Harga Sembako Naik 10 Persen Jelang Puasa, Pemerintah: Wajar

612
Pesona Indonesia
Karyawan Toko Acan di Pasar Fanindo, Tanjunguncang, Batuaji saat menimbang beras yang akan dijual. Untuk menjamin ketersediaan pasokan bahan pangan jelang Ramadan dan lebaran nanti Pemko Batam melalui Dinas ESDM telah memanggil para distributor di seluruh Batam. Foto: Dalil Harahap/ Batam Pos
Karyawan Toko Acan di Pasar Fanindo, Tanjunguncang, Batuaji saat menimbang beras yang akan dijual. Untuk menjamin ketersediaan pasokan bahan pangan jelang Ramadan dan lebaran nanti Pemko Batam melalui Dinas ESDM telah memanggil para distributor di seluruh Batam. Foto: Dalil Harahap/ Batam Pos

batampos.co.id – Pemerintah masih menganggap wajar kenaikan harga bahan pokok yang terjadi di pasaran dua pekan menjelang puasa.

Sejumlah strategi telah disiapkan agar kenaikan harga bahan pokok tidak lebih dari batas kewajaran sebesar 5-10 persen.

“Sebenarnya wajar kalau menjelang puasa atau lebaran seperti ini harga-harag pada naik, asalkan tidak tinggi-tinggi. Yang tidak wajar justru kalau harganya turun. Berdasar pengalaman tahun-tahun sebelumnya, kenaikan 5-10 persen masih bisa kita toleransi,” ujar Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Gardjita Budi, Minggu (22/5/2016).

Dia mengakui di sejumlah daerah beberapa bahan pokok mengalami kenaikan seperti daging dan gula. Namun hal itu diperkirakan terjadi karena faktor pasokan yang tersendat bukan karena tingginya permintaan.

”Kita sudah mulai melihat pergerakan harga yang tidak wajar, tapi itu belum mengkhawatirkan. Masih bisa kita atasi dengan operasi pasar,” tegasnya.

Momen lebaran biasanya dijadikan pedagang untuk mengambil untung sedikit lebih banyak dibanding hari biasa. Meski begitu, Gardjita meminta agar pedagang tidak memainkan harga sehingga kenaikannya tidak wajar.

”Yang tidak bisa diterima itu kalau kenaikannya sudah diatas 20-30 persen. Itu harus kita tindak dan cari perbuatan siapa,” katanya.

Dari hitung-hitungan Kementerian Pertanian, stok bahan pokok mulai dari ayam, telur, bawang, dan kebutuhan lain mencukupi hingga akhir bulan Ramadhan. Oleh sebab itu, pihaknya berharap harga-harga tidak naik terlalu tinggi.

”Kebutuhan seharusnya terpenuhi karena kita sudah hitung. Jadi harga-harga harusnya masih dalam taraf yang terjangkau,” ungkapnya.

Apalagi, pemerintah juga tidak tinggal diam. Intervensi akan terus dilakukan dengan menggandeng Badan Urusan Logistik (Bulog) supaya bahan pokok tetap berada pada harga yang normal atau naik tapi tidak terlalu signifikan.

”Kami sudah mulai operasi pasar dengan Bulog sejak 16 Mei lalu untuk bawang merah 300 ton perhari ke pasar-pasar induk,” lanjutnya.

Hal itu dilakukan untuk menjaga harga bawang merah supaya tidak melonjak seperti tahun lalu. Bulog, kata Gardjita, menyiapkan stok bawang merah untuk operasi pasar sebanyak 23 ribu ton hingga akhir Ramadhan.

”Dijualnya Rp 24.150 per kilogram ke pedagang eceran yang kulakan di pasar induk bukan ke pedagang besar, jadi tidak beresiko,” tandasnya.

Untuk meredam harga gula, pemerintah sudah menggandeng PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) yang menyiapkan sekitar 400 ton gula pasir untuk operasi pasar. Langkah intervensi tersebut sudah dilakukan sejak tanggal 18 Mei lalu di berbagai wilayah. Gula OP tersebut dijual seharga Rp 12 ribu perkilogram.

