Hawaii, Kedai Kopi Legendaris di Bintan yang Jadi Langganan Pejabat, Sehari Habiskan 20 Kg Kopi

1297
Pesona Indonesia
Asun meracik kopi di kedainya kopi Hawaii di Kijang, Bintan, Minggu (23/5/2016). F.Yusnadi/Batam Pos
Asun meracik kopi di kedainya kopi Hawaii di Kijang, Bintan, Minggu (23/5/2016). F.Yusnadi/Batam Pos

Inilah Kopi Hawaii. Secangkir kopi yang menyintas zaman. Langgeng selama 47 tahun. Secangkir kopi yang digandrungi. Membuat penikmatnya selalu dan selalu ingin kembali ngopi di sini.

FATIH MUFTIH, Bintan

Melancong ke Kota Kijang di Kecamatan Bintan Timur, Kabupaten Bintan serupa masuk ke labirin kenangan. Sebuah pancang ingatan betapa di kota ini pernah ada kejayaan kehidupan puluhan tahun silam. Manakala aktivitas tambang masih berjaya dan menjadi pengerek ekonomi.

Sisa-sisa kejayaan itu dipahat di balik relief-relief dan tugu tepat di jantung kota. Hanya saja, kenangan bukan sekadar dipatut dari benda-benda mati. Denyut kejayaan masa lampau itu masih tetap hidup dalam riuhnya sepanjang hari yang dirawat dalam dua pintu ruko kedai kopi.

Ini bukan sembarang kedai kopi. Kedai Kopi Hawaii nama diberi. Kali pertama berdiri pada tahun 1969 dan tetap buka hingga kini. Pelanggannya dari masa ke masa dan terus berganti. Tapi citarasa dan aroma secangkir kopi seolah abadi. “Rasanya tak berubah. Saya ngopi di sini sejak masih bujang,” kata Irfan, pelanggan 52 tahun yang duduk di meja bagian depan, Minggu (22/5).

Orisinalitas rasa adalah satu hal yang paling utama. Sepintas, tidak ada yang berbeda dari Kopi Hawaii ketimbang kopi lain. Kecuali warna hitamnya yang pekat dalam cangkir keramik putih bermotif bunga warna hijau giok. Hanya saja, bila sampai di lidah, ada kenikmatan yang tidak sudah-sudah. Membawa tangan ingin terus-terusan mendekatkan cangkir ke bibir. Dominan rasa kopi begitu kelat dan lekat di lidah.

Bagi yang belum terbiasa dengan sensasi kopi semacam ini, biasanya akan timbul rasa pusing sebab kafein yang terkandung. Tapi bagi pelanggan macam Irfan, yang lebih dari dua dasawarsa mencecap kopi ini, citarasa Kopi Hawaii tiada bandingnya. “Bayangkan, dari zaman saya bujang, sampai sudah bercucu rasanya tetap,” ungkapnya. Sehingga tak heran, bila dalam sehari, Irfan bisa ngopi sambil kongko-kongko sebanyak tiga kali.

“Itu yang di depan saya lebih gila lagi. Bisa empat kali,” katanya sambil menuding seorang pelanggan yang keluar kedai.

Kopi Hawaii hitam atau yang acap disebut kopi o adalah sajian andalan. Bagi pelanggan yang lambungnya tidak kuasa menahan sensasi heboh kafein dari secangkir kopi o, bisa memesan kopi susu. Biar lebih lengkap jadi teman berbual, pesan pula sepinggan kecil roti bakar srikaya. Maka, duduk di Kedai Kopi Hawaii pun jadi sempurna.

***
Jangan menduga penamaan kedai kopi ini sebagai Kedai Kopi Hawaii musabab pemiliknya merupakan orang Hawaii atau pernah melancong ke sana. Tidak. Pemilihan nama ini sebenarnya sederhana.

A Sun, peracik kopi sekaligus pemilik Kedai Kopi Hawaii, menuturkan, Hawaii merupakan nama pemberian camat yang bertugas di Kijang kala itu. A Eng, ayah A Sun, adalah perintis Kedai Kopi Hawaii di tahun 1969 atau kala kejayaan tambang yang dikelola PT Aneka Tambang (Antam).

