Harga Sagu di Lingga Anjlok, Petani Menjerit

974
Pesona Indonesia
Proses produksi sagu di Lingga. Foto: dok. batampos
Proses produksi sagu di Lingga. Foto: dok. batampos

batampos.co.id – Petani sagu di Lingga menjerit karena harga sagu terus merosok hingga mencapai level rendah, Rp 1.100 perkilogramnya, dari sebelumnya Rp 1.600.

Namun mau tidak mau, warga diĀ  Budus, Panggak Laut, Nerekeh, Musai, Keton, Pekaka, Kerandin, Kudung, Teluk, Senempak, dan Tanjung Bungsu, tetap mengolah sari pati sagu ini karena sumber utama perekonomian masyarakat di daerah tersebut.

“Kita cuma mampu produksi sagu kotor. Perkilonya sekarang turun Rp 1.100. Jauh sekali dibanding harga beras yang kini sepuluh kali lipat. 1 Ton sagu cuma Rp 1.100.000,” ujar Haidir, petani sagu di Panggak Laut, Kecamatan Lingga, Selasa (24/5/2016).

Meski Lingga menjadi komuditi sagu yang cukup besar, namun seluruh masyarakat mengkonsumsi beras. Hasil sagu yang diolah, seluruhnya dikirim keluar daerah seperti Meranti, Selat Panjang, Palembang, Jambi, Jakarta, dan Surabaya.

Namun begitu, pekerjaan utama warga ini yang diperkirakan menghidupi 3.000 warga kabupaten Lingga belum dapat memberikan nilai ekonomis yang baik. Setiap tahunnya, harga sagu terus merosot.

Hampir seluruh masyarakat Lingga memproduksi sagu perorangan. Melalui industri-industri rumah tangga dengan alat pengolahan tradisional.

“Turunnya sagu kotor ini tidak sebanding dengan biaya produksi. 1 hari menghabiskan 5 liter solar. Harganya mau Rp 38 ribu. Satu bulan hitunglah, cukup besar beban kita,” tambahnya.

Warga petani sagu berharap, komiditi dan pekerjaan masyarakat ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Mencarikan solusi menaikkan taraf hidup ribuan petani sagu Lingga dengan harga pasar sagu yang lebih baik. (mhb)

Respon Anda?

komentar