Telan Anggaran Rp 300 M, Delapan Tahun Pelabuhan Malarko Tak Beres-Beres

569
Pesona Indonesia
Pelabuhan Malarko yang dikerjakan sejak tahun 2008 tak kunjung beres. foto:tri haryono/batampos
Pelabuhan Malarko yang dikerjakan sejak tahun 2008 tak kunjung beres. foto:tri haryono/batampos

batampos.co.id – Sejak dibangunnya Pelabuhan Malarko tahun 2008 silam yang dibiayai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), dana terus dikucurkan setiap tahunnya. Pelabuhan Malarko yang terletak di Desa Pongkar, Kecamatan Tebing, itu direncanakan untuk pelabuhan kargo yang menghadap langsung jalur lalulintas international. Namun, kini pengerjaannya tidak kunjung selesai.

”Pelabuhan Malarko belum apa-apa. Saya berharap kepada Pemerintah Pusat agar segera di selesaikan pelabuhan tersebut yang membutuhkan anggaran mencapai Rp 300 miliar lebih untuk pelabuhan saja,” kata Bupati Karimun, Aunur Rafiq, Minggu (22/5).

Dalam pertemuan Musyawarah Rencana Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) di Badan Pembangunan Nasional (Bapenas) RI di Jakarta belum lama ini, Bupati juga sempat menyampaikan nasib Pelabuhan Malarko soal kelanjutannya. Mengingat, kondisi pelabuhan tersebut saat ini cukup memprihatinkan. Hampir seluruh tiang pancang yang terpasang sudah keropos, besi berukuran sekitar 12 meter dan berdiameter sekitar 60 cm dan tebal 12 mm sudah berkarat.

”Sebab, Pemda Karimun selama ini tidak pernah dilibatkan. Itu dikerjakan oleh orang pusat melalui Kementerian Perhubungan Laut. Progresnya, sejauh mana pun kita tidak pernah diinformasikan,” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan Kepala Dinas Perhubungan Karimun, H Aryandi bahwa pihaknya terus berupaya agar segera menyelesaikan pengerjaan Pelabuhan Malarko. Mengingat, potensi yang ada di pelabuhan tersebut apabila sudah selesai sangat menguntungkan buat pemerintah daerah.

”Minimal tiga tahun kedepan sudah selesailah pengerjaannya. Dan langsung dapat dioperasikan, sehingga secara otomatis berdampak kepada Pemda Karimun maupun masyarakat setempat dalam peningkatkan ekonomi,” paparnya.

Pantauan di lapangan, kondisi Pelabuhan Malarko kini cukup memprihatinkan. Terbengkalai begitu saja, tidak ada penyambungan antara laut dan darat. Dimana sebelumnya ada beberapa kontraktor yang pernah menerima proyek Pelabuhan Malarko antara lain PT Putri Salju Satria pada tahun 2011, bidang pengerjaan faspel laut dan reklamasi laut dengan nilai pagu anggaran sekitar Rp 69 miliar.

Sedangkan, Pemda Karimun hanya melakukan pembebasan lahan untuk akses jalan seluas 1,6 hektare senilai Rp 200 Juta. Kemudian dilanjutkan pada tahun 2012 oleh PT Tussens Krida Utama dengan nilai kontrak sebesar Rp 48, 9 miliar dengan bidang pengerjaan upper trestle seluas 162 x 9 meter dan talud kosong dengan luas 123 meter dan tinggi 5 meter. (tri/bpos)

Respon Anda?

komentar