Mall Baru Muncul, Jangan Telantarkan UMKM Ya!

Tanjungpinang City Centre yang berada di kawasan D Green Batu 8 Tanjungpinang yang grand opening hari ini. foto:yusnadi/batampos
Tanjungpinang City Centre yang berada di kawasan D Green Batu 8 Tanjungpinang yang grand opening hari ini. foto:yusnadi/batampos

batampos.co.id – Segala kebijakan dan keputusan yang diambil guna memajukan sektor ekonomi punya dua sisi yang tak dapat terpisahkan satu sama lain. Semisal pembukaan mal besar di Kota Tanjungpinang hari ini. Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kepri, Rudy Chua juga menandai hal tersebut. Tak disangkalnya, keberadaan pusat perbelanjaan baru di kawasan ibu kota secara langsung akan membuka lapangan kerja, mengerek peningkatan ekonomi, dan juga memberikan dampak di sektor pariwisata.

“Tapi jangan dilupa, selalu ada sisi lain yang kemudian harus dipikirkan bersama-sama. Nasib UMKM, misalnya,” kata Rudy, Rabu (25/5).

Beberapa waktu lalu, Rudy mengaku jadi tempat keluh-kesah sejumlah pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang ada di Kota Tanjungpinang. Kepada politisi Partai Hanura itu, mereka mengkhawatirkan keberadaan mal bakal berpengaruh kepada aktivitas bisnis kecil yang mereka geluti dan sudah jadi sandaran utama kepul asap dapur mereka.

Menurut Rudy, keluhan semacam ini sah-sah saja. “Karena mal ini akan dibuka jelang bulan puasa, yang mana saat-saat begini adalah momentum bagi pelaku usaha kecil menjual barang dagangannya,” ungkap Rudy.

Kelesuan sudah pasti tak terhindarkan. Karena dalam pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari, masyarakat bakal lebih tertarik menghabiskan uangnya berbelanja di sana. Ada euforia, yang kata Rudy, bisa menjangkit masyarakat Tanjungpinang dalam waktu yang tak sebentar.

“Biasanya bisa sampai tiga bulan lho orang-orang berbondong ke sana. Bayangkan, selama itu pula kelesuan terjadi di sektor bisnis ritel dan UMKM di Tanjungpinang,” kata Rudy.

Kondisi ini yang menurut Rudy mesti dipikirkan bersama jajaran Pemerintah Provinsi Kepri agar bisnis sektor UMKM tidak lesu dan malah tidak menutup kemungkinan bisa kolaps. Karena nyaris bisa diasumsikan, perputaran uang bakal berporos di mal. Sehingga timbul pernyataan dari para pelaku usaha kelas menengah dan kecil bahwasanya kondisi mereka kini tinggal mengais recehan yang tercecer dan tidak terbawa ke mal.

Rudy menyebutkan, ketika hal ini disampaikan ke pihak Pemprov Kepri, mereka lekas menukas bahwasanya tidak ada anggaran yang bisa disalurkan guna perbantuan modal bagi UMKM yang ada. Lagi-lagi defisit Rp 800 miliar pada Anggaran Belanja dan Pendapatan Daerah (APBD) tahun 2015 jadi alasan. Di tahun ini, kata Rudy, memang tidak ada anggaran untuk perbantuan modal UMKM.

“Tapi kalau memang Pemprov Kepri memperhatikan hal ini, bisa diupayakan masuk pada pembahasan APBD Perubahan di bulam Juli atau Agustus nanti,” terang Rudy.

Perbantuan modal produksi, sambung Rudy, adalah jalan keluar yang pintas dan dirasa cukup membantu. Ketika penjualan barang mulai lesu, bukan berarti produksi terhenti. Itu yang membuat mereka tetap membutuhkan modal untuk memutar roda ekonominya.

Bila memang ada solusi lain yang sudah dipikirkan Pemprov Kepri tentu menjadi lebih baik. Apalagi di bawah kepemimpinan Gubernur Kepri Nurdin Basirun, yang kata Rudy, dikenal begitu proaktif dan dekat dengan rakyat.

“Intinya bagaimana pemerintah daerah bisa memberi keringanan agar pelaku UMKM ini tidak risau dengan keberadaan mal. Apalagi jelang lebaran yang tiba-tiba segala kebutuhan terasa tinggi,” pungkas Rudy. (aya/bpos)

Respon Anda?

komentar