Begini Teknis Hukuman Kebiri Kimia Bagi Penjahat Kelamin

1572
Pesona Indonesia
Kebiri fisik seperti yang diterapkan di Republik Ceko dan Jerman; saluran sperma dari testis dipotong. Sedangkan di Indonesia cara kimia dengan menyuntikkan zat kimia ke saluran testis hingga mematikan sel kelamin. Grafis: istimewa
Kebiri fisik seperti yang diterapkan di Republik Ceko dan Jerman; saluran sperma dari testis dipotong. Sedangkan di Indonesia cara kimia dengan menyuntikkan zat kimia ke saluran testis hingga mematikan sel kelamin pemerkosa. Grafis: istimewa

batampos.co.id – Perppu nomor 1 tahun 2016 yang mengatur tentang hukuman kebiri bagi pemerkosa anak di bawah umur sudah diteken Jokowi dan mulai berlaku sejak Perppu tersebut diteken.

Lalu bagaimana teknis kebiri secara kimia itu?

Menurut Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkum HAM) Yasonna Laoly, cara mengebiri manusia atau pelaku perkosaan anak, berbeda dengan mengebiri binatang semisal anjing.

Anjing dikebiri dengan dua cara. Pertama yaitu kastrasi tertutup atau pengebirian dengan cara mengikat saluran yang menuju testes, sehingga sel-sel jantan mati.

Kedua, kastrasi terbuka. Melalui cara ini, anjing dikebiri dengan melakukan pembedahan untuk mengeluarkan testes anjing, yang kemudian dipotong.

Sedangkan kebiri pada manusia atau pemerkosa anak, dilakukan dengan cara menyuntikkan bahan kimia di bagian kelamin.

“Penyuntikan ini berefek pada matinya sel kelamin manusia,” kata Yasonna.

Deputi 6 Kesra Kemenko Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan, Sujatmiko, membenarkan hal itu.

“Teknik penyuntikan, caranya, siapa yang menyuntik, suntikannya apa, itu Kementerian Kesehatan akan mengeluarkan PP,” ujarnya.

Baca Juga:
> Kategori Penjahat Kelamin yang Bisa Dikebiri
> Presiden Jokowi Teken Perppu Kebiri dan Hukuman Mati Pelaku Kejahatan Seksual terhadap Anak

Menurut Sujatmiko, Perppu Kebiri yang ditandantangani Presiden Jokowi merupakan hasil revisi kedua atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Dia mengatakan, ada dua pasal yang diubah. Yakni, pasal 81 dan 82. “Pasal 81 tentang kekerasan seksual, sedangkan pasal 82 tentang pencabulan,” terang dia, Kamis (25/5/2016)

Pada pasal 81 disebutkan, pemberatan hukuman berupa penambahan sepertiga dari ancaman hukuman hanya berlaku bagi orang tertentu.

Yakni, orang tua, wali, kerabat, pengasuh, pendidik, tenaga kependidikan, aparat yang menangani perlindungan anak, dan pelaku yang lebih dari satu. Penambahan itu juga berlaku bila pelakunya residivis kasus pemerkosaan anak-anak.

Kemudian, hukuman mati, seumur hidup, atau maksimal 20 tahun berlaku apabila kondisi korban parah setelah diperkosa. Misalnya, luka berat, terkena gangguan jiwa atau penyakit menular, mengalami gangguan fungsi reproduksi, atau meninggal dunia.

Hukuman itu juga berlaku apabila korban lebih dari satu. Kemudian, ada tiga jenis hukuman tambahan yang bisa dipilih hakim. Yakni, pengumuman identitas pelaku, kebiri kimia, dan pemasangan alat pendeteksi elektronik.

Namun, kebiri kimia hanya diberlakukan untuk pemerkosa. Untuk pelaku pencabulan anak, pilihannya diganti rehabilitasi. Pelaku pencabulan juga tidak akan mendapatkan hukuman mati atau seumur hidup. Melainkan, penambahan sepertiga dari ancaman hukuman maksimal.

Hukuman tambahan berupa kebiri kimia dan alat pendeteksi elektronik diberikan dalam waktu yang terbatas, yakni dua tahun. Selain itu, hukuman tersebut baru diberikan setelah pelaku menjalani hukuman pokok.

“Jadi, setelah pelaku bebas, baru dikasih tambahan. Masih ada waktu panjang untuk menyiapkan itu,” lanjut Sujatmiko.(byu/gun/lum/idr/mia/c10/sof/pojoksatu/jpg)

Respon Anda?

komentar