Terpilih Jadi Presiden Filipina, Rodrigo Duterte Lolos dari Kasus “Petrus”

1159
Pesona Indonesia
Durtete, Presiden Filipina Terpilih. Foto: istimewa
Rodrigo Durtete, Presiden Filipina Terpilih. Foto: istimewa

batampos.co.id – Rodrigo Duterte mulai menunjukkan pengaruhnya. Pemenang pemilihan presiden Filipina itu, Minggu (22/5/20167) resmi lolos dari kemungkinan jeratan hukum atas kasus pemberantasan ala koboi dengan tersangka Davao Death Squads (DDS).

Departemen Kehakiman Filipina memutuskan menghentikan penyelidikan kasus ala petrus (penembakan misterius) di Indonesia tersebut. Keputusan itu diambil setelah saksi mata ketakutan.

Alih-alih memberikan kesaksian, si saksi mata satu-satunya tersebut malah melarikan diri. Bukan dari rumahnya, dia melarikan diri dari program perlindungan yang diberikan oleh pemerintah.

”Kecuali orang tersebut muncul, sangat sulit melakukan apa pun terkait dengan kasus ini,” ujar Plt Menteri Kehakiman Filipina Emmanuel Caparas.

Karena itulah menurut dia, penyelidikan tidak bisa dilakukan lagi. Meski kisah tentang kesadisan DDS tersebut tersebar di masyarakat, pemerintah sulit mendapatkan saksi mata. Sebab, tidak ada yang mau disumpah untuk memberikan kesaksian, kecuali orang yang melarikan diri tadi.

Si saksi mata yang tidak disebutkan namanya tersebut pantas merasa ketakutan. Sebab, kasus itu terkait langsung dengan Duterte.

DDS adalah kelompok yang main hakim sendiri di Davao. Kelompok tersebut membunuh orang-orang yang melakukan kejahatan-kejahatan ringan hingga mereka yang terlibat dalam narkoba.

Jumlah korban jiwa DDS pada 1998–2015 mencapai 1.424 orang. Duterte yang pernah menjabat wali kota dan wakil wali kota Davao sejak 1988 dituding sebagai dalang di balik pembentukan DDS tersebut.

Duterte selama ini memang terkenal dengan pernyataan-pernyataannya untuk membasmi penjahat. Bahkan, saat kampanye pilpres lalu, jika terpilih Duterte berjanji membunuh 100 ribu kriminal dan membuang mereka di Manila Bay. Janjinya untuk menumpas para penjahat itulah yang membuatnya menuai banyak dukungan dan mengantarkannya ke kursi

”Dari semua indikasi, keputusan saksi mata untuk melarikan diri dari program perlindungan dipastikan karena reaksinya atas kemenangan Duterte,” ujar mantan Menteri Kehakiman Leila de Lima.

Dia menjelaskan bahwa si saksi mata sudah ketakutan bahkan sejak pemilu baru berlangsung. Dia khawatir Duterte menang. Saat De Lima mengundurkan diri untuk mencalonkan diri sebagai senator pada Oktober lalu, saksi mata itu sudah meminta keluar dari program perlindungan saksi. Namun, permintaan tersebut tidak dikabulkan.

Penghentian kasus itu memicu kritik dari berbagai lembaga HAM. Pengamat HAM yang berbasis di New York, Amerika Serikat (AS), meminta pemerintah agar membuka kembali penyelidikan kasus tersebut agar orang yang bertanggung jawab mendapat hukuman atas perbuatannya.

”Keputusan (menghentikan kasus) ini mengirimkan pesan menakutkan bahwa mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan ini tidak perlu takut dihukum atas kejahatan mengerikan yang mereka lakukan,” kata Wakil Direktur Pengamat HAM untuk wilayah Asia Phelim Kine. (AFP/The Inquirer/sha/c20/kim)

Respon Anda?

komentar