Korban Awan Panas Sinabung Jadi 7 Orang

391
Pesona Indonesia
Suasana Desa Gamber pasca di sapu awan panas Sinabung, Minggu (22/5/2016). Foto: Anita/Sumut pos-
Suasana Desa Gamber pasca di sapu awan panas Sinabung, Minggu (22/5/2016). Foto: Anita/Sumut pos-

batampos.co.id – Aktivitas Gunung Sinabung terpantau masih tinggi. Belum ada tanda-tanda gunung yang berada di Kabupaten Karo, Sumatera Utara itu akan kembali tenang.

Pemerintah daerah didesak memperketat pengawasan agar tak ada lagi korban jiwa akibat erupsi Sinabung.

Baca Juga: Gunung Sinabung Batuk Renggut 5 Nyawa, 3 Kritis

Kasbani, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyampaikan, sejak dinaikkan statusnya menjadi awas, 2 Juni 2015 lalu, aktivitas Sinabung terus terpantau tinggi. Meski fluktuatif, tapi hampir setiap hari gunung  setinggi 2.451 meter dpl itu erupsi. Paling tidak tercatat 2-3 kali Sinabung terbatuk dalam sehari.

”Erupsi disertai guguran awan panas dengan jarak lucur yang bervariasi,” tuturnya, Minggu (22/5/2016).

Puncaknya, lanjut dia, guguran yang terjadi Sabtu (21/5). Guguran awan panas mencapai 4,5 Km dari puncak menuju tenggara-timur.

”Hari ini (kemarin, red) pun aktivitas vulkanis masih terjadi. Yakni pembentukan kubah lava yang roboh dan meluncur ke bawah sebagai awan panas,” ujarnya.

Aktivitas ini diprediksi bakal berlangsung lama. Pasalnya, dari pengamatan PVMBG, suplai magma masih terus berlangsung.

Hal ini diterlihat dari kegempaan maupaun kubah lava yang ditimbulkan Sinabung. ”Belum menunjukkan indikasi aktivitas menurun. Biasanya, gunung dengan aktivitas pembentukan kubah lava akan cukup lama untuk tenang kembali,” jelasnya.

Oleh karenanya, dia meminta agar pemerintah daerah lebih awas lagi soal aktivitas masyarakat di zona-zona merah.

Menurutnya, PVMBG sudah memberikan batas-batas aman agar menjadi acuan. Masyarakat diminta tidak beraktivitas dalam radius 3 Km dari puncak, 7 Km untuk sektor Selatan-Tenggara, 6 Km untuk sektor Tenggara-Timur, dan 4 Km untuk sektor Utara-Timur Laut.

Sementara itu, korban awan panas Sinabung pada Sabtu (21/5) lalu dilaporkan bertambah. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, korban tewas bertambah menjadi tujuh orang dan korban luka, sebanyak dua orang. Korban meninggal karena mengalami luka bakar yang cukup serius.

Mereka diketahui atas nama Karman Milala (60), Irwansyah Sembiring (17), Nantin Br. Sitepu (54), Leo Perangin-angin, Ngulik Ginting, Ersada Ginting (55), dan Brahim Sembiring (57).
Sementara, dua korban luka diketahui masih kritis saat ini. Mereka bernama Cahaya Sembiring (75) dan Cahaya br Tarigan (45).

Seluruh warga Desa Gamber, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo itu berada di Rs. Efarina Etaham Kabanjahe.
Saat ini, proses pencarian masih terus berlangsung. Tim SAR terus melakukan pencarian korban dengan menyisir rumah dan kebun masyarakat. Sebab, tidak diketahui pasti berapa orang yang berada di desa yang berjarak 4 Km di sisi Tenggara puncak Sinabung itu saat kejadian.

”Kepala BNPB Willem Rampangilei telah menginstruksikan Bupati Karo segera mengosongkan zona merah. Patroli, penjagaan dan sosialisasi agar ditingkatkan. Kemudian, aparat diminta lebih tegas melarang masyarakat menerobos,” ungkapnya.

Diakui Sutopo, harusnya tak ada aktivitas masyarakat pada radius tersebut. Tapi masyarakat kerap nekat mengelolah kebunnya. Alasan ekonomi faktor utama yang menyebabkan masyarakat Desa Gamber tetap nekat melanggar larangan masuk ke desanya.

Sejak Oktiober 2014, Desa Gamber sendiri sudah direkomendasikan sebagai daerah berbahaya. Warga pun wajib direlokasi ke tempat yang lebih aman. Mereka pun ditempatkan di hunian sementara sambil menunggu relokasi. Biaya hunian ini ditanggung oleh BNPB.

Satiap satu kepala rumah tangga diberikan dana sebesar Rp 3,6 juta/KK/tahun. Selain itu, dikucurkan pula dana sebesar Rp 2 juta/KK/tahun untuk sewa lahan pertanian.

Tercatat, ada 1.683 KK (4.967 jiwa) warga 4 desa Desa Gamber, Kuta Tonggal, Gurukinayan, dan Berastepu yang kini tengah menunggu relokasi tahap dua.

Total bantuan dana siap pakai yang telah diberikan BNPB untuk penanganan erupsi Sinabung, sejak September 2013, mencapai lebih dari Rp 360 miliar.

”Saat ini proses relokasi masih dilakukan. Adanya keterbatasan lahan menyebabkan relokasi tidak dapat dilakukan secara cepat,” ungkap pria asli Boyolali, Jawa Tengah, itu. (mia/jpgrup)

Respon Anda?

komentar