Polisi Jujur Ini Sudah 13 Tahun Nyambi Jadi Pemulung

1416
Pesona Indonesia
Personel Satlantas Polresta Malang, Bripka Seladi. Foto: Desyinta Nuraini/JawaPos.com
Personel Satlantas Polresta Malang, Bripka Seladi. Foto: Desyinta Nuraini/JawaPos.com

batampos.co.id – Setelah Jenderal Hoegeng Iman Santoso (Kapolri era 1968-1971) yang sangat terkenal dengan kejujuran dan kesederhanaanya, jarang kita mendengar ada polisi seperti dia.

Namun, publik Indonesia dikejutkan dengan sosok Brigadir Kepala (Bripka) Seladi, petugas administrasi di Satuan Lalu Lintas Polresta Malang, Jawa Timur. Ia tidak pernah mau menerima sogokan. Ia bahkan rela nyambi jadi pemulung demi untuk mencari uang halal guna menutupi kebutuhan hidupnya dan keluarganya.

Selain halal, memulung sampah terbilang mudah ketimbang profesi sampingan lainnya di tengah kesibukan sebagai aparat negara.

“Lebih nikmat menjadi pemulung daripada lainnya. Mudah, gampang, seperti toko emas, ada, diambil, dijual, laku,” ucap Seladi saat menceritakan kisahnya di hadapan Ketua DPR Ade Komarudin di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (23/5/2016).

Seladi mengatakan, sebetulnya ia sudah lama memulung. Bermula pada 2004 lalu ketika ia terjepit masalah biaya untuk menghidupi keluarganya. Muncul dibenaknya untuk mengumpulkan sampah

Ketika itu, ia membersihkan lingkungan di sekitar Polresta Malang usai piket malam. Sampah-sampah itu dibawa pulang dan dipilah. Ada sampah plastik, kertas, dan duplek.

Satu bulan lebih, ia berhasil mendapatkan uang sekitar Rp 400 ribu. Istri yang semula marah dengan langkahnya mengumpulkan sampah-sampah itu akhirnya tersenyum ketika menerima uang tersebut. Istrinya pun mendukung namun meminta agar sampah-sampah itu tidak dikumpulkan di rumah.

Sejak 13 tahun memulung pun Seladi mengaku tidak mempengaruhi kinerjanya sebagai aparat kepolisian di Polresta Malang. Ia mampu membagi waktu menjadi polisi dan memulung.

“Dinas malam, kalau tidak ada panggilan, saya cari sampai malam kemudian saya bawa pulang,” sambungnya.

Selama 13 tahun memulung itu, selain atasan dan rekan-rekannya di Polresta Malang, tidak ada yang tau dirinya seorang polisi. Bahkan, ia mengaku ada yang mengasihaninya dengan memeberikan tempat untuk menaruh sampah yang berhasil dikumpulkannya.

“Orang-orang ga ada yang tau saya polisi, sama-sama pemulung. Ada yang kasian sama saya, dia bilang silahkan pake ada rumah kosong,” ulasnya.

Ade Komarudin yang mengetahui kisah Seladi itu menitikkan air mata. Ia mengungkapkan, meminjam statement dari Presiden kelima, Abdurahman Wahid (Gus Dur), bahwa polisi jujur itu hanya ada tiga: patung polisi, polisi tidur, dan Jenderal Hoegeng Iman Santoso.

Kini figur Hoegeng Iman Santoso itu muncul di sosok Bripka Seladi. Hanya saja bedanya, Hoegeng seorang perwira polisi tertinggi di eranya, sedangkan Bripka Seladi hanyalah seorang prajurit Polisi di level bintara senior. Namun kesederhanaanya hampir sama.

Dengan hadirnya Bripka Seladi, politisi Partai Golkar ini menyebutkan, jumlah polisi jujur bertambah jadi empat, yakni Bripka Seladi.

“Hari ini tambah satu lagi nanti akan tambah lagi,” sebutnya di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (23/5/2016).

Dia berharap akan muncul lagi Seladi-Seladi berikutnya di tanah air. Tidak hanya berasal dari kalangan kepolisian, tapi di seluruh sektor aparatur negara.

Lebih menarik lagi, imbuh Akom, sapaan sang Ketua DPR RI itu, Bripka Seladi telah lebih dahulu mengajarkan cara melakukan revolusi mental kepada seluruh masyarakat Indonesia, sebagaimana yang menjadi nawacita Presiden Joko Widodo (Jokowi). (dna/iil/JPG)

Respon Anda?

komentar