Pak Presiden, Investasi di Kepri Melambat -1,43 Persen, Periode sebelumnya Tumbuh 3,99 Persen

824
Pesona Indonesia

batampos.co.id – Pertumbuhan ekonomi Kepri pada Triwulan I 2016 melambat dibanding Triwulan IV 2015. Tercatat pada awal tahun ini hanya tumbuh 4,58 persen, jauh menurun dibanding akhir tahun lalu yang tumbuh sebesar 5,20 persen.

“Perlambatan ini sejalan dengan perekonomian nasional yang juga melambat dibanding triwulan sebelumnya, yakni dari 5,04 persen menjadi 4,92 persen,” kata Kepala Bank Indonesia Cabang Kepri, Gusti Raizal Eka Putera, kemarin (19/5).

Dari sisi permintaan, perlambatan ekonomi Kepri ini disebabkan oleh penurunan investasi. Dan dari sisi penawaran, terjadi penurunan pada sektor utama yakni sektor konstruksi, serta sektor pertambangan dan penggalian.

Investasi tahun ini terkontraksi -1,43 persen, jauh lebih rendah dibanding periode sebelumnya yang tumbuh 3,99 persen.

“Tertahannya investasi baik oleh investor asing maupun domestik disebabkan tingkat permintaan sektor industri yang masih lemah dan harga migas yang masih rendah,” ujarnya lagi.

Namun, tingkat konsumsi masyarakat relatif stabil dan perbaikan kinerja net ekspor menopang perekonomian Kepri pada triwulan pertama ini.

“Konsumsi rumah tangga tumbuh 6,30 persen, relatif stabil. Sedangkan net ekspor tumbuh 13,10 persen, menguat dibanding Triwulan IV tahun lalu yang sebesar 7,07 persen,” jelasnya.

Sedangkan dari sisi lapangan usaha, kontraksi sektor konstruksi dan sektor pertambangan dan penggalian serta perlambatan sektor industri pengolahan menekan pertumbuhan ekonomi Kepri.

Sektor konstruksi dan pertambangan mencatatkan kontraksi -1,32 persen dan -1,94 persen. Hal ini terjadi karena penurunan permintaan perumahan, penyelesaian sejumlah konstruksi hotel oleh swasta pada awal tahun, serta realisasi belanja konstruksi pemerintah yang masih rendah.

Sedangkan penurunan output dari sektor pertambangan dan penggalian disebabkan masih rendahnya harga komoditas migas, diperparah dengan hasil lifting yang juga terus menurun.

“Selain itu, sektor industri pengolahan belum menunjukkan perbaikan yang signifikan, dan mencatatkan perlambatan sebesar 4,13 persen dibanding pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 4,43 persen,” tambah Gusti.

Namun, ditengah perlambatan ekonomi ini, masih ada hal yang bisa membanggakan. Realisasi pendapatan dan belanja pemerintah daerah (Pemda) di wilayah Kepri meningkat.

Realisasi pendapatan pada triwulan I 2016 sebesar Rp 2.293 miliar sekitar 20,1 persen dari total pagu anggaran, sangat jauh meningkat dibanding triwulan I 2015 yang hanya Rp 1.672 miliar atau 14,7 persen dari total pagu anggaran.

Demikian juga halnya dengan belanja yang bersumber dari APBN, realisasi mencapai Rp 684 miliar atau 12,39 persen dari total pagu anggaran. Peningkatan ini lebih baik dibanding triwulan I 2015 yang hanya Rp 352 miliar atau 6,56 persen dari total pagu anggaran.

Komitmen pemerintah untuk mendorong belanja guna menjadi stimulus perekonomian ditengah perlambatan ekonomi tercermin dari realisasi belanja dan pendapatan Pemda serta belanja APBN di wilayah Kepri.

“Hal ini tidak lepas dari transfer pemerintah pusat ke daerah yang lebih baik, realisasi mencapai 24% dari total pagu anggaran,” kata Gusti.

Namun dengan capaian ini, BI Kepri tetap yakin pertumbuhan ekonomi Kepri pada triwulan II 2016 diperkirakan akan sedikit menguat dibanding triwulan sebelumnya.

Perekonomian Kepri diperkirakan menguat pada kisaran 4,7 – 4,9 persen. Puncak belanja Idul Fitri diperkirakan terjadi pada Juni atau bergeser dari tahun lalu sehingga pertumbuhan tahunan konsumsi diyakini meningkat.

Di tengah lesunya investasi swasta, realisasi proyek-proyek infrastruktur pemerintah dan beberapa pembangunan hotel/apartemen oleh swasta diharapkan dapat menopang pertumbuhan ekonomi Kepri pada triwulan kedua.

Sedangkan dari sisi sektoral, sejalan dengan penguatan konsumsi dan realisasi proyek infrastruktur pemerintah pertumbuhan ekonomi akan ditopang sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan motor serta sektor konstruksi.

“Secara keseluruhan tahun 2016, pertumbuhan ekonomi Kepri diperkirakan pada kisaran  5,5 – 5,7 persen, melambat dibanding pertumbuhan 2015 sebesar 6,02 persen,” tutup Gusti. (leo)

Respon Anda?

komentar