Alat Vital Baru Dengan Harga Bermilyar

Oleh: Dahlan Iskan

1185
Pesona Indonesia

SUKSES ini begitu penting di Amerika. Sukses ujicoba transplan penis. Jadi salah satu berita terpenting. Ini karena begitu banyak tentara yang rusak kemaluannya di medan perang. Utamanya di Afganistan, Irak dan sekitarnya. Mereka adalah orang-orang perkasa. Masih muda. Belia. Banyak yang baru 20 tahun. Kuat-kuatnya. Meski tidak mati, tanpa penis bisa ganda penderitaannya: fisik dan psikis.

Ujicoba itu dilakukan awal bulan ini. Tepatnya tanggal 8 dan 9 Mei lalu. Tempatnya di Massachusetts General Hospital, Boston. Yang memimpin operasi: Dr. Curtis L. Cetrulo. Yang dioperasi: Thomas Manning, bujangan 64 tahun. Setahun lebih muda dari saya. Manning harus kehilangan penis karena terkena menyakit kanker. Awalnya bukan kanker. Saat bekerja empat tahun lalu terjadilah kecelakaan ini: alat berat menimpanya. Dia pengantar barang di sebuah bank dari Halifax, 200 km selatan Boston. Lama kelamaan bentuk penisnya berubah aneh. Ketika dilakukan pemeriksaan ditemukan kanker. Kanker penile. Kanker langka. Dan ganas. Dan akan segera membunuhnya.

Untuk menyelamatkan nyawanya tidak ada jalan lain: disunat sampai pangkal. Tertinggal satu inci. Kalau kencing harus duduk. Seperti wanita. Kalau tidak air kencingnya menciprat ke mana-mana.

Habislah sudah harapannya. Sebagai laki-laki. Meskipun bujangan. Manning tidak menyembunyikan rahasia itu.

“Banyak teman minta saya merahasiakannya, tapi saya tidak mau berbohong,” katanya.

Media secara luas mengutip keterbukaannya itu. Dan itu menguntungkannya. Tawaran ujicoba transplan dia terima. Sudah tiga tahun tim dokter Massachusetts General Hospital mendalami soal ini. Termasuk ujicoba mengambil tissue dari penis enam mayat yang masih segar. Pengambilan tissue adalah bagian yang paling sulit. Di samping terlalu banyaknya saluran darah menuju penis.

Manning adalah pasien hidup pertama di situ. Hampir 15 jam team dokter mengerjakan penggantian penis Manning. Sukses. Minggu lalu, setelah keluar dari ruang perawatan dia merasa segar. Dan lebih percaya diri. “Saya akan jadi pria sebenarnya seperti semula,” ujar Manning. Dr Cetrulo terlihat tidak kalah gembira. Keduanya tampil di depan pers yang meliputnya secara luas.

Transplant penis termasuk yang paling rumit. Terlalu banyak saluran darah menuju organ itu. Yang fungsinya membuat gerakan ereksi. Dan gerakan menyengat.

Penis sumbangan yang dipasang untuk Manning diambil dari seseorang yang baru saja meninggal. Sakit biasa. Tidak disebutkan namanya. Atau umurnya. Dan ukurannya.

Memang ini bukan yang benar-benar pertama. Tiongkok pernah mencoba. Tapi gagal. Afrika Selatan juga pernah melakukan. Tapi yang di Boston ini disebut sukses besar. Artinya: bisa untuk kencing dan yang lainnya itu. Belum sekarang, masih perlu waktu beberapa minggu lagi.

Manning tentu harus minum obat seumur hidupnya. Tacrolimus. Seperti yang saya minum sampai sekarang. Obat ini untuk menjaga agar organ baru tersebut bisa kerjasama dengan badannya. Tidak ditolak tuan rumahnya.

Ujicoba pun akan dilanjutkan dengan pasien lainnya: anak muda yang kemaluannya ikut terbakar. Saat terjadi tabrakan mobil. Dia sudah antre di rumah sakit. Tinggal tunggu donor yang cocok dengan badannya. Bukan cocok dalam hal ukuran. Atau warna. Tapi golongan darah, syaraf dan segala macam kesamaan lainnya.

Kementerian pertahanan pun serius memikirkan ini. Perang memang bisa membuat tentara kehilangan tangan. Atau kaki. Tapi kehilangan penis susahnya berlipat. Untuk dirinya. Dan istrinya. Dan harga dirinya. Dan kejantanannya.

Maka begitu ujicoba untuk kalangan sipil ini dianggap sempurna, sasaran berikutnya adalah veteran perang. Dokter-dokter tentara akan diajari melakukannya. Antara tahun 2011-2013 saja, tentara yang seperti itu mencapai 1.376 orang.

Manning termasuk beruntung. Bank organ di dekat Boston memiliki stok penis yang cocok. Di AS pun semula sulit dapat pasokan penis. Orang dengan mudah mendonorkan ginjal atau liver. Tapi penis? Tidak. Keluarga, terutama istri, banyak yang keberatan. Jangankan mendonorkan, meminjamkan pun akan keberatan.

Tim dokter begitu berterima kasih pada Manning. Yang mau bercerita blak-blakan. Bahkan mau difoto. Biasanya orang malu. Apalagi disebut pakai penis yang bukan aslinya. Manning sendiri tahu itu. Bahkan dia tidak memberitahu ibu dan tiga saudaranya (satu laki-laki, dua perempuan). Mereka diberitahu setelah terjadi.

“Saya bicara ini bukan untuk gagah-gagahan,” ugar Manning. “Tapi betapa banyak anak muda yang malu karena tidak punya penis lagi. Ayolah,” tambahnya memberi semangat.

Tentu, kelak, bukan hanya untuk korban kecelakaan. Atau korban perang. Bisa jadi ini new hope juga untuk yang setengah laki-laki. Hanya biayanya yang masih mahal: sekitar Rp 5 miliar.

Maka bagi yang masih memiliki aslinya, dan masih berfungsi baik, bersykurlah. Diam-diam ternyata anda memiliki harta karun senilai Rp 5 miliar di dalam celana Anda. ***

Respon Anda?

komentar