”OP sampai H-10 Idul Fitri,” sambungnya.

Sedangkan OP daging sapi kemungkinan baru akan dilaksanakan beberapa hari kedepan menunggu kiriman daging impor dari Australia. Daging sapi tersebut nantinya didistribusikan untuk daerah yang setiap tahun membutuhkan pasokan banyak, seperti Jabodetabek.

”Saya belum bisa bilang jumlahnya karena barangnya belum ada masuk,” tukasnya.

Gardjita mengaku sudah meminta asosiasi-asosiasi untuk mengimbau seluruh anggotanya agar jangan menimbun barang selama Ramadhan karena akan mengganggu stabilitas harga.

”Kami akan pantau terus, kalau ada yang menimbun bisa kena sanksi pidana dan denda. Kalau ada kartel main nanti disemprit KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha),” sebutnya.

Sekjen Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), Maulana mengakui saat ini beberapa harga bahan bahan pokok sudah mulai merangkak naik di pasar. Diantaranya daging sapi yang saat ini sekitar Rp 120-130 ribu per kilogram, harga bawang putih sekitar Rp 38-40 ribu perkilogram dan gula Rp 12-15 ribu perkilogram.

”Kenaikannya masih dalam taraf normal,” tambahnya.

Bagi pedagang pasar, kata Maulana, kenaikan harga 20 persen di bulan Ramadan masih wajar. Meski begitu dia menilai pemerintah harus terus memantau supaya harga tetap normal hingga akhir bulan Ramdhan.

”Sekarang harga masih lompat-lompat, kadang naik kadang turun sedikit. Tapi secara umum masih normal, hanya beberapa saja yang perlu diwaspadai,” terangnya.

Pihaknya berharap pemerintah bisa mengontrol harga karena kenaikan harga yang terlalu tinggi juga tidak diharapkan pedagang. Pasalnya, jika harga naik penjualan atau omzet biasanya malah turun.

”Kita ingin harga-harga tetap stabil, kalaupun naik ya tidak terlalu tinggi masih dibawah 20 persen. Jadi tidak mungkin kita ingin harga melambung tinggi,” sambungnya.

Menurut Maulana ada dua faktor utama penyebab melonjaknya harga bahan pangan di pasar yaitu masalah penawaran dan permintaan (supply-demand) dan masalah logistik atau rantai distribusi.

”Jangan setiap kali harga naik yang disalahkan pedagang. Padahal bisa jadi itu karena pasokan dari petani yang tersendat atau rantai distribusi yang terlalu panjang,” cetusnya.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandev mengatakan sampai saat ini belum ada kenaikan harga di pasar ritel modern. Sebab pedagang ritel sudah memiliki kontrak pasokan jangka panjang dengan suplier.

”Stok barang di ritel sudah mencukupi dan terjaga. Kami sudah menyiapkan stok barang sejak enam bulan lalu,” katanya.

Pihaknya tidak ingin menjadikan momen lebaran sebagai ajang untuk mengeruk keutungan terlalu tinggi. Bahkan sejumlah peritel telah menyiapkan program diskon Hari Raya Idul Fitri. Potongan harganya hinggamencapai 50 persen dari bulan sebelumnya.

”Kita justru berfikir terbalik. Kalau bisa kasih diskon besar-besaran supaya omzet meningkat,” tegasnya.

Selama bulan Ramadan, pihaknya juga bekerja sama dengan pemerintah seperti Kementerian Perdagangan, Kementerian Koperasi dan UKM, serta pemerintah provinsi untuk melaksanakan pasar murah. Program pasar murah akan mulai gencar dilaksanakan akhir Mei 2016.

”Kami menjamin, seluruh ritel anggota Aprindo tidak akan memainkan harga selama bulan Ramadhan,” jelasnya. (wir/jpgrup)

Respon Anda?

komentar