Senarai Alasan Mengapa Anak Muda Tanjungpinang Harus Terampil Menulis

575
Pesona Indonesia
Nabila membacakan puisi. foto:fatih muftih/batampos
Nabila membacakan puisi. foto:fatih muftih/batampos

batampos.co.id – Terlahir di Tanjungpinang adalah sebuah keistimewaan. Bertahun-tahun lampau kota ini adalah taman para penyair; kota kata-kata.

Nyaris pada setiap acara, agak sungsang bila tidak dibuka dengan pantun. Meski kerap kali pantun yang digunakan jauh dari kata sempurna, tapi itu adalah semangat kata-kata. Semangat yang sebenarnya sudah hidup pada setiap detak nadi masyarakat Kota Tanjungpinang, sejak dahulu sekali.

Era kegemilangan literasi Tanjungpinang sudah hadir sejak era bahari. Emporium agung kesultanan Riau-Lingga adalah ibu yang melahirkan maestro kata-kata yang kemudian karyanya mendunia. Sebut saja yang paling kesohor, Gurindam Dua Belas gubahan Raja Ali Haji. Sebuah karya puisi lama yang kemudian menegaskan betapa karya sastra agung sudah tercipta sejak jauh-jauh hari.

Seperti laut, yang mengenal surut dan pasang. Pun gelombang kepenulisan di Tanjungpinang. Kejayaan masa lampau itu sudah berlalu. Tapi, bukan berarti mati dan tinggal jadi kenangan dalam kepala semata. Surut boleh saja ada. Tapi tidak dengan kering paripurna. Gelombang-gelombang kepenulisan itu tetap beriak.

Era Raja Ali Haji boleh jadi pancang yang mengkuhkan semangat literasi pada zamannya. Lalu waktu yang bergulir melahirkan penulis-penulis besar dengan karya-karya terbilang. Sempat pernah ada yang menyebutkan bahwa kemudian terjadi pola siklus 20 tahunan bagi Tanjungpinang dalam melahirkan generasi-generasi penulis.

Sebuah siklus yang seharusnya terasa begitu lama. Mengapa perlu dua dekade untuk menanamkan kuat-kuat akar kecintaan budaya literasi pada generasi-generasi setelahnya. Siklus yang oleh Rida K Liamsi, penulis sastra yang sangat produktif di era 1970-an hingga kini, mesti dipangkas. “Saya kira 20 tahun itu tak boleh lagi ada,” katanya dalam sebuah acara di Tanjungpinang, beberapa waktu lalu.

Kembali ke permasalahan semula; terlahir di Tanjungpinang bagi anak muda hari ini, seharusnya jadi keistimewaan tersendiri. Akar yang telah tertanam-tanam dalam, akan sukar tercerabut hingga ke permukaaan. Tapi bukan berarti tak mungkin. Sedini mungkin generasi muda Tanjungpinang mesti diajak mulai melek literasi.

Penulis yang bermastautin di Karimun, Irwanto menyatakan, keterampilan menulis bagi anak-anak muda Tanjungpinang adalah keharusan. Tradisi lisan yang selangkah lebih di depan, kata dia, mesti diikat. “Mengikat mimpi-mimpi besar anak-anak muda Melayu itu ya dengan tulisan,” ucapnya.

Kemudian Irwanto mengingatkan akan keberadaan Majalah Sempena yang pernah edar di Kepulauan Riau dekade 1970-an. Selain memuat berita-berita kota, majalah yang dikelola di Tanjungpinang itu juga merupakan laman publikasi karya-karya sastra, yang boleh dikata sebagai penulis atau penyair modern angkatan pertama di Kepri. Jangkauan edarannya yang hingga Tanjung Balai Karimun, Tanjung Batu Kundur, Moro, Tambelan, Tarempa, Midai, Ranai, hingga ke Sedanau membuat karya-karya sastra hari itu begitu dekat dengan generasi muda. Mereka berebut untuk menampilkan karya sastranya di sana.

