Rupiah Melorot Lagi

579
Pesona Indonesia
ilustrasi. Foto: istimewa
ilustrasi. Foto: istimewa

batampos.co.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melorot, Kamis (19/5/2016).

Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) mencatat pada penutupan perdagangan, kurs berada di level 13.467 atau  merosot 157 poin dari posisi 13.319 pada hari sebelumnya.

Pelemahan rupiah ini telah diprediksi sejumlah analis. Menurut Kepala Riset NH Korindo Securities Reza Priyambada, laju pergerakan rupiah masih dibayangi potensi pelemahan lanjutan.

“Ekspektasi atas lanjutan penguatan rupiah terhalang oleh sentimen The Fed, Bank Sentral Amerika,” katanya, Kamis (19/5/2016).

Pada perdagangan Selasa (17/5) lalu, kurs rupiah sempat menguat, setelah beberapa hari sebelumnya terus melemah. Namun, pada perdagangan Rabu (18/5) harapan akan penguatan lanjutan tak terjadi. Berdasarkan Jisdor, kurs rupiah pada Rabu ditutup di level 13.319 per dolar AS, turun 41 poin dari posisi 13.278 pada Selasa.

“Jelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia dan rilis notulen FOMC (Federal Open Market Committee) meeting, laju rupiah sebelumnya diharapkan dapat melanjutkan penguatan. Namun kenyataannya, berbalik melemah,” kata Reza.

Di sisi lain, menurut Reza, kurs dolar AS menguat dengan persepsi akan adanya rencana The Fed menaikkan kembali tingkat bunganya dalam waktu dekat.

Ia menjelaskan, perkiraan akan bertahannya posisi BI rate yang dianggap sesuai dengan perkembangan makroekonomi, semula memberi kesempatan bagi rupiah untuk menuju teritori positif. “Namun terhalang oleh sentimen menjelang FOMC meeting.”

Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta di Jakarta, mengatakan bahwa dolar AS menguat menyusul peluang kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS (Fed fund rate) pada Juni kembali terbuka setelah risalah pertemuan Komite Pasar Bebas Federal (FOMC) pada April lalu menunjukkan keinginan pengetatan moneter.

“Dolar AS langsung menguat tajam merespon berita itu bersamaan dengan kenaikan imbal hasil US Treasury,” katanya.

Ia menambahkan bahwa penguatan dolar AS juga turut menekan harga minyak mentah dunia, akibatnya berdampak pada komoditas lainnya sehingga mempengaruhi mata uang penghasil komoditas.

Terpantau, harga minyak mentah dunia jenis WTI pada Kamis (19/5) sore berada di posisi 47,23 dolar AS per barel, melemah 1,99 persen dan Brent di level 47,83 dolar AS per barel, turun 2,25 persen.

“Kondisi itu membuat ruang pelemahan rupiah cukup terbuka menyusul penurunan harga minyak minyak,” katanya.

Di sisi lain, lanjut dia, pelaku pasar juga wait and see terhadap kebijakan Bank Indonesia mengenai tingkat suku bunga acuan (BI rate). Dengan inflasi rendah, perlambatan PDB serta menipisnya defisit transaksi berjalan di kuartal I 2016 bisa menjadi faktor tambahan alasan pemangkasan BI rate.

Analis Monex Investindo Futures Putu Agus menambahkan bahwa penguatan dolar AS kemungkinan bertahan dalam beberapa hari ke depan seiring dengan proyeksi data-data ekonomi AS cenderung membaik.

Ia mengemukakan bahwa indeks aktivitas manufaktur Amerika Serikat wilayah Philadelphia diperkirakan naik menjadi 3,5 di bulan April, dari sebelumnya minus 1,6. Klaim penganguran AS diperkirakan 275.000 atau lebih baik dari pekan sebelumnya 294.000. (ant/bp)

Respon Anda?

komentar