Karena Kita Datang dari Resah Yang Sama

1879
Pesona Indonesia

banner-temberangSaya geram dengan Mahmud, sudah puas dia memaksa saya untuk mencari jawaban atas pertanyaannya kepada saya yang bertubi-tubi, “Kenapa saya tak berhenti-henti memikirkan keberadaan negeri ini?”

Alhasil seluruh jawaban yang saya sampaikan kepadanya ternyata tak dicatatnya. Konon katanya kelak akan dia masukkan ke koran atau paling tidak menjadi cerita atau kisah di halaman budaya. Ternyata sama sekali tak ada. Ingin juga sesekali nama kita dibincangkan di media massa seperti orang lain. Hmmmm

Iyakan pulak, orang lain belepak-lepuk setiap hari ditulis namanya di koran sementara kita tak pernah sekali pun. Ditulis dengan hal-hal yang baik, bukan hal-hal yang menakutkan, dekadensi moral yang tak berujung ini, anak SMP memperkosa, anak SMP diperkosa. Huh… membacanya saja kita takut apalagi bagi yang mengalaminya.

“Itu berkah bagi orang yang tak pernah ditulis di koran Tok, belum tahu yang ditulis itu hidupnya sehat, ada kawan dulu tak terkenal, terus dia mengejar-ngejar jabatan sampai rela merantau, menjauh dari keluarga, sudah dapat jabatan, terkenal, kemudian lebih terkenal lagi karena masuk penjara,” ungkap Mahmud.

Saya tersenyum pahit. “Sehat tak sehat yang penting terkenal,” balas saya.

Mahmud tertawa. “Awak nak seterkenal siapa Tok?”. Saya tak menjawabnya.

Mahmud kadang selalu begitu, kalau dia serius dan kita tidak merespon dengan keseriusannya, maka cepatlah naik angin dia, tapi kalau kita lagi serius dan tersangat serius, dia boleh bebas menterjemahkan apa saja.

Maksud saya dia bisa tak perlu serius seperti apa yang kita harapkan. Sayakan sekarang serius, ketika dia bertanya “Tok, ngape awak  fokus betul memikirkan nasib negeri ini?” tanya Mahmud kepada saya, mungkin dengan tambahan pertanyaan disebaliknya, sementara mereka yang berada di dalam lingkaran itu tak serius nampaknya.

“Seperti yang serius mau mencalonkan jadi wakil pemimpin negeri ini ya Mud?” tanya saya.

Mahmud hanya menjelingkan matanya kepada saya. Saya melihatnya sebagai jelingan yang penuh makna.

“Itulah ternyata di kampung kita ini banyak orang-orang hebat yang punya semangat yang sama, kehendak yang sama dengan niat yang…,” Mahmud tiba-tiba menghentikan kalimatnya.

Saya tahu soal niat ini pastilah kawan saya itu tak bisa memastikannya. Apakah niat setiap orang sama hanya dia dan Tuhan yang tahu.

“Semangat boleh sama Tok, tapi hidup ini haruslah berpada-pada…,” tambah Mahmud. Saya menoleh ke arahnya, lama tak mendengar kata berpada-pada itu. Saya menahan senyum sendiri. “Awak tahu makna berpada-pada Tok?,” tanya Mahmud.

“Oh, tentulah Mud, saya ini orang Melayu, kalau tak tahu berpada-pada tak usah jadi orang Melayu karena orang Melayu itu orang yang berpada-pada,” jawab saya, dan saya lihat Mahmud puas dengan jawaban saya. Berpada-pada itu maknanya tak berlebihan, secukupnya, dan patut sepatut-patutnya. Orang Melayu yang paling tinggi itu disebut dengan orang patut-patut.

Mahmud tiba-tiba terbahak, entah apa yang ia tertawakan, apakah ia melihat ada yang tak patut dalam pengamatannya, tapi semakin hari rasanya dalam hidup kita ini semakin banyak saja rasanya yang terpaksa ataupun tidak, ternyata hanya pantas untuk ditertawakan.

Orang tak sadar bahwa hidup ini adalah panggung besar dengan segala macam dekorasinya, dan penontonnya tak terbilang jumlahnya. Kita lupa banyak pasang mata melihat kearah kita.