“Tengoklah karya sastra itu sudah melintas macam lintang pukang keluar kampung masuk kampung,” kenang Irwanto.

Sehingga, ketika keharusan generasi muda kini mesti piawai menulis, menurut Irwanto bukan hal sulit atau mustahil. Diakui pula pendapat ini oleh penyair muda Tanjungpinang, Barozi Alaika. “Tapi harus mendekatkannya ke tangan mereka melalui pendekatan-pendekatan kekinian. Sosial media, misalnya,” ungkapnya. Karena, kata Barozi, sosial media adalah anasir paling dekat dengan generasi muda hari ini.

“Di abad ini, bukan tidak mungkin sebuah karya sastra yang ditulis anak muda bermula dari kegairahan mereka menulis di sosial media,” ucapnya.

Dosen ilmu budaya Melayu di STISIPOL Tanjungpinang, Rendra Setyadiharja menambahkan, keharusan anak muda hari ini mampu menulis lantaran embrio beberapa sastra Melayu lama telah berkembang pesat di masa lalu, hal ini kemudian mempengarhi kebudayaan baik di Riau sendiri dan daerh lainnya.

“Dengan embrio sastra itulah maka salah satu hasil yaitu Kitab Pengetahuan Bahasa menjadi rujukan awal sebagai kamus, dan kemudian menjadikan bahasa melayu ini sebagai biang Bahasa Indonesia,” bebernya.

Melanjutkan tradisi intelektual kesusastraan yang gemilang tersebut, sambung Rendra, generasi muda perlu banyak belajar dan menulis sastra. “Jika tidak maka hanya kegemilangan kejayayaan literasi sastra di zaman dahulu tinggal catatan sejarah saja,” ungkapnya.

Seorang pemerhati ebudayaan di Tanjungpinang, Adi Pranadipa menyebutnya sebagai langkah kelanjutan estafet kebudayaan. Kegemilangan yang pernah ada, kata dia, tidak boleh hilang begitu saja. “Memang sejarah tak mungkin terulang. Tapi, pola kegemilangannya bisa saja diulang,” ucapnya.

Generasi muda Tanjungpinang yang rajin menulis bukan hanya tentang pengulangan kegemilangan sejarah masa lampau saja. Sulaya, seorang pewarta muda di Tanjungpinang, mengatakan, menulis ditinjau dari sudut pandang apa pun adalah keterampuilan yang harus dipunya anak muda.

“Bahkan kalau perlu tidak hanya anak Tanjungpinang. Tapi seluruh generasi muda di Kepri ini,” kata jurnalis perempuan ini.

Lahir dan tumbuh besar di Tanjungpinang, bagi Sulaya, memang memberikan kebanggaan tersendiri buatnya, utamanya di jagat literasi. Semakin hari, Sulaya tetap memacu dirinya untuk mampu menulis lebih baik dari sebelumnya. Kegemilangan literasi masa lampau memang adalah pelecut. Tapi Sulaya punya alasan tersendiri di balik keinginannya untuk dapat menulis lebih baik berita-berita yang disajikannya.

“Yang banyak anak muda lupa adalah bahwa menulis itu menunjukkan isi kepala seseorang,” ungkapnya. Setiap orang memang bisa menulis, tapi tidak semua dapat menulis dengan baik. Kata Sulaya, dibutuhkan kematangan cara berpikir dan wawasan luas agar menulis itu bisa lancar dan bahkan jadi kegiatan yang menyenangkan.

Di sinilah titik pikirnya. Sudah seberapa menyenangkankah kegiatan menulis bagi anak muda Tanjungpinang? Apalagi ketika tidak ada lagi sokongan-sokongan stimulan dari pemerintah daerah? Ini tanggung jawab bersama agar kegemilangan tidak sekadar jadi kenangan dalam ingatan anak-cucu.(muf/bpos)

Respon Anda?

komentar