Handicraft Buatan Penyandang Disabilitas Diminati Turis

637
Pesona Indonesia
Hamzah sedang memberikan motivasi kepada penyandang disabilitas lainnya di Kabupaten Bintan dalam acara yang ditaja Dinsos Bintan, di Hotel Sahid Bintan, Kecamatan Gunung Kijang, kemarin. foto:harry/batampos
Hamzah sedang memberikan motivasi kepada penyandang disabilitas lainnya di Kabupaten Bintan dalam acara yang ditaja Dinsos Bintan, di Hotel Sahid Bintan, Kecamatan Gunung Kijang, kemarin. foto:harry/batampos

batampos.co.id – Semua insan yang hidup di bumi ini pastinya memiliki suatu kekurangan. Namun janganlah kekurangan itu dijadikan suatu hambatan dalam menjalani hidup. Seperti warga Kecamatan Toapaya ini, walaupun memiliki keterbatasan fisik ┬átapi tak membuatnya berhenti berkarya.

Hamzah merupakan salah satu warga Kabupaten Bintan penyandang cacat atau disabilitas. Selama 41 tahun ia harus bertahan hidup di kursi roda karena penyakit yang diderita telah menggorogoti tubuhnya hingga membuat sepasang kakinya lumpuh. Namun kekurangan yang dialaminya tak membuat ia berkeluh kesah dan pasrah ataupun menyalahkan takdir yang diberikan sang illahi. Melainkan membuatnya semangat untuk merubah kekurangan menjadi sebuah kelebihan dan keberuntungan.

Perubahan yang dilakukan ayah dua anak ini dengan cara bergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (Kube) khusus disabilitas yang dinaungi oleh Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bintan. Selama menjadi anggota Kube membuat Hamzah banyak melahirkan sebuah inovasi-inovasi yang memiliki nilai jual tinggi. Salah satu hasil karya ciptaannya yaitu menyulap bahan-bahan limbah menjadi sebuah sovenir.

“Dalam Kube itu beranggotakan 30 orang penyandang disabilitas. Banyak kegiatan yang dikerjakan setiap anggota. Namun saya memilih mengembangkan produk handicraft dari bahan limbah. Karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi,” katanya.

Bahan limbah dari produk kemasan yang sudah habis dipakai seperti botol plastik bekas, bungkus kopi, kaleng minuman dan barang lain yang tak terpakai diraciknya menjadi barang berguna. Diantaranya tas belanja, dompet, tempat tisu, keranjang, asbak, serta barang lainnya. Kemudian bahan limbah dari mebel diracik menjadi sebuah replika kapal, mobil, motor, pesawat, rumah serta alat-alat tradisonal nelayan.

Handicraft karyanya ini tidak sekedar menghiasi pasar trdisional dan swalayan yang ada di Kabupaten Bintan dan Kota Tanjungpinang tetapi tembus hingga ke pasar internasional. Seperti di Kawasan Pariwisata Nikoi Island Resort, kawasan ini menjadi lokasi pangsa pasarnya dalam menjajahkan handycraft kepada wisatawan mancanegara yang datang untuk menikmati liburan. Bahkan Nikoi menjadikan handicraft buatannya sebagai salah satu sovenir andalan utama yang unik bagi pengunjungnya.

“Saya juga dibantu keluarga untuk merubah limbah produk menjadi handicraft. Banyak jenis barang yang kita hasilkan. Dari hasil karya yang kita buat dipasarkan oleh Nikoi Island Resort untuk dijadikan souvenir bagi wisatawan yang datang,” akunya.

Handicraft buatannya ini diberi nama Disability Craft. Ia sengaja memberi label itu sebagai bentuk penghargaan kepada penyandang disabiliti lainnya. Juga sebagai pembuktian serta rasa bangga bahwa penyandang disabilitas bisa menciptakan sebuah karya seperti masyarakat umumnya.

Ia mengaku sangat berterimakasih dengan kepedulian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bintan yang menyediakan wadah untuk penyandang disabilitas berkarya. Namun ada sedikit harapan yang ingin disampaikannya kepada Bupati dan Wakilnya yang saat ini memimpin Kabupaten Bintan agar memberikan akses pemasaran. Karena dengan tersedianya akses pemasaran, handicraft buatan penyandang disabilitas memiliki jangkauan luas untuk dipasarkan.

“Penyandang disabilitas pastinya bangga memiliki hasil karya yang diakui orang banyak apalagi wisatawan. Namun jika hasil karya itu bisa dipasrakan secara luas, bukan hanya kebanggaan yang didapat tetapi juga membantu meningkatkan kesejahteraan bagi penyandang disabilitas,” harapnya.

Kepala Dinsos Kabupaten Bintan, Ismail mengatakan akan mengupayakan tersedianya akses pemasaran untuk menjajahkan hasil karya dari penyandang disabilitas. Karena meningkatkan kesejahteraan kalangan disabilitas dari kewirausahawan menjadi komitmen utamanya.

“Hal yang sangat membanggakan bahwa produk handicraft dari kalangan disabilitas mampu menembus pasar asing. Kedepannya kita akan koordinasikan dengan instansi terkait serta pelaku usaha agar jangkauan pemasaran handicraft disabilitas ini lebih luas,” ungkapnya. (ary/bpos)

Respon Anda?

komentar