Memang kita boleh melakukan apa saja, tapi kita harus sadar, eling, tetap ingat, mawas. Jika tidak, orang dengan mudah mengetahui kemana yang hendak kita tuju, jenaka yang ditertawakan bukan kejenakaan.

“Iya Tok, banyak yang mendaftar ingin menjadi pengganti peneraju negeri ini, tapi kalau ditengok mereka asal mendaftar saja, melantak siapa tahu nasib berubah, siapa tahu menjadi mahal harganya, padahal teraju itu hakikatnya keseimbangan, kalau teraju tak seimbang tak naik layang-layang,” Mahmud kawan saya mulai dengan falsafah-falsafahnya, Itulah kehebatan kawan saya yang baik hati ini, bicaranya selalu di awang-awang, kadang-kadang tercapai kita, hanya kalau ditantang kenapa tak sekali-sekali dia mencobanya, turun tangan sendiri. Mulai nampak gugup kita melihatnya.

Nasib orang kita mungkin selalu seperti itu, kta pandai bersilat lidah, tapi bersilat di gelangang kita patah, baik patah langkah maupun patah hati.

“Tok, orang Melayu itu mengamuk bukan merajuk,” tiba-tiba Mahmud menyeruak. “Jangan mundur selangkah pun walaupun kita kalah, jangan lari dari gelanggang walaupun kita kecundang,” Mahmud masih setengah berteriak dan setengah meradang.

Apalagi kalau kita adalah orang-orang terpandang dalam dunia pendidikan, kita harus tunjukkan bahwa mendidik itu yang baik hanyalah dengan perbuatan, bukan dengan perasaan.

Kita ini sebenarnya datang dari resah yang sama, tapi kita jagalah keresahan itu untuk kita jadikan tenaga memperbaiki negeri ini, hari pendidikan sudah kita lewati dan kemarin hari kebangkitan nasional kita lalui, apalagi alasan untuk kita tiba-tiba latah dan sesat di rayu-rayu hantu komunisme baru.

“Apa Mud? Komunisme baru?” tanya saya. Mahmud kawan saya itu terdiam lama. Entah kenapa seperti ada ketakutan kemarin, dan semalam paling tidak sudah lebih tiga kali ia mendengar orang-orang mendeklarasikan menolak hantu masa lalu itu.

“Hantu itu sebenarnya tidak ada Mud, tapi karena kita takut, kita merasa dia ada. Di sebelahnya itu yang bahaya, mungkin sama ketakutan yang merajalela ini, kalau kita dalam ketakutan bisa-bisa dia ada kembali,” ucap saya.

Saya dan Mahmud sama-sama berbalik badan, kami ingin pulang secepatnya biarlah semua cerita sore ini menjadi endapan dalam jiwa, ada yang ingin menjadi peneraju negeri, ada yang merajuk karena merasa terhina diri, dan ada yang ketakutan diganyang hantu PKI.

“Sudahlah Tok, baiknya kita layari malam ini, bersandar di bawah pohon rindang tepi laut Tanjungpinang, mendengarkan ayat-ayat suci dalam peraduan MTQ tingkat provinsi, melihat para kafilah yang datang dengan wajah berseri-seri dan melewati malam nisfu Syakban dengan khusuk mengharapkan keampunan Illahi.

Saya balas senyum Mahmud dengan ikhlas, seikhlas kami berjanji akan bertemu di suatu tempat nanti. Tapi memang benar apa yang pernah Mahmud katakan, dengan sebuah puisi yang ditulis untuk anaknya,

Vinne, / Biar sekeliling orang gelisah / Biar sekeliling orang marah /Biar sekeliling orang risau / Biar sekeliling orang meracau / Kita terus aja bergurau

Oi, vine / Terus kita tegak diujung ganjak / Jadi tiang jadi bintang / Dilaut kita takluk gelombang ……..

ayo vin, / aku hitung sekali dank au teruskan / karena aku lebih tahu / berteriak, diam, marah atau senyum / sopan atau kesetanan / itu biasa / tapi jangan engkau teruskan / kalau belum mapan cari makan

(Selamat ulang tahun Vinne Putriashadewi anakku)

 

 

 

 

 

 

Respon Anda?

komentar