Kebakaran di Desa Sri Tanjung, Pelajaran Bagi Masyarakat dan Pemerintah

549
Pesona Indonesia
Kebakaran hebat menghangsukan belasan rumah kayu di Desa Sri Tanjung, Tarempa, Anambas, Jumat (20/5). foto:syahid/batampos
Kebakaran hebat menghanguskan belasan rumah kayu di Desa Sri Tanjung, Tarempa, Anambas, Jumat (20/5). foto:syahid/batampos

batampos.co.id – Sejumlah warga Desa Sri Tanjung, terutama para korban kebakaran menyayangkan lambannya satuan regu tanggap bencana datang ke lokasi kebakaran. Padahal seharusnya jika regu pemadam kebakaran datang dengan cepat dan sigap, maka api akan cepat dijinakkan dan tidak merembet ke rumah warga lainnya bahkan kemungkinan tidak sampai ada jatuh korban.

“Bukan sedikit terlambat datang tapi memang sudah terlambat datang, api sudah merembet ke banyak rumah baru pemadam datang,” ungkap Ketua RW 02 Tanjung Lambai, Desa Sri Tanjung, Lukman, kepada wartawan Sabtu (22/5) malam.

Selain lambat datang, katanya, alat yang ada terliat tidak terawat, hal ini terbukti ketika akan dipakai, petugas pemadam kebakaran kesulitan untuk menghidupkan mesin. “Kalau pun tidak dipakai seharusnya dipakai latihan jadi mesin bukan hanya disimpan,” ungkapnya.

Lanjutnya, api terlalu besar sehingga warga kewalahan untuk memadamkan api karena dengan peralatan sederhana. Warga juga tidak bisa mendekat karena terkena hawa panas, sementara itu jangkauan air dari warga yang menyiram api dengan ember jaraknya terbatas. Dua mesin air yang ada juga kapasitasnya kecil sehingga semprotan air kurang besar dengan jangkauan terbatas.

Lukman, berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi pemerintah untuk lebih serius memperhatikan keselamatan warganya agar kejadian ini tidak terlulang kembali dimasa yang akan datang karena sangat merugikan masyarakat. Sebagai ketua RW, ia berharap pemerintah menyediakan pemadam kebakaran dan menyiapkan dua tenaga ahli supaya bisa mengatisipasi jika terjadi kebakaran.

“Dari dulu kita sudah sering usulkan kepada pemerintah untuk memasang pemadam kebakaran, tapi tidak pernah ada. Usulan-usulan itu, tidak pernah terealisasi, alasannya tidak ada uang,” ungkapnya.

Alasan itu menurutnya tidak masuk akal karena dirinya tahu bahwasanya pada tahun 2012 dan 2013 Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Kepulauan Anambas besar banyak tapi tidak bisa adakan pemadam.

“Memangnya berapa besarnya biaya untuk mengadakan pemadam, saya rasa tidak sampai menghabiskan Rp2 mlliar,” ungkapnya.

Menanggapi hal ini Wakil Bupati Kepulauan Anambas Wan Zuhendra, mengaku akan mengevaluasi kinerja bawahannya tersebut. “Akan kita dievaluasi kedepan, paling tidak dalam kejadian ini ada kehadiran Pemerintah Daerah ditengah masyarakat. Untuk selanjutnya, infrastruktur akan dimaksimalkan,” paparnya. (sya/bpos)

Respon Anda?

komentar