KSAU Singapura Bertemu Panglima TNI

1325
Pesona Indonesia
Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menerima kunjungan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Singapura BG Mervyn Tan Wei Ming, Senin (23/5) di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur. FOTO: Puspen TNI for JPGRUP
Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menerima kunjungan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Singapura BG Mervyn Tan Wei Ming, Senin (23/5) di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur. FOTO: Puspen TNI for JPGRUP

batampos.co.id – Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Singapura yang baru, Brigadir Jenderal Mervyn Tan Wei Ming, menemui Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Senin (23/5) di Ruang Tamu Panglima TNI, Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur.

Kehadiran Tan selain memperkenalkan diri sebagai kepala staf baru Angkatan Udara Singapura menggantikan Mayor Jenderal Hoo Cher Mou pada 28 Maret 2016 lalu, juga membicarakan kembali kelanjutan kerjasama pendidikan, dan peluang latihan bersama.

Kepala Bidang Penerangan Umum Puspen TNI, Kolonel Czi Berlin G dalam siaran persnya, menjelaskan saat menerima kunjungan KSAU Singapura, Panglima TNI didampingi KSAU, Asintel Panglima TNI, Kabais TNI, Kapuspen TNI, Aspam KSAU, Kapuskersin TNI dan Athan RI untuk Singapura,

Sementara itu, KSAU Singapura didampingi Kepala Litbang Komando Tempur Udara Col Low Say Sim, Perwira Perencana Udara SLTC Lim Kok Hong, Kepala Hubungan Udara 2 Departemen Intelijen Udara LTC Davies Lee Kim Guan, Athan Singapura untuk RI Col Lam Chee Young.

Singapura memang tak bisa melepaskan diri dari Indonesia karena hingga saat ini, Singapura masih menguasai wilayah udara Indonesia sejak tahun 1946.

Flight Information Region (FIR) di wilayah Kepulauan Riau mencakup Batam, Tanjungpinang, dan Natuna berada dalam kendali Singapura. Jika pesawat hendak melintas di wilayah tersebut, selain harus meminta izin kepada ATC Indonesia, diwajibkan untuk meminta clearance kepada negeri seribu satu larangan tersebut.

Luas penguasaan Singapura atas wilayah udara Indonesia mencapai 100 nautical mile. Itu artinya Singapura memegang kendali lalu lintas udara Indonesia sekitar 200 km dari garis batas kedua negara. Kontrol udara Singapura itu bahkan hampir nyaris masuk ke wilayah Pangkalpinang, Bangka Belitung.

Bukan hanya sekedar mengatur lalu lintas udara, mandat ICAO itu juga membuat Singapura berhak memungut fee dari seluruh maskapai yang melintasi FIR, termasuk maskapai negara selain Indonesia.

Tarifnya dalam dolar Amerika dan besarnya berbeda-beda tergantung jenis dan kapasitas pesawat. Namun fee itu juga harus dibagi kepada pemerintah Indonesia.

Banyaknya pesawat yang melalui wilayah tersebut, termasuk maskapai Malaysia, bisa membuat fee yang diterima Indonesia sangat besar andai tidak dibagi dengan Singapura. Namun penguasaan ruang udara negara oleh negara lain menjadi keprihatinan karena seolah-olah untuk masuk ke rumah sendiri, Indonesia harus izin kepada tetangga.

Pengaturan mengenai kontrol udara Indonesia oleh Singapura memang sudah diperbaharui beberapa kali sejak 1946. Ini juga merujuk pada perjanjian pendelegasian FIR kepada Singapura pada tahun 1995 dan diperpanjang lagi pada 2013. Itu diatur melalui Keppres No.7/1996.

Pertemuan antara Indonesia dengan Singapura terkait pengembalian FIR wilayah Batam dan Kepri sempat dilakukan. Kesepakatannya adalah sesuai UU No.1 tahun 2009, pengembalian otoritas pengelolaan udara tersebut dikembalikan paling lambat 15 tahun sejak UU itu diberlakukan atau tahun 2024.

Namun berbagai upaya dilakukan Indonesia agar wilayah udara Indonesia itu secepatnya kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

Namun pertemuan antara KSAU Singapura dan Panglima TNI itu tidak membahas wilayah udara Indonesia yang masih dikuasai Singapura. Keduanya hanya membahas pendidikan dan peluang kerjasama latihan. (fri/jpnn/dtc/nur)

Respon Anda?

komentar