Dalam kenangan A Sun dari penuturan ayahnya yang asli Pulau Koyang, nyaris setiap pagi atau petang, banyak dari pegawai tambang yang ngopi di Hawaii. Bahkan konon, rasanya ada yang kurang bilamana berangkat atau pulang kerja tanpa terlebih dahulu membasahkan bibir dengan Kopi Hawaii.

“Karena sudah tua usaha ini dilanjutkan abang saya. Tapi, karena abang saya kewalahan, kini giliran saya yang mengelolanya,” ucap A Sun.

Perbincangan dengan A Sun sering terjeda. Lantaran A Sun berulang kali mesti segera balik ke dapur. Meracik pesanan pelanggan. Menakar panas air. Ada satu hal yang membuat citarasa Kopi Hawaii lebih mengena. Yakni, sebelum kopi dituangkan, cangkir-cangkir yang digunakan terlebih dahulu dipanaskan. Ini agar panas keramik tetap mampu menahan panas kopi lebih lama.

A Sun agak kesulitan menjawab kala disodori pertanyaan mengenai jumlah cangkir kopi yang disajikannya sepanjang hari. “Tak dapat dihitunglah. Banyak sekali,” akunya. Namun, bila menaksir bubuk kopi yang dihabiskan, sepaling-paling sedikitnya, dalam sehari bisa habis 20 kilogram. Bisa jauh lebih banyak di ujung pekan.

“Belum lagi kalau lagi banyak pesanan yang dalam bentuk botol bila ada acara-acara,” tambah A Sun.

Bukan rahasia lagi, hampir setiap pegawai swasta maupun pemerintahan di seantero Kijang, senantiasa menyajikan Kopi Hawaii. Baik itu berupa kopi hitam atau kopi susu. Sekaliber gubernur maupun bupati bahkan sering terlihat ngopi di sini.

Sekali lagi, ini bukan soalan tempat ngopi yang elegan dan penuh pendingin ruangan sehingga bikin betah duduk berlama-lama dengan nyaman. Tidak. Karena bangunan Kedai Kopi Hawaii ini hanya seluas dua pintu ruko bergaya tahun 1970-an. Kipas angin mungil bergantung di sudut sana-sini. Mejanya tak banyak dan hanya meja biasa. Kursinya pun tidak empuk lantaran kursi plastik. Kopi Hawaii telah mempesona lantaran citarasanya. “Citarasa yang tidak pernah berubah,” begitu Irfan menuturkan pengalaman separuh hidupnya menyesap Kopi Hawaii.

Seiring berjalannya waktu, kini sudah banyak kedai-kedai kopi di Bintan maupun Tanjungpinang yang menyuguhkan kopi dari bubuk Kopi Hawaii Kijang. A Sun membenarkan, sejak masih dikelola ayahnya, pelanggan memang dibolehkan membeli bubuk kopi yang kini dibanderol Rp 56 ribu per kilogramnya itu.

Tidak ada sedikit pun kekhawatiran bahwasanya pelanggan akan berkurang. Bagi A Sun, bisnis kopi, bukan berarti memonopoli. Melainkan sebuah kreativitas dan keterampilan dan menyuguhkan secangkir kopi sarat citarasa.

“Bahan kopi boleh sama. Tapi kan tangannya berbeda,” ucap A Sun penuh kelakar.

Bila ingin leluasa menikmati kopi pagi di Kedai Kopi Hawaii, sangat disarankan pagi sekali. Karena telat sedikit sudah penuh kursi terisi. Jangan takut pula isi dompet bakal terkuras. Citarasa tinggi Kopi Hawaii tidak sejalan lurus dengan harganya. Secangkir kopi hitam yang dibeli di mal bisa dapat empat cangkir Kopi Hawaii. Terlalu murah bukan untuk sebuah citarasa kopi yang tiada dua.***

Respon Anda?

komentar