takut dengan efek samping yang ditimbulkan seperti mual, pusing serta sebagainya. Untuk menanggapi permasalahan itu pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan seluruh puskesmas serta rumah sakit yang ada untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi warga yang mengalami efek samping setelah meminum obatnya.

“Warga Bintan kita minta konsumsi obat yang kita berikan. Memang setelah konsumsi obat itu akan timbul efek sampingnya. Tapi jangan takut, jika efek samping itu mengganggu kesehatan warga, bisa langsung berobat ke puskesmas maupun rumah sakit di Bintan. Biaya pengobatannya akan ditanggung Dinkes,” pungkasnya. (ary/bpos)

Respon Anda?

komentar