Bupati Lingga Terima Investor China, Tapi Ada Tiga Syaratnya

2068
Bupati Lingga, Alias Wello. foto:hasbi/batampos
Bupati Lingga, Alias Wello. foto:hasbi/batampos

batampos.co.id – Keseriusan investor asal China untuk bangun smelter di Lingga dengan nilai investasi Rp 15,7 miliar disambut Bupati Lingga Alias Wello dengan tangan terbuka. Meski beberapa waktu lalu ia secara tegas mengatakan tambang adalah cerita masa lalu, namun soal investasi miliar rupiah ini Awe belum berani tegas menolak secara terang-terangan.

Ia hanya memberikan 3 hal yang menjadi wanti-wanti kepada perusahaan asal China tersebut. “Saya cuma wanti-wanti 3 hal. Pertama masyarakat jangan termarjinalkan dengan proyek besar ini. Saya minta, investor harus mampu bermitra bukan jual beli lahan, tapi membangun kemitraan. Lahan masyarakat jangan dicaplok begitu saja,” ungkap Awe di Gedung Daerah.

Persoalan kepemilikan lahan, akibat dibukanya tambang beberapa waktu lalu di Lingga menjadi pandangan Awe dalam membuka kerjasama yang baru. Selain itu, Bupati Lingga yang juga berlatar belakang sebagai pengusaha tambang ini meminta perusahaan memperhatikan soal dampak lingkungan yang ditimbulkan akibat aktifitas tambang.

Sebab, dibangunnya smelter nanti, sedikitnya dalam setahun paling tidak 2 juta ton barang mentah tambang yang dikeruk dari alam Lingga akan diolah di smelter. Sebanyak 59 perusahan tambang yang telah mendapat izin di Lingga juga akan beraktifitas lagi.

Soal jual beli lahan, yang selama ini telah berlangsung sejak 2007 lalu di Lingga, seperti di Mensanak, Pulau Singkep yang hampir seluruhnya di Singkep Barat dan Singkep Selatan, Gunung Selayar, Tokoli kini seluruhnya telah dipegang hak miliknya oleh perusahaan tambang. Dampak lingkungan pasca tambang juga dirasakan masyarakat begitu besar. Pencemaran laut akibat lahan-lahan gundul yang persis dipesisir pantai menjadi hadiah bagi masyarakat yang sama sekali tidak dapat merasakan dampak yang berbunyi investasi ini. Lahan-lahan gundul, menyulitkan warga mencari kayu untuk kebutuhan rumah, pelantar dan juga memproduksi sampan dan kapal. Belum lagi lahan yang yang rusak dan tidak bisa ditanami lagi karena kulit tanah dikeruk hingga ke inti bumi membuat tanah tandus menghilangkan unsur hara.

“Saya tengok, dampaknya begitu besar sekali dengan pencemaran lingkungan. Saya sudah sampai ke China. Waduh, ini kalau tidak tertata akan menimbulkan dampak yang luar biasa. Saya, insya Allah, saya pastikan untuk memantau. Saya paham betul dunia ini. Industri ini, harus terkawal dengan baik,” sambung Awe.

Sementara itu, sampai saat ini perusahaan yang telah melakukan aktifitas tambang hingga tahun 2014, baru sebagian kecil yang melakukan reklamasi. Perusahaan dan pemerintah kucing-kucingan terkait lahan dan penempatan dana reklamasi yang diduga nilainya melebihi Rp 30 miliar. Sementara, 941,4 hektare lahan yang telah dilakukan aktifitas tambang di Lingga, hanya 84,1 hektare atau hanya 8,9 persen yang dilakukan reklamasi. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar