5 Bulan, 31 Perusahaan Tutup di Batam

14164
Pesona Indonesia
Suasana galangan kapal di Batuampar yang padat, Jumat (15/4). Pengusaha Shipyard di Batam berharap penerapan KEK tak akan berdampak negatif bagi industri tersebut. F.Rezza Herdiyanto untuk Batam Pos
Industri galangan kapal masih menjadi salah satu andalan di Batam, meski ada beberapa perushaan subkon yang tutup. Foto:Rezza Herdiyanto untuk Batam Pos

batampos.co.id – Jumlah perusahaan menutup usahanya di Batam terus bertambah. Sepanjang Januari-Mei 2016 saja tercatat ada 31 perusahaan yang tak beroperasi lagi. Sedikitnya ada 228 orang kehilangan pekerjaan akibat tutupnya ke-31 perusahaan itu.

“Jumlah ini yang terdaftar di Dinas Ketenagakerjaan Kota Batam hingga Mei 2016,” kata Sekretaris Komisi IV DPRD Batam, Udin P. Sihaloho, Selasa (24/5/2016).

Udin mengatakan, sekitar 228 karyawan yang terdampak tutupnya 31 perusahaan itu terdiri dari 190 pria dan 37 wanita. Mereka merupakan pekerja lokal dan asing.

Penyebab tutupnya perusahaan tersebut juga beragam. Mulai konflik internal, habis masa kontrak, tidak ada pekerjaan atau proyek, hingga karena tidak mendapatkan izin kuota impor dari Badan Pengusahaan (BP) Batam.

Dari data yang masuk ke Komisi IV DPRD tersebut diketahui, pada Januari 2016 ada enam perusahaan yang tutup. Disusul enam perusahaan lainnya di bulan Februari dan tujuh perusahaan di bulan Maret.

Selanjutnya, di bulan April, ada tujuh perusahaan yang gulung tikar. Kemudian pada Mei ini ada lima perusahaan yang tutup.

Bidang usaha dari perusahaan yang tutup itu bermacam-macam. Mulai dari jasa konstruksi perkapalan, kontraktor, dan jasa kepengurusan transportasi.

Ada juga di bidang restoran, perdagangan, subkon perkapalan dan programan komputer, perdagangan bahan bakar minyak, distributor rokok, jasa pelaksana kontruksi, dan sebagainya.

Menurut Udin, kian bertambahnya perusahaan di Batam yang tutup tidak terlepas dari buruknya pelayanan Pemerintah Kota (Pemko) Batam dan BP Batam.

Untuk itu dia berharap kedua lembaga itu terus meningkatkan sinergisitas untuk meningkatkan kenyamanan para investor. Selain itu perlu juga komunikasi antara pemerintah dan pengusaha, khususnya setiap kali membahas Upah Minimum Kota (UMK) Batam.

“Kepada serikat pekerja kita juga mengharapkan untuk memberikan bimbingan kepada para anggotanya. Jangan sedikit-sedikit pembahasan UMK dibarengi dengan aksi demo yang kadang kala berakhir anarkis, sehingga menyebabkan suasana yang tidak kondusif, dampaknya tentu saja banyak perusahaan yang tutup,” tegas Udin.

Selain itu, politikus PDI Perjuangan itu juga meminta agar BP Batam membangun lahan tidur, sehingga bisa menyerap tenaga kerja, khususnya buruh bangunan. “Ini menjadi masalah kita bersama. Intinya perlu komunikasi baik antara pekerja, pengusaha, BP Batam dan Pemko Batam,” imbuhnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batam, Zarefriadi mengakui ketersediaan lapangan pekerjaan di Batam semakin minim. Hal itu menyebabkan jumlah pengangguran yang kian meningkat.

“Jumlah lapangan pekerjaan semakin kecil dan itu sudah lama terjadi, bukan baru-baru ini saja,” kata Zaref.

Menurut Zaref, melemahnya ekonomi global menjadi salah satu penyebab banyaknya perusahaan yang hengkang dan berkurangnya jumlah lapangan pekerjaan. Banyaknya perusahaan yang tutup ini juga memicu kian bertambahnya angka pengangguran.

“Apalagi setiap tahun jumlah warga Batam terus meningkat,” kata Zaref. (rng/she/bp)

Respon Anda?

komentar